Cara Membaca Al-Quran

Contoh Washal dalam Al Quran dan Pengertiannya dalam Ilmu Tajwid

Oleh: Abdul Hadi - 14 Januari 2022
Dibaca Normal 3 menit
Pengertian washal adalah meneruskan bacaan ketika tilawah Al-Quran. Apa contoh-contohnya dalam Al-Quran?
tirto.id - Di antara materi ilmu tajwid adalah bahasan tentang washal dan waqaf. Pengertian washal adalah menyambungkan bacaan, sementara waqaf adalah memberhentikan bacaan Al-Quran. Ketika melakukan tilawah, terdapat ketentuan washal dan tanda-tandanya yang harus dicermati. Berikut ini contoh-contohnya dalam Al-Quran.

Secara umum, washal adalah lawan dari waqaf. Kedua bahasan ini tak bisa dipisahkan untuk mempelajari cara berhenti dan menyambungkan bacaan Al-Quran. Bahasan lebih lanjut mengenai waqaf dan tanda-tandanya dapat di klik di sini.

Urgensi mempelajari hukum washal dalam ilmu tajwid adalah untuk menyesuaikan tilawah Al-Quran dengan makna ayat suci yang dibaca. Misalnya, apabila suatu ayat memiliki ketersambungkan dengan ayat sebelum atau selanjutnya, namun pembaca malah berhenti, makna ayatnya akan terdistorsi atau malah melenceng.

Untuk mencegah hal itu, ada tanda-tanda washal yang mencegah qari atau pembaca Al-Quran berhenti dan sebaiknya meneruskan bacaannya.

Oleh karena itu, pemahaman tentang tanda washal atau ketentuan cara menyambungkan bacaan menjadi penting demi kesempurnaan tilawah Al-Quran.


Pengertian Washal dalam Ilmu Tajwid


Dalam bahasa Arab, washal berasal dari kata وصل yang artinya menyambung atau terus. Sementara itu, istilah ilmu tajwidnya adalah meneruskan bacaan pada tanda washal atau melanjutkannya tanpa mengambil napas, sebagaimana ditulis Nidlomatum Mukhlisotur Rohmah dalam Al-Quran Hadis (2020).

Menyambungkan bacaan ayat Al-Quran dapat dilakukan pada tanda-tanda washal atau langsung pada akhir ayat dengan melanjutkannya ke ayat seterusnya.

Macam-macam Tanda Washal dalam Al-Quran


Tanda-tanda washal dalam Al-Quran ada beragam, mulai dari tanda sebaiknya melanjutkan, boleh berhenti atau boleh melanjutkan bacaan, hingga boleh berhenti dalam kondisi terpaksa (misalnya karena kehabisan napas).

Berikut ini macam-macam tanda washal dalam Al-Quran yang harus dicermati baik-baik.

Washal Jaiz

Tanda washal jaiz menunjukkan bahwa pembaca Al-Quran boleh melanjutkan bacaan atau berhenti.

Tanda ini merupakan pilihan opsional bagi pembaca, serta tidak mempengaruhi makna ayat Al-Quran yang dibacanya.

Tanda washal jaiz juga memiliki tingkatan, ada washal jaiz yang lebih baik meneruskan bacaan. Ada juga yang lebih baik berhenti, serta washal jaiz yang tingkatannya setara: berhenti atau meneruskan bacaan tidak ada pengaruh sama sekali.

Tanda washal jaiz ini sama seperti waqaf jaiz. Sebab, ketentuannya serupa, yaitu boleh berhenti dan boleh meneruskan bacaan, kendati ada tingkatan baik dan buruknya.

Penjelasan mengenai jenis-jenis tanda washal jaiz adalah sebagai berikut.

1. Washal Jaiz Kafi (قلى)

Jaiz kafi adalah tanda washal yang menunjukkan bahwa pembaca Al-Quran sebaiknya berhenti, meskipun boleh meneruskan bacaannya. Washal jaiz kafi ini memiliki tanda (قلى).

Contoh bacaan dengan waqaf jaiz kafi terdapat pada surah An-Nahl ayat 30 sebagai berikut.

وَقِيلَ لِلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ مَاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمْ ۚ قَالُوا۟ خَيْرًا ۗ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ ٱلْءَاخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ ٱلْمُتَّقِينَ

Bacaan latin: "Wa qīla lillażīnattaqau māżā anzala rabbukum, qālụ khairā, lillażīna aḥsanụ fī hāżihid-dun-yā ḥasanah, wa ladārul-ākhirati khaīr, wa lani'ma dārul-muttaqīn"

Artinya: "Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: 'Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?' Mereka menjawab: '[Allah telah menurunkan] kebaikan'. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa," (QS. An-Nahl [16]: 30).

