Menuju konten utama

Hilirisasi Riset: Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap

Hasil penelitian bukan sekadar dokumen akademik. Tapi jadi produk yang bawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah.

Hilirisasi Riset: Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap
Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, dalam kegiatan What’s Up Campus Call Out di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Institut Teknologi Bandung, Selasa (12/5/2026). tirto.id/Auliya Umayna

tirto.id - Pemerintah menegaskan komitmen untuk mempercepat hilirisasi riset menjadi aset Kekayaan Intelektual (KI) bernilai ekonomi. Langkah strategis ini diambil guna memastikan hasil penelitian perguruan tinggi tidak hanya berakhir sebagai dokumen akademik. Hasil penelitian didorong jadi produk yang mampu membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap).

Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, mengatakan hal ini dapat membangun ekosistem inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Dia menjelaskan, negara maju tidak hanya ditentukan oleh banyaknya penelitian dan penemuan, tetapi oleh kemampuan menerapkan paten menjadi produk dan kekuatan industri.

“Kalau kita ingin menjadi negara maju, maka paten yang sudah ditemukan harus diterapkan. Jangan sampai penemuan hanya digunakan sebagai dokumen," kata Supratman dalam kegiatan What’s Up Campus Call Out di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Institut Teknologi Bandung, yang dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (12/5/2026).

Menurut Supratman, pemerintah saat ini tidak hanya berfokus pada pelindungan kekayaan intelektual, tetapi juga memastikan inovasi dapat dikomersialisasikan dan dimanfaatkan secara nyata.

Dia mengatakan, hilirisasi riset harus menjadi agenda bersama antara pemerintah, kampus, dan industri agar hasil penelitian mampu menciptakan lapangan kerja, membuka peluang usaha, dan meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional.

“Kami ingin memastikan ada keberlanjutan dari riset, dari ide menjadi produk, lalu menjadi kekuatan ekonomi,” ujar Supratman.

Dalam kesempatan yang sama, Stella Christie selaku Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengatakan Indonesia perlu menghapus dikotomi antara riset, pasar, makna sosial, bahkan sains teknologi, ekonomi, dan matematika (STEM) dengan ilmu humaniora.

Menurutnya, di negara maju, penelitian dan implementasi berjalan beriringan, menjunjung kolaborasi lintas bidang ilmu, dan dipetakan dalam satu jalur inovasi yang jelas.

“Di manapun di dunia ini yang menjadi pemegang pasar adalah dosen dan peneliti karena merekalah yang memiliki waktu cukup untuk melakukan terobosan dan menciptakan pasar, bahkan yang awalnya tidak ada seperti AI,” kata Stella.

Stella menambahkan bahwa inovasi besar lahir dari peneliti yang memiliki research mindset dan keberanian membangun riset jangka panjang. Dia mencontohkan perkembangan akal imitasi (AI) yang pada awalnya hanya berupa gagasan riset sebelum akhirnya menjadi teknologi yang mengubah kehidupan masyarakat dunia.

Oleh karena itu, dia menilai kebebasan berpikir dan dukungan finansial menjadi faktor penting untuk menciptakan inovasi yang mampu memimpin pasar.

Baca juga artikel terkait HASIL PENELITIAN atau tulisan lainnya dari Auliya Umayna Andani

tirto.id - Flash News
Reporter: Auliya Umayna Andani
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Siti Fatimah