Menuju konten utama

Amanat Pembina Upacara Hari Senin: Cara Komunikasi dengan Guru

Simak contoh amanat pembina upacara hari Senin mengenai cara komunikasi murid dengan guru, baik secara langsung maupun lewat pesan teks.

Amanat Pembina Upacara Hari Senin: Cara Komunikasi dengan Guru
Ilustrasi Upacara Sekolah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Contoh amanat pembina upacara hari Senin dapat menjadi rujukan bagi para guru. Kali ini membahas mengenai cara komunikasi murid dengan guru yang tidak lepas dari etika dan adab.

Guru tidak hanya sebagai pemberi ilmu, tetapi juga memiliki peran sebagai pembimbing yang berkontribusi besar dalam membentuk karakter siswa. Dengan mengedepankan etika, murid dapat lebih berkesadaran untuk menghormati dan menghargai jasa seorang guru.

Pendidikan karakter itu tidak hanya disampaikan di ruang kelas. Saat upacara juga merupakan waktu yang tepat untuk mengingatkan murid-murid mengenai hal penting yang saat ini mulai dilupakan, yakni etika berkomunikasi dengan guru.

Khususnya yakni saat sesi amanat pembina upacara. Amanat pembina upacara merupakan salah satu susunan dalam pelaksanaan upacara yang biasanya disampaikan oleh kepala sekolah, guru, dan pihak lainnya.

Perlu diketahui, adab terhadap guru menjadi fondasi hubungan yang harmonis antara siswa dan guru. Dengan teks amanat pembina upacara mengenai cara komunikasi dengan guru, murid diingatkan untuk menunjukkan sikap sopan santun.

Pesan yang terkandung di dalamnya penting guna menanamkan budaya belajar yang positif dan saling menghargai di lingkungan sekolah. Tak kalah penting, yakni memupuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga berbudi pekerti luhur.

Lalu, bagaimana contoh amanat pembina upacara mengenai cara komunikasi dengan guru? Simak contoh teksnya berikut ini untuk dijadikan sebagai referensi.

Contoh Amanat Pembina Upacara Tentang Cara Komunikasi dengan Guru

Membangun komunikasi dalam hal pendidikan di abad ke-21 antara murid dan guru memang menjadi tantangan tersendiri. Ini karena perbedaan generasi yang cukup kontras antara keduanya.

Di satu sisi, guru ingin mengedepankan nilai-nilai etika dan adab. Namun, di sisi lain, murid juga ingin melihat gurunya bukan sebagai sosok yang ditakuti, melainkan dihormati.

Beberapa gaya mengajar sebagian guru menerapkan prinsip agar lebih dekat dengan para murid. Hal ini cukup menimbulkan semakin samarnya batas dan pengetahuan mengenai etika.

Untuk itulah, mengingatkan tentang cara komunikasi murid dengan guru menjadi hal yang perlu dilakukan. Tidak lain yakni agar murid mengerti mengenai etika dan adab terhadap guru, dimulai dari cara berkomunikasi.

Berikut ini contoh amanat pembina upacara tentang cara komunikasi dengan guru yang dapat dibacakan saat upacara hari Senin:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. (atau cukup dengan “Selamat Pagi”)

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya, kita semua dapat berkumpul di sini dalam rangka mengikuti upacara bendera hari Senin tanpa halangan apa pun.

Anak-anak, siswa-siswi kelas X hingga XII yang saya cintai,

Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan pentingnya adab dan etika murid terhadap guru. Hal ini berlaku tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di luar sekolah.

Sebagaimana kita ketahui, adab merupakan aturan tidak tertulis yang penuh dengan kebaikan. Ini berguna sebagai cerminan nilai diri sekaligus bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik dan terhormat.

Pada kesempatan kali ini, marilah kita bersama-sama untuk mengingat kembali bagaimana etika seorang murid terhadap guru. Khususnya yakni dalam hal berkomunikasi.

Pada dasarnya, komunikasi itu penting untuk dilakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dalam konteks antara guru dan murid, komunikasi dapat memudahkan murid untuk memahami materi pembelajaran.

Murid tidak lagi harus merasa takut untuk bertanya kepada guru mengenai materi yang belum dipahami. Sebaiknya, pertanyaan itu pun ditanyakan kepada guru secara langsung jika sulit dipahami sendiri dan teman.

Namun, dalam relasi antara guru dan murid, terdapat aturan tidak tertulis untuk saling menghargai. Murid berkewajiban untuk menghormati guru karena guru telah memberikan ilmu dan telah membimbing. Di sisi lain, guru pun berkewajiban untuk menghargai murid, menghargai usahanya dalam mencapai pengetahuan sekaligus menghargai pribadinya sebagai manusia.

Ketika menghendaki adanya komunikasi, sebaiknya seorang murid tetap mengedepankan kesopanan, berbicara dengan bahasa yang baik, disertai dengan gestur tubuh yang juga santun. Hal ini setidaknya menjadi sesuatu yang standar di masyarakat Indonesia.

Jika komunikasi itu dilakukan melalui pesan teks, misal lewat WhatsApp, usahakan agar murid menghubungi guru tidak di waktu istirahat atau malam hari. Dahului pesan dengan salam, perkenalan, dan maksud.

Kemudian, gunakan bahasa yang sopan dengan ketikan yang rapi dan mudah dipaham. Beberapa guru tidak suka pesan yang bertele-tele, maka sampaikan langsung inti pertanyaan.

Sebagai pengingat juga, ketika menghubungi guru, ada baiknya agar lewat pesan teks saja. Tidak perlu melalui telepon secara langsung jika bukan pihak guru yang menelepon terlebih dahulu karena bisa jadi itu tidak sopan.

Anak-anak SD/SMP/SMA (sebutkan nama sekolah) yang saya banggakan,

Marilah untuk senantiasa menjaga etika dan adab karena itu mencerminkan nilai diri kita sebagai manusia. Jika kita menerapkan adab yang baik, kelak kita pun akan diperlakukan baik oleh orang lain.

Sekian amanat yang bisa saya sampaikan. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. (atau cukup dengan “Selamat Pagi”)

Pembaca dapat mengakses artikel sejenis mengenai amanat pembina upacara melalui tautan berikut ini:

Kumpulan Artikel Amanat Pembina Upacara

Baca juga artikel terkait AMANAT PEMBINA UPACARA atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - Edusains
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo