Menuju konten utama

Bos The Fed Mengaku Diancam akan Dikriminalisasi oleh Trump

Trump mengancam mendakwa Powell terkait proyek renovasi gedung The Fed. Namun, hal ini dinilai hanya dalih memperbesar pengaruh Trump di bank sentral.

Bos The Fed Mengaku Diancam akan Dikriminalisasi oleh Trump
President Amerika Serikat Donald Trump bersama dengan Jerome Powell, yang ia calonkan sebagai Kepala Federal Reserve Amerika Serikat di Gedung Putih di Washington, Amerika Serikat, Kamis (2/11). ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria

tirto.id - Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengaku tengah dikriminalisasi oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah bank sentral itu dinilai tak sejalan dengan keinginan Gedung Putih, terutama terkait kebijakan suku bunga.

Powell mengatakan, pemerintahan Trump mengancam akan mendakwanya secara pidana atas kesaksian yang ia sampaikan di hadapan Kongres pada musim panas tahun lalu mengenai proyek renovasi gedung The Fed.

Menurut Powell, ancaman tersebut hanyalah “dalih” untuk menekan dan memperbesar pengaruh presiden terhadap bank sentral serta kebijakan moneter.

Ancaman itu diungkap Powell dalam pernyataan resmi pada Minggu malam, setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat melayangkan panggilan pengadilan (subpoena) dewan juri kepada Federal Reserve.

“Pada hari Jumat, Departemen Kehakiman melayangkan panggilan pengadilan dewan juri kepada Federal Reserve, dengan ancaman dakwaan pidana terkait kesaksian saya di hadapan Komite Perbankan Senat pada Juni lalu,” kata Powell, dikutip Reuters, Senin (12/1/2026).

Powell menegaskan dirinya menghormati supremasi hukum dan prinsip akuntabilitas dalam demokrasi. “Tidak ada seorang pun, termasuk ketua Federal Reserve, yang berada di atas hukum,” ujarnya.

Meski demikian, Powell menilai langkah tersebut tak bisa dilepaskan dari tekanan politik yang terus-menerus dilakukan pemerintahan Trump agar The Fed memangkas suku bunga lebih agresif.

"Tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini harus dilihat dalam konteks yang lebih luas dari ancaman dan tekanan berkelanjutan pemerintahan,” ucapnya.

Powell menegaskan, ancaman dakwaan pidana itu bukan terkait substansi kesaksiannya di Kongres maupun proyek renovasi gedung Federal Reserve.

“Itu semua hanyalah dalih. Ancaman dakwaan pidana ini merupakan konsekuensi dari Federal Reserve yang menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik kami tentang apa yang melayani kepentingan publik, alih-alih mengikuti preferensi Presiden,” katanya.

Perkembangan ini langsung memicu reaksi politik. Senator Republik Thom Tillis, yang juga anggota Komite Perbankan Senat, menilai ancaman terhadap Powell telah mempertanyakan “independensi dan kredibilitas” Departemen Kehakiman.

Dalam pernyataan di platform X, Tillis menyatakan akan menentang siapa pun calon Trump untuk The Fed, termasuk pilihan presiden yang akan datang untuk ketua baru, “sampai perkara hukum ini benar-benar diselesaikan.”

Jawaban Trump

Sementara itu, dalam wawancara kepada NBC News, Trump membantah mengetahui tindakan Departemen Kehakiman tersebut. “Saya tidak tahu apa-apa soal itu, tapi dia jelas tidak terlalu bagus memimpin The Fed, dan dia juga tidak terlalu bagus membangun gedung,” kata Trump, Minggu (11/1/2026).

Juru bicara Departemen Kehakiman menolak berkomentar lebih jauh soal kasus ini, namun menyebut Jaksa Agung telah menginstruksikan para jaksa AS untuk memprioritaskan penyelidikan atas dugaan penyalahgunaan uang pembayar pajak.

Trump memang telah berulang kali menekan The Fed untuk memangkas suku bunga sejak kembali menjabat pada Januari. Ia bahkan sempat melontarkan wacana pemecatan Powell, meski posisi ketua The Fed secara hukum dilindungi dari pemberhentian sepihak. Selain itu, Trump juga tengah berupaya memecat Gubernur The Fed Lisa Cook, dalam perkara yang kini menunggu putusan Mahkamah Agung.

Sejumlah pengamat menilai penyelidikan terhadap Powell sebagai preseden berbahaya. “Ini adalah titik terendah dalam masa kepresidenan Trump dan dalam sejarah perbankan sentral di Amerika,” kata Peter Conti-Brown, sejarawan The Fed dari University of Pennsylvania. Menurutnya, Kongres tidak merancang The Fed untuk tunduk pada dinamika politik harian presiden.

Meski situasi politik memanas, pasar keuangan relatif tenang. Kontrak berjangka suku bunga masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, bahkan setelah masa jabatan Powell sebagai ketua berakhir pada Mei. Dolar AS sempat melemah dan indeks saham berjangka turun, meski pergerakannya masih terbatas.

Powell sendiri masih memiliki masa jabatan sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed hingga 31 Januari 2028, meskipun posisinya sebagai ketua akan berakhir pada Mei. Kondisi itu membatasi ruang Trump untuk menunjuk anggota baru The Fed dalam waktu dekat.

Sebelumnya, Gedung Putih juga mengkritik proyek renovasi dua gedung Federal Reserve di Washington senilai 2,5 miliar dolar AS yang dinilai terlalu mahal. Meski sejumlah analis menilai kritik tersebut sebagai dalih tekanan politik, Powell selama ini memilih menjawabnya dengan penjelasan teknis dan transparansi, termasuk saat memberikan kesaksian rutin di Kongres dan ketika mendampingi Trump meninjau langsung lokasi proyek tersebut pada Juli lalu.

Baca juga artikel terkait THE FED atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana