Kronik Ramadan

Perang Badar: Kemenangan Pertama Umat Islam

Oleh: Muhammad Iqbal - 31 Mei 2018
Dibaca Normal 3 menit
Kemenangan dalam Perang Badar adalah kemenangan pertama umat Islam. Dengan jumlah pasukan lebih sedikit, mereka berhasil mengalahkan pasukan Mekkah.
tirto.id - Perang Badar berlangsung pada 17 Ramadan tahun 2 Hijriyah atau bertepatan dengan 17 Maret 624 Masehi. Perang ini tercatat dalam sejarah Islam awal sebagai kemenangan besar pertama kaum Muslim dan melambungkan reputasi kota Madinah di kalangan suku-suku Badui di sekitarnya. Nabi Muhammad berhasil menunjukkan bahwa ia sanggup menantang monopoli kekuasaan Mekkah.

Badar, yang terletak antara Madinah dan Laut Merah, adalah tempat di mana sebuah wadi besar menghampar. Beberapa sumur digali di tepiannya, dan waduk-waduk dikeruk untuk menahan sisa banjir kilat musim dingin. Oleh karena itu, tempat ini menjadi wilayah persediaan air utama, terutama ketika kafilah-kafilah Mekkah berhenti di sana pada perjalanan pulang dari Damaskus.

Bahkan membayangkan penyergapan pada kafilah ini saja merupakan rencana yang terbilang berani. Menurut Lesley Hazleton dalam The First Muslim: The Story of Muhammad (2013), sampai saat itu, Muhammad tidak pernah mengirimkan kelompok penyergap lebih dari dua puluh atau tiga puluh orang, dan satu-satunya yang sukses, di Nakhla, berakhir dengan sangat kontroversial. Kebanyakan orang Madinah, terutama mereka yang memiliki ikatan keluarga dan bisnis dengan kota pedagang di selatan, tidak punya keinginan untuk memperburuk situasi lebih lanjut. Nakhla sudah cukup buruk. Melanjutkan peristiwa itu dengan tantangan sebesar ini akan berisiko memprovokasi Mekkah menuju perang terbuka (hlm. 211).

Namun, itulah risiko yang tampaknya diambil oleh Muhammad. Serangan kecil seperti yang terjadi di Nakhla membuatnya sekadar menjadi duri bagi Mekkah; serangan besar di Badar membuktikan dirinya bukan sebagai orang pengasingan yang tidak puas, tetapi sebagai musuh yang harus diperhitungkan.

Selain itu, serangan ini meningkatkan dukungan kepadanya di Madinah. Para pemuda Madinah bersemangat oleh kemungkinan menantang kota besar itu, terutama ketika potensi keuntungannya begitu besar.

Kemenangan yang Sangat Berarti

Karen Armstrong dalam Muhammad: Prophet for Our Time (2006), menelatah bahwa Muhammad memimpin sebuah kontingen besar kaum Mukmin untuk memotong jalan kafilah Mekkah pimpinan Abu Sufyan pulang dari Suriah. Ini merupakan salah satu kafilah terpenting pada tahun itu (624 M) dan, disemangati oleh kesuksesan Nakhlah, serombongan besar kaum Ansar menyediakan diri untuk bergabung dalam penyerangan itu. Sekitar 314 kaum Mukmin berangkat dari Madinah dan bergerak menuju Badar, dekat pantai Laut Merah, tempat mereka berharap dapat menyergap kafilah tadi (hlm. 147).

Pada awalnya, kafilah itu tampak seperti akan lolos, seperti biasanya. Abu Sufyan mendapat kabar ihwal rencana kaum Mukmin dan alih-alih mengambil rutenya yang biasa melintasi Hijaz, dia berkelok tajam menjauh dari pantai dan mengirim seorang dari suku setempat untuk pergi ke Mekkah mencari bantuan. Suku Quraisy menggelegak marah atas keberanian Muhammad, yang mereka anggap sebagai penodaan atas kehormatan mereka, dan seluruh pemimpin Mekkah bertekad untuk menyelamatkan kafilah itu.

Abu Jahal, tentu saja, amat bersemangat untuk ikut terjun. Ummayah ibn Khalaf yang bongsor pun mengambil baju perangnya, dan bahkan anggota keluarga Muhammad sendiri berangkat untuk melawannya, lantaran yakin bahwa kali ini Muhammad telah bertindak terlalu jauh. Abu Lahab sedang sakit, tetapi dua putra Abu Thalib, pamannya (‘Abbas), dan sepupu Khadijah (Hakim) bergabung dengan ribuan lelaki yang berangkat keluar dari Mekkah malam itu dan berbaris menuju Badar (hlm. 148).

Sementara itu, Abu Sufyan telah berhasil mengecoh kaum Mukmin dan membawa kafilahnya menjauh dari jangkauan mereka. Dia mengirim kabar bahwa barang dagangan mereka aman dan pasukan tentara harus kembali pulang. Sumber-sumber sejarah meneroka bahwa tatkala tiba di titik ini, banyak di antara kaum Quraisy yang enggan untuk memerangi sesama kerabat mereka sendiri.

