Menuju konten utama

Bos BI Ungkap Biang Kerok Pelemahan Rupiah ke Rp17.500 per US$

BI soroti lonjakan kebutuhan dolar secara musiman dari dalam negeri, mulai dari pembayaran utang, dividen, hingga kebutuhan ibadah haji.

Bos BI Ungkap Biang Kerok Pelemahan Rupiah ke Rp17.500 per US$
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti memberikan paparan saat mengikuti rapat kerja bersama Komite IV DPD di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/6/2023). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/tom.

tirto.id - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar AS disebabkan oleh tingginya permintaan dolar, baik dari faktor global maupun domestik.

Destry menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas meningkat menjadi pemicu utama. Hal ini mendorong naiknya harga minyak dan meningkatkan ketidakpastian global.

"Konflik di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global," katanya dalam keterangan resmi, Selasa (12/5/2026).

Selain faktor eksternal, ia juga menyoroti kebutuhan dolar yang meningkat secara musiman dari dalam negeri. Pembayaran utang luar negeri (ULN), pembayaran dividen, serta kebutuhan ibadah haji disebut turut mendorong tekanan terhadap rupiah.

"Dari domestik, meningkatnya kebutuhan Dolar secara musiman seperti pembayaran ULN dan pembayaran dividen serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik," jelas Destry.

Menghadapi situasi ini, Destry menyebut bahwa BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan intervensi smart intervention. Langkah ini dilakukan baik di pasar spot, DNDF, maupun NDF.

"BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah," ucapnya.

Kendati rupiah tertekan, Destry menyebutkan bahwa kepercayaan investor asing di aset portofolio terus membaik. Hal ini tercermin dari arus masuk (inflow) modal asing, terutama ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), selama bulan April yang mencapai Rp61,6 triliun.

"BI juga melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik yang tercermin dari masuknya inflow, khususnya ke pasar SBN dan SRBI selama bulan April sebesar Rp61,6 triliun," ungkapnya.

Ia juga memastikan ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik cukup tinggi, dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas pada akhir Maret mencapai 10,9 persen year to date.

Destry memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan segera mereda. Dengan demikian, nilai tukar rupiah diharapkan dapat kembali ke level fundamentalnya.

"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," tuturnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana