Menuju konten utama

Said Iqbal: PHK Industri Garmen Akibat Pesanan Global Anjlok

Said Iqbal membantah kabar bahwa fenomena PHK di sektor garmen terjadi karena daya beli masyarakat melesu serta telah melaporkan temuan ke Presiden Prabowo.

Said Iqbal: PHK Industri Garmen Akibat Pesanan Global Anjlok
Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal memberikan keterangan kepada awak media di kawasan Kramat, Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2026). tirto.id/Naufal Majid
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan, Said Iqbal, menyatakan bahwa fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor garmen bukan disebabkan daya beli masyarakat domestik melesu.

Berdasarkan hasil inspeksi mendadak yang dilakukan Said Iqbal, pria yang juga Presiden Partai Buruh itu menyimpulkan bahwa akar persoalan PHK terletak pada anjloknya permintaan pasar global akibat ketidakpastian geopolitik.

"Bukan karena daya beli masyarakat Indonesia menurun dalam kasus PHK di garmen. Bukan. Lebih kepada menurunnya daya beli masyarakat global," ujar Said Iqbal dalam konferensi pers secara daring, Kamis (6/8/2026).

Iqbal menjelaskan, salah satu penyebab daya beli masyarakat internasional merosot karena konflik global yang tak kunjung usai. Hal ini kemudian berdampak langsung pada operasional industri garmen di Indonesia, yang sangat bergantung pada pesanan merek-merek besar dunia.

Said Iqbal mencontohkan, perang antara Ukraina dan Rusia serta ketegangan antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah memicu lonjakan harga bahan bakar minyak dan gas industri di tingkat global. Kondisi ini akhirnya membuat harga produk dari negara-negara produsen menjadi sangat kompetitif di mata para buyer.

"Penyebabnya adalah perang Ukraina-Rusia yang berkepanjangan, perang Amerika-Israel melawan Iran yang tidak berhenti, menyebabkan harga bahan bakar minyak dan gas industri melambung tinggi," kata Iqbal.

Situasi tersebut, kata Said Iqbal, kemudian memaksa merek-merek internasional seperti Uniqlo, H&M, hingga Saint Laurent mulai mengurangi, bahkan menarik, pesanan mereka dari pabrik-pabrik di Indonesia. Akhirnya, masyarakat yang biasa memberli pakaian bermerek dan daya beli menurun, hingga berujung PHK.

"Berdasarkan hasil turun ke bawah (turba) atas perintah Presiden Prabowo Subianto, beberapa pabrik besar telah resmi berhenti beroperasi, di antaranya adalah PT Victory Apparel di Kota Semarang, PT Samwon Busana Indonesia di Kabupaten Jepara, dan PT 66 di Cimahi, Jawa Barat," ungkap dia.

Lebih lanjut, Said Iqbal menyatakan, industri garmen lokal juga tengah berjuang melawan kompetisi dari negara-negara di Asia Selatan seperti Bangladesh, India, Sri Lanka, hingga Vietnam selain terkait faktor daya beli global. Dia pun menekankan pentingnya pemerintah untuk memastikan iklim investasi tetap ramah agar Indonesia tidak terus kehilangan pesanan.

Said Iqbal mengaku telah melaporkan temuan mapping ini kepada Presiden melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi. Dia pun berharap pemerintah segera mengintervensi melalui regulasi, sebagaimana kebijakan penurunan harga gas industri yang pernah dilakukan sebelumnya untuk menekan angka PHK.

"Presiden berpesan bila bisa dibantu oleh regulasi, maka pemerintah akan intervensi regulasi itu. Tapi kalau PHK tidak bisa dihindari, hak-hak buruh harus dibayar sesuai aturan," tutur dia.

Baca juga artikel terkait PHK atau tulisan lainnya dari Ayu Mumpuni

tirto.id - Flash News
Reporter: Ayu Mumpuni
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Andrian Pratama Taher