tirto.id - Prosesi Konklaf 2025 untuk memilih paus baru, telah dimulai pada Rabu, 7 Mei 2025, di Kapel Sistina, Vatikan. Momen ini menjadi babak penting untuk memilih Uskup Roma sekaligus pemimpin Katolik dunia, penerus Puas Fransiskus yang wafat pada 21 April 2025.
Vatikan saat ini memasuki masa sede vacante, yakni periode kekosongan Takhta Kepausan. Selama masa ini, seluruh otoritas kepausan dihentikan sementara hingga terpilihnya pemimpin baru Gereja Katolik. Sede vacante kali ini menjadi penanda dimulainya proses pemilihan Paus ke-267.
Sebanyak 133 kardinal pemilih dari berbagai negara, termasuk Kardinal Ignatius Suharyo dari Indonesia, memasuki konklaf. Ini meneruskan tradisi berusia ratusan tahun yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Gereja.
Konklaf berlangsung tertutup. Para kardinal dilarang berkomunikasi dengan dunia luar, guna menjaga netralitas, kerahasiaan, dan kekhusyukan. Konklaf pada dasarnya tidak memiliki batas waktu tertentu. Proses pemungutan suara akan terus dilakukan hingga salah satu kandidat memperoleh 2/3 suara dari total pemilih yang hadir.
Durasi Paling Cepat Pengumuman Hasil Konklaf
Durasi konklaf tercepat dalam sejarah terjadi pada 1503, yang memunculkan Paus Julius II sebagai pemimpin Katolik dunia ketika itu, menurut Vatican News. Tidak sampai hitungan hari, proses terpilihnya Paus Julius II diperkirakan hanya berlangsung kurang dari 10 jam.
Catholic Company menyebutkan, konklaf 1503 bisa berlangsung cepat, lantaran sosok Giuliano della Rovere (nama asli Paus Julius II), merupakan kandidat dengan dukungan kuat. Banyak kardinal kala itu telah setuju untuk memilihnya sebelum konklaf berlangsung.
Paus Julius II lantas terpilih menggantikan Paus Pius III, yang sebelumnya menjadi Uskup Roma dengan periode yang juga relatif singkat, yakni selama 26 hari.
Durasi Paling Lama Pengumuman Hasil Konklaf
Konklaf terlama dalam sejarah berlangsung selama 2 tahun 9 bulan. Momen ini terjadi di Viterbo, Italia, antara tahun 1268 hingga 1271. Gregorious X terpilih sebagai paus dalam konklaf ini.
Setelah wafatnya Paus Klemens IV, para kardinal mengalami kebuntuan selama hampir tiga tahun, akibat perbedaan politik, khususnya antara kubu Prancis dan Italia. Saat itu, belum ada aturan konklaf yang ketat sehingga para kardinal bebas keluar-masuk dan terpengaruh tekanan eksternal.
Akhirnya, masyarakat Viterbo mengambil langkah drastis. Mereka mengurung para kardinal di Istana Kepausan, memotong pasokan makanan, dan bahkan membongkar atap bangunan.
Tekanan tersebut membuahkan hasil. Pada September 1271, Teobaldo Visconti, seorang Fransiskan yang saat itu sedang dalam misi di Tanah Suci, dipilih sebagai Paus dan mengambil nama Gregorius X.
Sebagai respons atas pengalaman tersebut, Gregorius X meresmikan aturan konklaf pada Konsili Lyons II tahun 1274.
Inti dari Lyons II ialah selama masa pemungutan suara para kardinal harus tetap dalam pengurungan, proses pemungutan suara dilakukan secara teratur, dan pelarangan intervensi dari luar. Prinsip-prinsip tersebut menjadi dasar tata laksana konklaf hingga hari ini.
Prediksi Kapan Pengumuman Paus Baru Hasil Konklaf 2025
Menilik yang terdekat, Konklaf 2005 yang memilih Paus Benediktus XVI dan Konklaf 2013 yang menghasilkan Paus Fransiskus, masing-masing berlangsung selama dua hari. Konklaf 2025 diperkirakan akan berlangsung tak jauh berbeda dengan 2 konklaf terbaru.
Namun demikian, lamanya proses tetap bergantung pada dinamika dan kesepakatan internal di antara para kardinal.
Dalam pemilihan penerus Takhta Suci kali ini, ada sejumlah nama yang sering disebut sebagai kandidat terkuat, antara lain: Kardinal Pietro Parolin (Italia), Sekretaris Negara Vatikan; Kardinal Luis Antonio Tagle (Filipina), Mantan Uskup Agung Manila. Lalu Kardinal Peter Erdo (Hongaria), Uskup Agung Budapest, Peter Kodwo Appiah Turkson (Ghana), serta sejumlah kandidat lain.
Konklaf pemilihan Paus 2025 diawali dengan Misa Kudus Pro Eligendo Romano Pontifice di Basilika Santo Petrus pada Rabu (7/5/2025) pukul 10.00 waktu setempat (15.00 WIB). Misa dipimpin oleh Dewan Kardinal sebagai bentuk permohonan tuntunan Roh Kudus dalam pemilihan paus yang baru.
Konklaf kemudian dilanjutkan pada pukul 16.30 waktu Roma (21.30 WIB), diawali dengan prosesi para kardinal elektor dari Pauline Chapel menuju Kapel Sistina.
Setibanya di Kapel Sistina, setiap kardinal meletakkan tangan di atas Kitab Suci dan mengucapkan sumpah menjaga kerahasiaan.
Setelah seluruh peserta masuk, Master of Papal Liturgical Ceremonies mengucapkan seruan “Extra omnes!” Hal itu merupakan tanda bagi semua orang selain para pemilih untuk meninggalkan ruangan. Pintu kapel pun dikunci, menandai dimulainya pemungutan suara.
Sesuai kebijakan para kardinal, pemungutan suara pertama dapat dilakukan pada hari yang sama. Selanjutnya, jika belum tercapai hasil, akan digelar empat putaran pemungutan suara setiap hari, yaitu dua di pagi hari dan dua di sore hari.
Setelah setiap putaran selesai, surat suara akan dibakar. Asap yang mengepul dari cerobong Kapel Sistina menjadi penanda bagi dunia. Asap hitam berarti belum ada hasil, sementara asap putih menjadi tanda bahwa paus baru telah terpilih.
Apabila selama tiga hari berturut-turut tidak tercapai kesepakatan, para kardinal diperkenankan mengambil waktu jeda selama satu hari.
Penulis: Febriyani Suryaningrum
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id







































