tirto.id - Contoh amanat pembina upacara hari senin kali ini mengangkat tema "Menghargai Orang Lain". Amanat pembina merupakan salah satu bagian penting dari upacara bendera di sekolah tingkatan SD, SMP, maupun SMA sederajat. Amanat pembina upacara tentang menghargai orang lain ini biasanya berisi pesan tentang pentingnya empati dan rasa hormat yang bisa jadi bahan refleksi mendalam bagi seluruh peserta didik.
Dalam upacara bendera, amanat pembina biasanya dibawakan sesudah sesi “pembacaan teks janji siswa” atau sebelum “menyanyikan lagu wajib nasional”. Amanat merupakan salah satu acara pokok dalam upacara bendera. Hal itu diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) 22/2018 tentang Pedoman Upacara Bendera di Sekolah.
Amanat dibawakan oleh pembina yang notabene merupakan pejabat pengatur upacara. Dalam konteks tersebut, pembina bisa berasal dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, atau bahkan tamu undangan.
Tema Amanat Pembina Upacara: Pentingnya Menghargai Orang Lain
Tema menghargai orang lain merupakan salah satu topik krusial yang sangat relevan untuk dibawakan dalam upacara bendera. Oleh karenanya, pembina bisa menyiapkan tema ini untuk upacara sekolah yang wajib dilaksanakan di hari Senin, peringatan Kemerdekaan RI, atau hari besar nasional lainnya sebagai upaya memperkuat kerukunan serta empati antarwarga sekolah.
Menghargai orang lain pada dasarnya adalah sikap mengakui, menghormati, dan memberikan apresiasi terhadap eksistensi, martabat, serta hak-hak individu lain sebagai sesama manusia. Sikap ini tumbuh dari sebuah kesadaran mendalam bahwa setiap orang memiliki nilai yang setara tanpa memandang perbedaan latar belakang, pendapat, maupun status sosial. Secara lebih mendalam, sikap ini mewujud dalam bentuk penghormatan terhadap martabat melalui tutur kata yang sopan agar tidak merendahkan perasaan orang lain.
Selain itu, menghargai orang lain juga mencakup penerimaan atas perbedaan atau toleransi terhadap keberagaman pendapat, keyakinan, dan budaya yang ada di lingkungan sekolah. Hal ini juga melibatkan pemberian apresiasi secara aktif, seperti memberikan pujian atas keberhasilan teman atau sekadar menjadi pendengar yang baik. Di sisi lain, sikap menghargai juga berarti memahami dan menghormati batasan pribadi orang lain, baik itu terkait ruang fisik, waktu, maupun privasi mereka.
Sikap menghargai orang lain ini menjadi sangat penting karena merupakan kunci utama dalam menciptakan harmoni, mencegah konflik, serta membangun relasi sosial yang sehat dan tahan lama. Hal ini sejalan dengan arah pendidikan karakter dalam Kurikulum Merdeka yang bertujuan membentuk watak manusia yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab.
Contoh Naskah Amanat Pembina Upacara tentang Menghargai Orang Lain
Amanat upacara bendera bisa menjadi medium untuk menerapkan pendidikan berkarakter, guna menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menghargai sesama di lingkungan sekolah. Terlebih upacara umumnya wajib diikuti seluruh peserta didik maupun para pengajar, serta unsur pendidikan terkait, sehingga pesan dalam teks pembina upacara ini dapat tersampaikan secara menyeluruh.
Pembina, baik guru maupun unsur lainnya, bisa menanamkan nilai-nilai empati dan penghormatan yang menjadi kunci terciptanya lingkungan belajar yang harmonis. Berikut ini contoh naskah teks pembina upacara yang bisa digunakan untuk menyampaikan amanat bertema ‘menghargai orang lain’:
Contoh Pertama
"Menanam Respek, Menuai Martabat"Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi, dan salam sejahtera bagi kita semua.
Yang saya hormati Bapak Kepala Sekolah, Bapak/Ibu Guru serta staf tata usaha, dan yang Bapak banggakan, seluruh siswa-siswi sekalian.
