Sejarah Hidup Nabi Muhammad: Kisah Tahun Duka (Amul Huzni)

Oleh: Syamsul Dwi Maarif - 5 April 2021
Dibaca Normal 2 menit
Dalam sejarah hidup Nabi Muhammad saw., beliau mengalami tahun duka (amul huzni) dengan berpulangnya Khadijah sang istri dan Abu Thalib sang paman.
tirto.id - Peristiwa Tahun Duka (Amul Huzni) terjadi pada sekitar 619 Masehi atau tahun kesepuluh kenabian Muhammad saw. Pada tahun tersebut, Rasulullah kehilangan dua orang penting sekaligus yaitu istri beliau, Khadijah, dan paman sekaligus pelindung, Abu Thalib.

Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid ketika berusia 25 tahun. Kecakapan Muhammad dalam berdagang dan reputasinya sebagai al-Amin (sosok yang terpercaya) membuat Khadijah menaruh hormat kepadanya.

Melalui pernikahannya dengan Khadijah, Muhammad memiliki 6 anak, yaitu Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah. 2 anak lelaki meninggal pada usia kecil. Hal tersebut terus menempa keluarga tersebut untuk peka terhadap kehidupan sosial, senantiasa menolong orang yang lebih lemah, dan terus berbuat baik.

Muhammad mendapatkan sosok pendamping ideal dari diri Khadijah. Salah satu yang paling istimewa adalah pada awal pewahyuan Al-Qur'an. Muhammad meminta kepada sang istri "selimuti aku, selimuti aku". Khadijah meneguhkan hati Muhammad bahwa memang takdir besar tengah bergerak kepada suaminya, bahwa Muhammad menjadi Nabi Allah.

Sementara itu, Abu Thalib adalah pengganti orangtua bagi Muhammad. Sejak kecil, ia sudah kehilangan sang ayah, Abdullah. Muhammad menjadi yatim piatu ketika ibunda tercinta, Aminah berpulang kala ia baru 6 tahun. Ini berlanjut dengan meninggalnya Abdul Muthalib sang kakek kala Muhammad berusia 8 tahun.

Abu Thalib, paman Muhammad, adalah tokoh yang sangat dihormati di kalangan Quraisy. Statusnya adalah pemimpin Bani Hasyim. Muhammad yang yatim piatu dibesarkan Abu Thalib seperti anaknya sendiri. Muhammad diajarkan pula cara berdagang dan hal-hal lain hingga dewasa.

Setelah Muhammad mengumumkan kenabiannya, Abu Thalib mendapatkan banyak tekanan dari kaum Quraisy. Namun, hal itu tidak melunturkan dukungannya kepada sang keponakan.



Kisah Tahun Duka (Amul Huzni)


Sekitar 7 tahun setelah Nabi Muhammad saw. diutus menjadi nabi, dengan semakin bertambahnya orang yang masuk Islam, pihak Quraisy mengambil langkah ekstrem. Mereka membentuk kesepakatan tertulis yang dituangkan dalam piagam yang digantung di Ka'bah.

Isinya, pemboikotan total terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib untuk tidak terjadi pernikahan dan jual beli dalam bentuk apa pun. Mereka menilai, boikot seperti ini akan membuat kaum muslimin jera, alih-alih kekerasan dan penyiksaan yang selama ini terbukti gagal.

Ini menjadi tahun-tahun yang berat bagi umat Islam. Muhammad, keluarga, dan sahabat-sahabatnya mengungsi ke celah-celah gunung di luar kota Makkah. Mereka kesulitan untuk mendapatkan bahan makanan. Kaum Muslimin tidak punya kesempatan bergaul dengan orang lain kecuali pada bulan-bulan suci, kala semua permusuhan diredakan.

Pemboikotan itu berlangsung selama 3 tahun, sejak sekitar 616 hingga 619 M. Umat Islam, dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, tetap mampu bertahan hidup. Ikatan persaudaraan yang mereka bangun semakin kukuh, dan hal ini membuat kabilah lain terkesan.

Hisyam bin Amr, Zuhair bin Umayyah (suku Makhzum), Muth'im bin Adi' (Bani Nafwal), Abu al-Bakhtari (suku Asad), dan Zam'ah bin al-Aswad (suku Asad) lantas mencoba membujuk kaum Quraisy untuk mencabut boikot.

Upaya ini sempat mendapatkan tentangan Abu Jahal. Namun, ketika Muth'im masuk Ka'bah, ia menemukan piagam boikot yang sudah dimakan rayap kecuali bagian "Dengan nama-Mu Ya Allah". Abu Jahal yang sadar tidak dapat lagi memaksakan boikot kemudian menyerah.

Martin Lings dalam Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik (2015: 178), menyebutkan pada 619 M, tidak lama setlah pencabutan boikot, Nabi harus melepaskan kepergian sang istri, Khadijah bin Khuwalid. Sudah 25 tahun lamanya Nabi hidup bersama Khadijah.

Ketika 4 putri Rasulullah, dari Zainab hingga Fatimah berduka, Nabi menenangkan mereka. Beliau berkata Jibril baru saja datang dan menyampaikan, Allah sudah menyiapkan tempat tinggal terbaik untuk Khadijah di surga.

Ibnu Ishaq berkata, “setelah Khadijah bin Khuwalid wafat kemudian disusul dengan wafatnya Abu Thalib paman Rasulullah SAW”. Tahun ini merupakan tahun berkabung bagi Nabi (Amul Huzni).

Pada tahun yang sama, Abu Thalib berpulang pula. Hingga akhir hayatnya, sang paman Nabi tidak mengucapkan dua kalimat syahadat. Di sisi lain, Abu Thalib senantiasa gigih menjaga Nabi dari ancaman para petinggi Quraisy.

Barnaby Rogerson dalam Muhammad: Biografi Singkat (2014: 141) menyebut kepergian Abu Thalib ini membuat Nabi Muhammad dan kaum muslim tidak lagi berada dalam perlindungan seorang tokoh kabilah. Kepemimpinan Bani Hasyim mendarat ke tangan Abu Lahab, seorang musuh Islam yang demikian frontal.

Namun, kepergian Khadijah dan Abu Thalib adalah awal perjalanan baru bagi Muhammad. Memang tidak ada lagi pelindungnya dari kalangan manusia. Sebaliknya, ia mendapatkan anugerah besar dari Allah Sang Pelindung Sesungguhnya. Setelah tahun duka itu, Nabi mengalami Isra dan Mikraj.

Allah mengisrakan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram menuju Baitul Maqdis di Palestina. Kemudian, dari tempat tersebut, Allah memikrajkan Nabi ke menuju Sidratul Muntaha. Dalam peristiwa mikraj ini salat lima waktu diwajibkan untuk umat Islam.

Peristiwa Isra dan Mikraj terkandung di dalam Surah Al-Isra (17) ayat pertama sebagai berikut .

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Subḥānallażī asrā bi'abdihī lailam minal-masjidil-ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣallażī bāraknā ḥaulahụ linuriyahụ min āyātinā, innahụ huwas-samī'ul-baṣīr

Artinya:


“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Baca juga artikel terkait SEJARAH NABI MUHAMMAD atau tulisan menarik lainnya Syamsul Dwi Maarif
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Fitra Firdaus
DarkLight