Namun, Abu Jahal tidak mau peduli. “Demi Tuhan!” teriaknya. “Kita tidak akan kembali hingga kita telah tiba di Badar. Kita akan melewatkan tiga hari di sana, membantai unta-unta, dan berpesta juga meminum anggur; dan anak-anak perempuan akan tampil untuk kita. Orang-orang Arab akan mendengar bahwa kita telah datang dan akan menghormati kita di masa depan” (hlm. 149).

Akan tetapi, kata-kata yang lantang ini menunjukkan bahwa bahkan Abu Jahal sendiri tidak mengharapkan sebuah pertempuran. Dia tidak punya bayangan tentang kengerian perang, yang tampaknya dia bayangkan adalah semacam pesta, lengkap dengan perempuan-perempuan yang menari. Suku Quraisy telah begitu lama tercerabut dari padang stepa sehingga peperangan telah menjadi semacam olahraga yang akan melambungkan prestise Mekkah.

Spirit yang sangat berbeda terdapat di perkemahan kaum Mukmin. Setelah trauma dan teror hijrah, kaum Muhajirin tidak bisa mempertimbangkan situasi itu dengan terlalu percaya diri dan gegabah. Segera setelah Muhammad mendengar bahwa tentara Mekkah sedang mendekat, dia berkonsultasi kepada para kepala suku yang lain. Jumlah tentara Mukmin jauh lebih sedikit. Yang mereka harapkan adalah sebuah peperangan biasa, bukan pertempuran berskala penuh.

Muhammad al-Ghazali dalam Sejarah Perjalanan hidup Muhammad (2003), mendedahkan bahwa Suku Quraisy mulai bergerak maju dengan perlahan melintasi gurun pasir. Pada saat pasukan Mekkah tiba di Badar, Muhammad dan pasukannya sudah lebih dulu tiba di sana, menduduki medan yang lebih tinggi. Malam itu turun hujan terus-menerus. Hujan yang jarang terjadi, terutama pada pertengahan Maret.

Orang Mekkah mencangkung di tempat perlindungan, tetapi Muhammad menggunakan hujan sebagai pelindung. Dia diam-diam memerintahkan anak buahnya untuk memblokir sumur dan waduk yang terdekat dengan orang Mekkah, sehingga saat fajar mereka akan terpaksa bergerak ke dataran yang lebih tinggi di wadi, di mana orang-orang beriman telah menguasai posisi yang lebih menguntungkan. Dengan mengendalikan akses terhadap persediaan air, dia bisa mengendalikan seluruh medan (hlm. 287).

Infografik Kronik Perang Badar


Menurut Tariq Ramadan dalam bukunya, In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad (2007), Perang Badar dimulai dengan perang tanding satu lawan satu oleh Hamzah, Ali, dan Ubaydah ibn Harits melawan tiga orang Mekkah. Hamzah dan Ali berhasil mengalahkan lawan mereka, sementara Ubaydah terluka parah. Pertempuran pun segera pecah. Pertempuran terlaksana di bawah langit mendung pagi berikutnya. Barisan orang-orang beriman tetap rapat, sementara barisan pasukan Mekkah—dengan masing-masing kabilah bertempur sebagai unit-unt terpisah dan tak ada kesatuan komando—carut marut dan tercerai-berai (hlm. 186).

Dalam pertempuran sengit yang menyusul, kaum Quraisy segera mendapati bahwa mereka sedang menghadapi hal ihwal yang terburuk. Mereka berperang dengan semangat kenekatan yang ceroboh, seakan-akan ini adalah sebuah turnamen kekesatriaan, dan tidak memiliki rencana yang matang. Mereka mengawali dengan memborbardir musuh dengan panah, baru menarik pedang mereka untuk bertarung satu lawan satu pada menit-menit terakhir. Menjelang tengah hari, suku Quraisy telah kabur. Mereka kalah.

Kemenangan Nabi Muhammad merupakan sebuah titik balik: status dan supremasi orang Quraisy benar-benar jatuh dan kabar ihwal kekalahan mereka menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru Semenanjung Arab. Apa yang terjadi di Badar hampir tidak mungkin dalam tatanan yang mereka yakini. Tatanan alami dunia mereka telah terjungkir balik. Kaum Mukmin kehilangan 14 orang, sementara orang Mekkah kehilangan lebih dari 70 orang, termasuk Abu Jahl, salah seorang musuh Islam paling bengis dan paling menginginkan terjadinya pertempuran. Abbas, paman Nabi (yang sangat dipercayai oleh Muhammad di Mekkah, dan yang menyaksikan semua persiapan Hijrah), termasuk di antara orang yang ditawan (hlm. 187).

Muhammad dengan segera memerintahkan pasukannya untuk menahan diri. Sebuah wahyu turun untuk memastikan bahwa para tawanan perang harus dibebaskan atau ditebus. Bahkan dalam perang, kaum Mukmin meninggalkan kebiasaan bengis masa lampau.

================

Sepanjang Ramadan, redaksi menampilkan artikel-artikel tentang peristiwa dalam sejarah Islam dan dunia yang terjadi pada bulan suci kaum Muslim ini. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Kronik Ramadan". Kontributor kami, Muhammad Iqbal, sejarawan dan pengajar IAIN Palangkaraya, mengampu rubrik ini selama satu bulan penuh.

Baca juga artikel terkait KRONIK RAMADAN atau tulisan menarik lainnya Muhammad Iqbal
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Muhammad Iqbal
Editor: Ivan Aulia Ahsan