Menuju konten utama

BI Ramal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,1 Persen di 2025

Pertimbangan pertumbuhan tersebut didasari oleh membaiknya kinerja ekspor hingga akhir tahun, ekspansi belanja pemerintah, dan peningkatan investasi.

BI Ramal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,1 Persen di 2025
Gubernur BI, Perry Warjiyo beserta jajarannya dalam konferensi pers di Kantor BI, Jakarta, Rabu (18/12/2024). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi

tirto.id - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 akan mencapai sekitar 5,1 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, proyeksi tersebut berada di atas titik tengah kisaran 4,6-5,4 persen yang sebelumnya ditetapkan.

Adapun pertimbangan pertumbuhan tersebut didasari oleh membaiknya kinerja ekspor hingga akhir tahun, ekspansi belanja pemerintah, dan peningkatan investasi.

“Dengan realisasi triwulan II 2025 PDB sebesar 5,12 persen, dan arah pergerakan ekonomi ke depan, Bank Indonesia memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2025 akan berada di atas titik tengah 4,6-5,4 persen. Berarti sekitar 5,1 persen, bahkan bisa lebih tinggi,” katanya dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) 19-20 Agustus 2025.

Perry menjelaskan, perekonomian Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global akibat kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat.

Kebijakan itu, meski berdampak pada pelemahan perdagangan dunia, relatif lebih ringan bagi Indonesia karena tarif yang dikenakan hanya 19 persen—lebih rendah dibandingkan banyak negara lain. Hal ini membuat ekspor pertambangan, kelapa sawit, pertanian, dan perikanan masih berpotensi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain ekspor, faktor lain yang diperkirakan mendorong pertumbuhan adalah belanja pemerintah yang lebih ekspansif pada semester II 2025 serta peningkatan investasi, khususnya di sektor transportasi, pergudangan, industri berbasis ekspor, serta proyek strategis nasional.

Dari sisi kebijakan moneter, BI menegaskan ruang pelonggaran masih terbuka. Perry menyebut inflasi inti diproyeksikan tetap rendah di kisaran 2,5 persen, sementara kesenjangan output (output gap) masih negatif, sehingga penurunan suku bunga acuan BI Rate empat kali sepanjang tahun ini masih sejalan dengan kondisi perekonomian.

“Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, sejalan dengan tetap rendahnya prakiraan inflasi, dengan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Perry menambahkan, stabilitas nilai tukar rupiah terjaga berkat komitmen intervensi BI di pasar valuta asing, baik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Koordinasi dan sinergi pemerintah dan Bank Indonesia juga akan terus diperkuat di mana pemerintah akan terus meningkatkan belanja anggaran, sementara bank sentral akan tetap menempuh kebijakan penurunan suku bunga, ekspansi likuiditas, insentif makroprudensial, digitalisasi, hingga pendalaman pasar keuangan.

"Semuanya itu diarahkan untuk bersama pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," tegasnya.

Baca juga artikel terkait BANK INDONESIA atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Penulis: Hendra Friana
Editor: Dwi Aditya Putra