2. Washal Jaiz Hasan atau Waslu Ula (صلى)

Tanda jaiz hasan atau waslu ula dilambangkan dengan simbol صلى yang terletak di atas ayat. Tanda washal ini bermakna bahwa pembaca Al-Quran sebaiknya melanjutkan bacaan daripada berhenti atau waqaf.

Kendati demikian, berhenti pun tidak apa-apa karena tidak banyak mengubah makna ayatnya.

Contoh bacaan Al-Quran dengan tanda waslu ula terdapat pada surah Al-An'am ayat 17 sebagai berikut.

وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Bacaan latinnya: "Wa iy yamsaskallāhu biḍurrin fa lā kāsyifa lahū illā huw, wa iy yamsaska bikhairin fa huwa 'alā kulli syai`ing qadīr"

Artinya: "Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu," (QS. An-An'am [6]: 17).

3. Washal Jaiz Tasawi (ج)

Jaiz tasawi adalah tanda bahwa pembaca Al-Quran boleh berhenti dan boleh meneruskan bacaannya.

Tidak ada tingkatan lebih tinggi atau lebih rendah. Keduanya setara. Tanda waqaf jaiz tasawi disimbolkan dengan huruf ج.

Contoh bacaan Al-Quran dengan tanda waqaf jaiz tasawi tertera dalam surah Az-Zukhruf ayat 35 sebagai berikut.

وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْءَاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ

Bacaan latinnya: "Wa zukhrufā, wa ing kullu żālika lammā matā'ul-ḥayātid-dun-yā, wal-ākhiratu 'inda rabbika lil-muttaqīn"

Artinya: "Dan [Kami buatkan pula] perhiasan-perhiasan [dari emas untuk mereka]. Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa," (Az-Zukhruf [43]: 35).

4. Washal Mujawwaz (ز)

Tanda washal mujawwaz menunjukkan bahwa pembaca Al-Quran tidak perlu berhenti dan sebaiknya melanjutkan bacaannya. Tanda washal mujawwaz dilambangkan dengan simbol ز.

Jika menemukan simbol tersebut, pembaca hanya boleh berhenti jika sudah kehabisan napas. Jika belum, sebaiknya dilanjutkan bacaan Al-Quran tersebut.

Contoh washal mujawwaz terdapat pada surah An-Najm ayat 24-25 sebagai berikut.

أَمْ لِلْإِنسَٰنِ مَا تَمَنَّىٰ ز فَلِلَّهِ ٱلْءَاخِرَةُ وَٱلْأُولَىٰ

Bacaan latinnya: "Am lil-insāni mā tamannā. Fa lillāhil-ākhiratu wal-ụlā"

Artinya: "Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia," (QS. An-Najm [53]: 24-25).


Ketentuan Menyambung Bacaan (Washal) tanpa Tanda Washal


Pada setiap akhir ayat Al-Quran, pembaca boleh menyambungkan bacaannya dengan ayat selanjutnya (washal).

Ketentuan washal tanpa tanda washal itu dapat dilakukan sebagai berikut.

Pertama, pembaca Al-Quran dapat menyambungkan dua ayat, dengan catatan meneruskan harakat akhir huruf pada ayat pertama dengan ayat selanjutnya.

Misalnya, ketika membaca surah Al-Fatihah ayat 1-2, pelafalannya adalah sebagai berikut:

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Bacaan latinnya: "Bismillāhir-raḥmānir-raḥīmil hamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn"

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam," (QS. Al-Fatihah [1]: 1-2).

Kedua, ketika akan menyambungkan dua ayat yang pada akhir ayat pertama berharakat tanwin (fathatain, kasratain, atau dammatain), pelafalannya ditambah huruf nun (ن).

Contohnya terdapat pada surah Al-Ikhlas ayat 1-2 sebagai berikut:

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ن ُللَّهُ ٱلصَّمَدُ

Bacaan latinnya: "Qul huwallāhu aḥadunillahuṣ-ṣamad"

Artinya: "Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu," (QS. Al-Ikhlas [114]: 1-2).


Baca juga artikel terkait ILMU TAJWID atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Abdul Hadi
Penyelia: Addi M Idhom
DarkLight