Tarikh

Nabi Muhammad dan Khadijah: 25 Tahun Monogami yang Berbahagia

Oleh: Ivan Aulia Ahsan - 4 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Nabi Muhammad menikah dengan Khadijah dalam waktu 25 tahun. Selama itu ia amat menyayangi istrinya dan tidak berpoligami.
tirto.id - Setelah Nabi Muhammad dan Khadijah menikah, pasangan ini tinggal di rumah sang istri. Mereka mulai membangun rumah tangga dengan penuh harapan akan kebahagiaan. Nabi Muhammad begitu mencintai istrinya, begitu pula sebaliknya.

Khadijah, seorang saudagar sukses dan kaya, tidak keberatan dengan latar belakang suaminya yang sederhana. Muhammad memang berasal dari klan terhormat, tapi ia bukan orang kaya. Yang membuat Khadijah mengagumi Muhammad, menurut sumber-sumber tradisional Islam, adalah kualitas moral dan kejujurannya.

Pasangan ini hidup sebagaimana lazimnya suami-istri lain di Makkah. Khadijah tetap berbisnis seperti biasa dan Muhammad membantunya. Posisi Muhammad saat itu seperti beralih dalam sekejap dari seorang buruh yang bekerja untuk pemilik modal menjadi semacam manajer kecil dalam perusahaan istrinya.


Tidak ada keterangan yang pasti apakah Muhammad membantu perniagaan istrinya secara penuh waktu atau hanya paruh waktu. Keterangan-keterangan dalam sumber tradisional lebih banyak menceritakan tentang kegiatan sosial dan spiritualitasnya.

Sejak menikah dengan Khadijah, Muhammad semakin dermawan kepada para fakir miskin dan budak. Perilaku ini sesungguhnya sudah ada sejak Muhammad belum menikah dan menjadi semakin intens ketika ia berumah tangga. Lantaran begitu kerapnya Muhammad menyumbang harta kepada mereka yang membutuhkan, Karen Armstrong menduga bahwa jika ditilik dari sudut pandang keduniawian, rumah tangga mereka tampak tidak menyenangkan.

“Ini bukan perkawinan yang menyenangkan: Muhammad memberikan sebagian besar penghasilan keluarga untuk fakir miskin dan membuat kehidupan keluarganya sendiri sangat hemat. Di tengah kesulitan tersebut, betapapun, keluarga mereka tampak bahagia,” tulisnya dalam Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis (2011: 94).

Dengan kedermawanan, relasi yang hangat terhadap orang-orang Makkah, dan kedudukan istrinya, posisi sosial Muhammad semakin meningkat. Ia kini tidak lagi diremehkan sebagai anak yatim piatu dari bani yang tidak begitu kaya. Muhammad adalah seorang lelaki dewasa yang sudah berumah tangga. Bahkan ia menjadi sangat dihormati di seantero Makkah.

Di tengah kesibukan menjalani kehidupan sosial dan mengayuh biduk rumah tangga, kebiasaan Muhammad sejak muda seperti tak hilang, malah kian bertambah. Kebiasaan tersebut berupa laku merenung dan menyepi. Bagi para sejarawan pengkaji Islam dan penulis biografi Muhammad, hal ini dimaknai sebagai pencarian dan kegelisahan spiritual.

Muhammad semakin sering mengasingkan diri dan dalam momen-momen tertentu menghindari kontak sosial yang sering. Bahasa Arab menyebut perilaku ini sebagai tahannuts dan tahannuf. Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (2015), seperti biasa, menggambarkan kebiasaan tahannuts itu dengan deskripsi yang dramatis.

“Dengan bertahannuts, ia (Muhammad) merasakan ketenangan dalam dirinya. Ia juga mendapatkan penawar dari hasrat hatinya yang ingin menyendiri dan mencari jalan memenuhi kerinduan untuk mencapai derajat makrifat dan mengetahui segala rahasia alam semesta,” ungkap haekal (hlm. 161).

Dalam keadaan yang sering gelisah dan menyendiri itu, Khadijah adalah pelipur dan penenang Muhammad yang paling utama.


25 Tahun Monogami

Muhammad berumah tangga dengan Khadijah selama kurang lebih 25 tahun. Dalam rentang waktu tersebut, mereka dikaruniai enam anak yaitu dua putra dan empat putri. Dua putra mereka dinamai Qasim dan Abdullah, sementara empat putri mereka adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah.

Riwayat Qasim dan Abdullah tidak banyak diketahui karena keduanya meninggal di saat kecil. Tentu saja Muhammad dan Khadijah berduka atas kepergian mereka. Apalagi bagi Muhammad yang pernah mengalami kesedihan tanpa orang tua di saat kecil. Muhammad, sampai saat itu, di usia yang mungkin baru awal 30-an, sudah lengkap merasakan ditinggal mati orang tua dan anak-anaknya.

Setelah dua putranya meninggal, Muhammad mencurahkan segenap kasih sayang kepada keempat putrinya. Ia dikenal sebagai seorang bapak yang lembut dan hampir tak pernah menghardik. Putri-putrinya pun amat mencintai sang bapak.

Ringkasnya, dua puluh lima tahun rumah tangga Nabi Muhammad dan Khadijah diliputi kebahagiaan dan keriangan. Dan selama itu pula Muhammad tidak mengambil istri lagi. Baru setelah Khadijah meninggal, ia memilih poligami. Ini berarti periode poligami Muhammad lebih singkat (hanya 12 tahun) dibanding masa monogaminya.

Sebegitu besar cinta Muhammad kepada Khadijah hingga kelak beberapa istrinya kadang merasa cemburu—suatu hal yang sangat manusiawi. Muhammad masih sering memuji-muji dan menceritakan keistimewaan istri pertamanya itu. Riwayat-riwayat menyebut suatu hari wajah Muhammad pernah terlihat agak pucat saat ia mengira telah mendengar suara almarhumah istrinya.

Narasi di atas barangkali bisa mengesampingkan pendapat yang menyangka Muhammad menikahi Khadijah hanya karena faktor harta. Juga bisa menetralkan dugaan bahwa Muhammad sebenarnya tidak tertarik secara fisik kepada istri yang berumur jauh lebih tua itu.

Maxime Rodinson, sejarawan marxis asal Perancis yang menulis biografi Muhammad (1971), secara agak sinis mengungkapkan dugaan tersebut; meski keseluruhan buku itu sebenarnya bersimpati kepada Muhammad.

“Adalah tidak mungkin bahwa dia (Muhammad) mempunyai ketertarikan fisik kepada Khadijah sebagaimana kelak, di usia tua, dia dapatkan pada perempuan-perempuan muda yang menjadi istrinya.”

Namun kemudian Rodinson melanjutkan, “Tapi Muhammad senantiasa menghormati Khodijah dan menyayanginya secara tak tergoyahkan.” (hlm. 51).

==========

Pada Ramadan tahun ini redaksi menampilkan sajian khusus bernama "Tarikh" yang ditayangkan setiap menjelang sahur. Rubrik ini mengambil tema besar tentang sosok Nabi Muhammad sebagai manusia historis dalam gejolak sejarah dunia. Selama sebulan penuh, seluruh artikel ditulis oleh Ivan Aulia Ahsan (Redaktur Utama Tirto.id dan pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta).

Baca juga artikel terkait TARIKH atau tulisan menarik lainnya Ivan Aulia Ahsan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Ivan Aulia Ahsan
Editor: Irfan Teguh
DarkLight