Pertama-tama, marilah kita memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas izin dan karunia-Nya, kita dapat berkumpul di lapangan ini untuk melaksanakan upacara bendera dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apa pun.
Anak-anakku sekalian yang Bapak cintai,
Pada kesempatan yang berharga ini, Bapak ingin berbicara tentang sebuah fondasi karakter yang sangat mendasar namun sering kali terlupakan di tengah keriuhan aktivitas sekolah kita, yaitu tentang nilai menghargai orang lain. Kita sering kali terjebak dalam pemikiran bahwa untuk terlihat dominan, hebat, atau menjadi pusat perhatian, kita harus merendahkan orang di sekitar kita. Padahal, martabat seseorang justru terpancar dari sejauh mana ia mampu memuliakan orang lain, bukan seberapa pintar ia mencari celah untuk menghina.
Menghargai orang lain sebenarnya adalah bentuk penghargaan terhadap diri kita sendiri. Ketika kalian mampu menjaga lisan dari ejekan, saat kalian memilih untuk mendengarkan ketika teman sedang berbicara, atau ketika kalian menunjukkan rasa hormat kepada bapak dan ibu guru serta staf di sekolah ini, kalian sedang membangun citra sebagai pribadi yang dewasa dan berkelas. Tidak ada kehormatan dalam ejekan, dan tidak ada kemuliaan dalam perilaku perundungan atau bullying. Sebaliknya, sikap santun dan kemampuan untuk berempati adalah tanda bahwa kalian memiliki jiwa yang besar.
Oleh karena itu, marilah kita mulai membudayakan sikap saling menghargai dalam setiap interaksi di sekolah ini. Jangan menunggu orang lain menghargai kita terlebih dahulu, namun mulailah dari diri kita sendiri untuk menebar senyum, menggunakan kata-kata yang menyejukkan, dan menghormati setiap perbedaan yang ada di antara kita. Jadikanlah sekolah ini bukan hanya tempat untuk mengejar nilai akademis, tetapi juga tempat di mana setiap orang merasa aman, nyaman, dan diakui keberadaannya.
Demikian amanat singkat yang dapat Bapak sampaikan. Semoga apa yang Bapak sampaikan hari ini dapat mengetuk hati kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bijak dalam menghargai sesama manusia.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Contoh Kedua
"Kekuatan Empati di Lingkungan Sekolah"Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi, dan salam sejahtera bagi kita semua.
Yang saya hormati Bapak Kepala Sekolah, Bapak/Ibu Guru serta staf tata usaha, dan yang Bapak banggakan, seluruh siswa-siswi sekalian.
Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas izin-Nya kita dapat berdiri bersama di sini, menghirup udara pagi yang segar, dan menjalankan kewajiban kita sebagai warga sekolah dalam upacara bendera dengan penuh khidmat.
Anak-anakku sekalian yang Bapak banggakan,
Melanjutkan apa yang sering kita bahas mengenai karakter, pagi ini Bapak ingin menitipkan sebuah pesan tentang pentingnya melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Menghargai sesama bukan sekadar soal sopan santun formal, melainkan soal kemampuan kita untuk berempati. Sering kali tanpa sadar kita menyakiti teman dengan komentar-komentar yang kita anggap remeh, atau kita mengabaikan keberadaan orang-orang di sekitar kita karena merasa diri kita lebih penting. Padahal, setiap orang yang kalian temui di sekolah ini, mulai dari teman sebangku hingga petugas kebersihan, sedang berjuang dengan ceritanya masing-masing, dan mereka semua layak mendapatkan penghormatan yang sama.
Kehebatan seseorang tidak pernah diukur dari seberapa banyak ia bisa menindas atau membuat orang lain merasa kecil. Justru, orang yang paling kuat adalah mereka yang mampu merangkul perbedaan dan memberikan ruang bagi orang lain untuk merasa dihargai. Saat kalian memilih untuk tidak ikut tertawa ketika ada teman yang melakukan kesalahan, atau saat kalian dengan tulus memberikan apresiasi atas keberhasilan orang lain, di sanalah kalian sedang menunjukkan kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya. Menghargai orang lain berarti kita menyadari bahwa kita semua adalah bagian dari satu keluarga besar yang harus saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.
