tirto.id - Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, menyampaikan bahwa penutupan pemerintahan (government shutdown) di Amerika Serikat (AS) dapat menambah kondisi ketidakpastian global.
Sebab, langkah tersebut akan membuat defisit fiskal Negeri Paman Sam itu menjadi lebih besar, yang berimbas pada ekspektasi pasar terhadap imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS atau US Treasury, hingga meningkatnya jumlah pengangguran.
Masalahnya, saat The Fed memutuskan menahan suku bunga acuan atau bahkan menurunkan suku bunga untuk mencegah lonjakan pengangguran, langkah tersebut akan diikuti oleh bank-bank sentral lain di seluruh dunia.
Pada gilirannya, dampak dari penutupan pemerintahan AS akan menjalar ke pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
Karena itulah, Bank Indonesia melihat bahwa probabilitas penurunan suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) lebih lanjut semakin besar, baik pada sisa tahun ini maupun berlanjut hingga 2026. Ekspektasi penurunan FFR tersebut juga diikuti oleh penurunan yield US Treasury yang diperkirakan akan terus menurun.
“Faktor risiko yang perlu diwaspadai antara lain risiko kenaikan tarif lanjutan, potensi eskalasi ketegangan perdagangan, serta pelemahan pertumbuhan di sejumlah negara mitra utama,” kata Juli.
“Karena kita sebagai negara dengan perekonomian yang terbuka, maka segala hal yang terjadi di ekonomi global tentu akan berdampak ke ekonomi domestik kita,” tambahnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































