tirto.id - PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap 1.900 pekerjanya. PT GNI sebelumnya dikenal sebagai smelter nikel yang termasuk sebagai proyek strategis nasional (PSN) era kepresidenan Joko Widodo.
Keputusan memecat 1.900 pekerja itu disebut tertuang melalui surat pemberitahuan perusahaan nomor 4760/EKSTERNAL/HRD/GNI-SITE/VII/2026. Dalam surat itu, PHK terhadap ribuan pekerja itu berlaku efektif mulai Rabu (5/8/2026).
Sebelumnya, sepanjang 2025, PT GNI dilaporkan lebih dulu melakukan PHK terhadap sekitar 1.800 karyawan. Kini jumlah karyawan PT GNI yang terdampak efisiensi bertambah 1.900 orang.
Pemecatan 1.900 pekerja ini kemudian memicu spekulasi terkait kondisi keuangan perusahaan yang terbentuk lewat program hilirisasi komoditas mineral tersebut. Sejumlah spekulasi yang beredar bahkan menyebut PT GNI sedang menghadapi risiko kolaps.
Profil PT Gunbuster Nickel Industry dan Alasan PHK 1.900 Pekerja
PT Gunbuster Nickel Industry atau PT GNI merupakan perusahaan pengolahan dan pemurnia (smelter) nikel yang berlokasi di Desa Bunta, Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. PT GNI merupakan salah satu perusahaan yang beroperasi di wilayah Kawasan Industri Stardust Estate Investment (SEI).
Perusahaan ini didirikan sejak 2019 dan diresmikan pada Desember 2021 dengan nilai investasi sekitar USD2,7 miliar. Kala itu, pembangunan PT GNI mendapatkan prioritas langsung dari negara lewat status PSN.
PT GNI juga tergolong sebagai penanaman modal asing (PMA). Perusahaan ini dimiliki secara de facto oleh pengusaha asal Cina bernama Tony Zhou Yuan.
Ketika awal diresmikan, perusahaan dilaporkan memiliki kapasitas produksi 1,9 juta nickel pig iron (NPI) per tahun. Jumlah tersebut membuat smelter PT GNI memerlukan suplai bijih nikel sekitar 21,6 juta wet metric ton (wmt) per tahun.
Akan tetapi, di balik kemegahan PT GNI di atas kertas, perusahaan ini mengalami sejumlah masalah selama beroperasi. Seperti pada 2023 lalu, terjadi bentrokan buruh PT GNI asal Cina dengan buruh WNI.
Bentrokan pada 2023 itu menyebabkan dua pekerja meninggal dunia, puluhan lainnya mengalami luka-luka, dan 69 orang ditangkap karenanya. Ketika bentrokan terjadi, para pekerja dilaporkan turut menggunakan besi dan peralatan pabrik untuk menyerang satu sama lain.
Dampak bentrokan tak hanya melayangnya nyawa dua pekerja, tetapi juga kerusakan yang dialami PT GNI. Sebagian area milik PT GNI dilaporkan turut dibakar massa yang bentrok.
Kemudian, pada 2025 lalu, perusahaan induk PT GNI, Jiangsu Delong Nickel Industry Co., dikabarkan diterpa masalah finansial. Perusahaan induk yang berbasis di Cina itu disebut terlilit utang dan mengalami gagal bayar.
Seiring hal tersebut, PT GNI kemudian dikabarkan akan mendapatkan pendanaan baru. BUMN Cina bernama Zhejiang Materials Development Co., Ltd. atau Zheshang Zhongtuo disebut akan menjadi pemilik baru PT GNI.
Proses akuisisi itu kemudian rampung pada Maret 2026 , ketika pengadilan di Cina mengesahkan kepemilikan 75 persen saham Zheshang Zhongtuo di PT GNI. Namun, tak lama setelah mendapat pendanaan baru, PT GNI justru melakukan PHK massal.
Sebanyak 1.900 karyawan PT GNI kena PHK pada awal Agustus 2026 ini. Para pekerja terdampak telah diinformasikan pihak perusahaan bahwa keputusan ini diambil demi efisiensi anggaran yang sedang dilakukan.
Hal tersebut kemudian memicu spekulasi tentang masa depan PT GNI. Tak sedikit yang berspekulasi bahwa PT GNI sedang berada di ujung tanduk karena masalah keuangan.
Akan tetapi, spekulasi itu dibantah pihak perusahaan. Dalam keterangannya pada 9 April 2026 lalu, PT GNI menyebut bahwa efisiensi dilakukan karena mereka sedang “mempersiapkan perbaikan menyeluruh terhadap tungku yang telah memasuki masa overhaul besar”.
“Informasi yang menyebutkan perusahaan terancam kolaps adalah tidak benar,” tulis keterangan resmi pihak perusahaan.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id







































