Menuju konten utama

BI: Bunga Kredit Himbara-BPD Sudah Turun, Bank Swasta Malah Naik

BI sebut bunga kredit baru di segmen korporasi, komersial, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sudah turun.

BI: Bunga Kredit Himbara-BPD Sudah Turun, Bank Swasta Malah Naik
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (tengah) didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kedua kiri) dan para Deputi Gubernur Juda Agung (kiri), Doni P Joewono (kedua kanan) dan Aida S Budiman bersiap menyampaikan keterangan pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Selasa (18/4/2023). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/hp.

tirto.id - Bank Indonesia (BI) mencatat penurunan suku bunga kredit mulai terlihat di sejumlah kelompok perbankan, meski belum merata di seluruh segmen.

Deputi Gubernur BI Juda Agung menegaskan, hingga kini bank umum swasta nasional (BUSN) masih menjadi kelompok yang belum menurunkan bunga kredit, berbeda dengan bank BUMN, BPD, dan kantor cabang bank asing (KCBA) yang sudah melakukan penyesuaian.

"Kalau kita lihat kelompok banknya, di BUMN, BPD, dan KCBA sudah menurunkan suku bunga kredit. Tapi bank umum swasta nasional masih mengalami kenaikan," kata Juda dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode 19–20 Agustus 2025.

Ia mengakui transmisi kebijakan suku bunga acuan BI ke perbankan saat ini tak secepat periode-periode penurunan sebelumnya. Meski demikian, data terbaru menunjukkan adanya tanda-tanda penurunan, khususnya pada bunga kredit baru di segmen korporasi, komersial, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Rinciannya, bunga kredit korporasi turun 27 basis poin dari 7,58 persen menjadi 7,31 persen, kredit komersial turun 9 basis poin dari 8,35 persen menjadi 8,26 persen, sementara kredit UMKM turun 5 basis poin dari 11,01 persen menjadi 10,86 persen. Namun, suku bunga kredit konsumsi masih belum bergerak turun.

Dari sisi pendanaan, bunga simpanan (DPK) juga turun 10 basis poin dari 4,85 persen menjadi 4,75 persen antara Juni dan Juli. Dengan kondisi likuiditas perbankan yang masih longgar—loan to deposit ratio (LDR) berada di level 72,08 persen—serta percepatan belanja pemerintah di semester II, BI optimistis transmisi kebijakan moneter akan semakin kuat ke depan.

"Kami optimis apa yang kita lakukan, baik melalui penurunan BI rate maupun penyediaan likuiditas, akan tertransmisi dengan lebih baik di semester II tahun ini," ujar Juda.

Baca juga artikel terkait BANK INDONESIA atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Penulis: Hendra Friana
Editor: Dwi Aditya Putra