Menuju konten utama

AS Kirim Armada Besar ke Teluk, Siap Serang Iran?

Amerika Serikat mengirimkan armada Angkatan Laut dalam jumlah besar ke wilayah Teluk dan dikaitkan dengan pengawasan terhadap Iran.

AS Kirim Armada Besar ke Teluk, Siap Serang Iran?
Ilustrasi - Seorang pelaut minum sambil bersiaga diantara pesawat yang berada di kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat USS Carl Vinson, setelah berlabuh di Danang, Vietnam, Senin (5/3). ANTARA FOTO/REUTERS/Kham

tirto.id - Amerika Serikat (AS) mengerahkan armada besar ke wilayah Teluk. Menurut Presiden AS Donald Trump, pengiriman armada perang itu dilakukan untuk berjaga-jaga terkait situasi di Iran.

Dinukil dari CNA, pejabat AS yang enggan disebut identitasnya menyatakan bahwa armada yang dikirim ke Teluk itu termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan beberapa kapal perusak berpeluru kendali. Armada ini disebut akan tiba di teluk dalam beberapa hari ke depan.

Armada perang ini dilaporkan telah bermanuver dari Laut Cina Selatan menuju Timur Tengah. Selain berjaga di Teluk, pejabat AS juga mengatakan bahwa armada itu telah diperintahkan untuk menjaga sistem pertahanan udara tambahan di Timur Tengah.

Pengerahan armada telah dikonfirmasi oleh Donald Trump sendiri pada Kamis (22/1). Dalam keterangannya sebelum kembali ke AS dari pertemuan di Davos, Swiss, Trump menyebut pihaknya tengah "mengawasi Iran".

"Kami mungkin tak perlu menggunakannya ... kami memiliki banyak kapal yang menuju ke arah itu, untuk berjaga-jaga, kami memiliki armada besar menuju ke sana, dan kita akan melihat apa yang terjadi," kata Trump kepada wartawan di Air Force One, dikutip dari Aljazeera.

Dalam keterangannya itu, Trump mengaku bahwa armada perang yang dikirim ke Teluk adalah tindakan berjaga-jaga. Ia sendiri mengaku "lebih suka jika tak terjadi apa-apa" di Teluk, walaupun tetap saja ia mengirimkan armada perang ke wilayah itu.

Sebelumnya, ketegangan di kawasan Teluk sempat tampak mereda setelah Trump menarik ancamannya ke Iran. Trump menyebut ancaman invasi militer ke Iran urung dilakukan karena pemerintahan Iran batal mengeksekusi pengunjuk rasa yang ditangkap.

Namun, pada Rabu (21/1), Trump berbicara kepada CNBC bahwa ancaman tetap berlaku jika Teheran mengaktifkan kembali program nuklirnya. Ia menyatakan bahwa Iran tak boleh memiliki program nuklir.

"Jika mereka melakukannya, itu [serangan militer] akan terjadi lagi," kata Trump, merujuk pada serangan AS ke fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 lalu.

Serangan AS ke fasilitas nuklir Iran pada terjadi pada Juni 2025 lalu di tengah perang 12 hari Iran vs Israel. Saat itu adalah terakhir kali AS mengerahkan armada perangnya di Teluk. Kini, pengerahan tersebut terulang.

Iran Siap Membalas Jika Diserang

Di sisi lain, Iran tetap bersikeras akan membalas AS jika serangan militer betulan dilakukan. Pada Selasa (20/1), Menteri Luar Negeri Iran menulis opini di Wall Street Journal dan menyatakan bakal "melawan dengan semua yang kami punya" jika diserang AS.

"Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak segan-segan membalas dengan segala yang kami punya jika kembali diserang," tulis Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Dalam keterangan tersebut, Araghchi menyatakan bahwa peringatan itu tidak ia maksudkan sebagai ancaman, melainkan "kenyataan yang saya rasa perlu disampaikan secara eksplisit, karena sebagai diplomat dan veteran, saya benci peperangan".

Araghchi juga memastikan bahwa serangan AS ke Iran akan menjadi konflik berkepanjangan.

"Konfrontasi habis-habisan pasti akan menjadi ganas dan berlarut-larut, jauh lebih lama dari estimasi waktu fiktif yang coba dijajakan Israel dan proksinya ke Gedung Putih," tulisnya.

"Hal ini pasti akan melanda wilayah yang lebih luas dan berdampak pada masyarakat umum di seluruh dunia," tambahnya.

Sementara itu, opini yang ditulis Araghchi di Wall Street Journal tersebut dibuka dengan klarifikasi otoritas Iran tentang unjuk rasa yang meluas secara nasional di sana selama berbulan-bulan. Ia mengklaim unjuk rasa berlangsung damai hingga sejumlah kelompok menginfiltrasi dan membuatnya jadi ganas.

Hal itu, jelas Araghchi, membuat Teheran melakukan pembatasan informasi dari dan ke Iran. Namun, hal ini pula yang kemudian menjadikan situasi di Iran begitu berkabut bagi dunia luar.

Kantor berita aktivis HAM Iran di AS (HRANA) menyatakan bahwa mereka telah memverifikasi 4.519 kematian akibat unjuk rasa. Sebanyak 4.251 di antaranya adalah pengunjuk rasa dan jumlahnya diperkirakan masih akan meningkat.

Sedangkan, seorang pejabat Iran memberikan pernyataan ke Reuters bahwa jumlah korban tewas terkait unjuk rasa hingga Minggu (18/1) telah mencapai 5.000 orang, termasuk 500 aparat keamanan. Namun, seluruh jumlah korban hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen.

Baca juga artikel terkait INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar