tirto.id - Federal Reserve AS (The Fed) memangkas suku bunga pada hari Rabu (29/10/2025) sebesar 0,25 basis poin, sehingga berada dalam kisaran 3,75 persen hingga 4 persen. Kebijakan tersebut terjadi setelah Bank Sentral AS itu menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari.
Berdasarkan laporan dari BBC, dikutip Kamis (30/10/2025) keputusan The Fed menyoroti adanya kekhawatiran inflasi yang terus terabaikan oleh penyerapan tenaga kerja yang melambat. Pemangkasan suku bunga saat ini merupakan terendah dalam tiga tahun terakhir sejak 2022.
Menurut CNN, keputusan ini juga memicu dua perbedaan pendapat, satu dari Gubernur Fed Stephen Miran, satu lagi dari Presiden Fed Kansas City Jeffrey Schmid. Ini adalah pertama kalinya sejak 2019 terdapat perbedaan pendapat yang saling bertentangan.
Namun, keduanya menyerukan kebijakan yang lebih longgar dan lebih ketat tentang bagaimana kebijakan luas Presiden Donald Trump mengenai perdagangan, imigrasi, dan pengeluaran yang dapat memengaruhi perekonomian AS.
Lebih rumit lagi, ini juga merupakan pertama kalinya para pejabat menetapkan kebijakan moneter tanpa memiliki data ketenagakerjaan pemerintah yang akurat selama sebulan penuh.
Lebih jauh, perlambatan dalam perekrutan tenaga kerja mendorong The Fed untuk memulai kembali siklus pemangkasan suku bunga pada September 2025.
Dalam pernyataan kebijakan pada hari Rabu, bank sentral menegaskan kembali bahwa penambahan lapangan kerja berjalan lambat tahun ini dan tingkat pengangguran, meskipun masih rendah hingga akhir musim panas, kini telah "naik tipis".
Dalam konferensi pers setelah pemangkasan tersebut, Ketua The Fed, Jerome Powell, menyebut pasar tenaga kerja "kurang dinamis dan agak lebih lemah" dibandingkan awal tahun ini, yang sebagian merujuk pada penurunan imigrasi.
Namun, ia mengatakan pelemahan di pasar tenaga kerja tampaknya tidak semakin cepat.
Meski demikian, langkah pemerintah yang kian tertutup dan menunda rilis laporan ketenagakerjaan membatasi wawasan para bankir sentral tentang bagaimana kondisi pasar tenaga kerja sejak pertemuan terakhir mereka.
Sumber-sumber alternatif, termasuk data sektor swasta, telah menunjukkan tren perlambatan perekrutan yang berkelanjutan. Ekonomi AS juga kehilangan 32.000 lapangan kerja pada bulan September, menurut data dari perusahaan penggajian ADP.
"Kami akan mengumpulkan setiap data yang kami temukan, mengevaluasinya, dan memikirkannya dengan saksama. Dan itulah tugas kami," ujar Powell dalam konferensi pers setelah pertemuan kebijakan dua hari.
"Jika Anda bertanya kepada saya, apakah ini akan memengaruhi pertemuan bulan Desember, saya tidak mengatakan akan memengaruhinya, tetapi ya, Anda bisa bayangkan itu. Anda tahu, apa yang Anda lakukan jika mengemudi di tengah kabut? Anda harus memperlambat laju kendaraan," tambahnya, dikutip dari Reuters.
Komentar Powell juga menunjukkan dilema yang berkembang bagi The Fed saat pertikaian anggaran antara pemerintahan Trump dan Demokrat di Kongres berlanjut hingga bulan kedua, karena pemerintah tidak dapat melakukan survei dan menghasilkan laporan yang menjadi kunci keputusan kebijakan bank sentral, dalam hal ini mungkin menunda pemotongan suku bunga yang diinginkan Presiden Donald Trump sendiri.
Penulis: Natania Longdong
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id






