Bapak berharap, semangat menghargai ini tidak hanya berhenti di lapangan upacara ini saja, tetapi terbawa hingga ke dalam ruang kelas, ke kantin, dan ke dalam pergaulan kalian sehari-hari. Mari kita hapus budaya mengejek dan kita ganti dengan budaya mendukung. Ingatlah bahwa dunia ini sangat luas, dan keberhasilan kalian di masa depan sangat bergantung pada bagaimana kalian membangun hubungan baik dengan orang lain. Jika kalian terbiasa menghargai orang lain sekarang, maka di masa depan, kehormatan dan kesuksesan akan datang menghampiri kalian dengan sendirinya.
Demikian amanat yang dapat Bapak sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga Tuhan senantiasa membimbing kita untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan penuh kasih sayang terhadap sesama.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Contoh Ketiga
"Menghargai Waktu dan Pengorbanan Sesama"Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi, dan salam sejahtera bagi kita semua.
Yang saya hormati Bapak Kepala Sekolah, Bapak/Ibu Guru serta staf tata usaha, dan yang Bapak banggakan, seluruh siswa-siswi sekalian.
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat rahmat dan kasih-Nya, kita semua dapat berkumpul kembali di lapangan ini dalam keadaan sehat untuk melaksanakan upacara bendera dengan penuh kedisiplinan.
Anak-anakku seluruh siswa yang Bapak cintai,
Sering kali dalam keseharian kita di sekolah, kita menganggap bahwa menghargai orang lain hanyalah sebatas tidak menghina secara fisik atau lisan. Namun, ada satu bentuk penghargaan yang jauh lebih mendalam dan sering kita abaikan, yaitu menghargai waktu, tenaga, dan dedikasi yang diberikan orang lain untuk kita. Setiap kali Bapak dan Ibu Guru berdiri di depan kelas untuk mengajar, atau setiap kali petugas sekolah merapikan lingkungan tempat kalian belajar, di sana ada pengorbanan waktu dan energi yang tulus. Menghargai mereka berarti memberikan perhatian penuh, menjaga ketertiban, dan tidak membiarkan upaya mereka terbuang sia-sia karena sikap acuh tak acuh kita.
Sikap menghargai ini harus dimulai dari hal-hal kecil yang nyata. Ketika temanmu sedang berbicara di depan kelas atau saat diskusi kelompok, bentuk penghargaan tertinggi yang bisa kamu berikan adalah dengan menyimak tanpa memotong pembicaraannya. Ketika ada peraturan sekolah yang ditegakkan, mematuhinya adalah bentuk penghargaanmu terhadap sistem dan orang-orang yang bekerja keras menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Jangan sampai kita menjadi pribadi yang egois, yang hanya ingin didengar namun enggan mendengarkan, atau hanya ingin dilayani namun enggan menghormati proses yang ada.
Bapak ingin kalian memahami bahwa orang-orang besar di luar sana sukses bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi karena mereka tahu cara memuliakan orang lain yang telah membantu proses hidup mereka. Mari kita jadikan sekolah ini tempat yang penuh rasa hormat, di mana kita saling menghargai waktu dan kerja keras satu sama lain. Dengan membiasakan diri bersikap apresiatif, kalian sedang membentuk karakter yang akan membuat kalian disegani di mana pun kalian berada nantinya. Jadilah generasi yang tidak hanya pintar secara otak, tetapi juga luhur dalam budi pekerti.
Demikian amanat yang Bapak sampaikan pada pagi hari ini. Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk terus memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih menghargai setiap pengorbanan sesama.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Penulis: Satrio Dwi Haryono
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id






































