tirto.id - Di selatan Senegal, Sungai Casamance membelah hutan bakau dan dataran banjir yang subur. Di sana bermukim suku Jola atau Diola, etnis yang bekerja sebagai petani padi dan memiliki agama tradisional Awasena yang menyembah Emitai, dewa pencipta dan penguasa hujan.
Dari daerah inilah pada paruh pertama abad ke-20, Aline Sitoé Diatta, perempuan muda dengan teologi agraria radikal bangkit menantang imperium kolonial Prancis. Kemunculannya tak bisa dilepaskan dari gejolak Perang Dunia II saat Afrika Barat Prancis berada di bawah rezim Vichy Prancis yang rakus. Tekanan ekonomi untuk memasok pangan ke metropole, wajib militer paksa, dan pajak yang menindas menciptakan krisis bagi masyarakat Jola.
Dalam perjalanannya, Aline dianggap nabi dan menawarkan jalan keselamatan melalui penolakan terhadap ekonomi yang ditawarkan kolonial Prancis.
Tradisi Kenabian dan Peran Gender
Istilah Awasena sering diterjemahkan sebagai “agama penuangan,” merujuk pada ritual libasi (menuangkan minuman) dengan anggur palem yang dituangkan ke tanah atau altar kuil sebagai sarana komunikasi dengan roh dan leluhur.
Berbeda dengan agama samawi yang berbasis teks, Awasena hidup melalui ritus agraria dan kewajiban komunal. Seturut Olga F. Linares dalam “African Rice (Oryza glaberrima): History and Future Potential” (2002), dalam teologi Jola, Emitai merupakan entitas tertinggi pencipta langit dan hujan. Hubungan manusia dengan Emitai bersifat perjanjian, di mana manusia wajib bekerja di sawah, mematuhi tabu leluhur, dan melakukan persembahan yang tepat.
Sebagai imbalan, Emitai memberi hujan untuk menyuburkan padi. Kekeringan atau wabah penyakit dipahami sebagai tanda bahwa perjanjian telah dilanggar, biasanya karena pengabaian ritual atau masuknya praktik asing yang mencemari tanah.
Dalam budaya Jola, tidak ada elemen yang lebih suci selain padi. Mereka meyakini padi memiliki roh dan harus diperlakukan dengan hormat melalui ritual sejak pembajakan hingga panen.
Padi dianggap anugerah langsung dari Emitai untuk menopang kehidupan, sehingga secara tradisional dilarang dijual demi keuntungan pribadi. Menjual padi dianggap merendahkan kesuciannya.
Malapetaka muncul ketika pemerintah kolonial Prancis memaksakan budidaya kacang tanah sebagai tanaman dagang utama. Kacang tanah diyakini bertentangan dengan Awasena sebab ditanam semata untuk uang, merusak kesuburan tanah, dan mendorong individualisme di atas kerja komunal. Kacang tanah dianggap polusi spiritual yang membuat Emitai menahan hujan.
Meskipun otoritas ritual sehari-hari seperti kepala kuil atau raja-imam biasanya dipegang laki-laki, sejarah agama Jola menyimpan tradisi panjang tentang orang-orang terpilih. Robert Baum dalam karyanya West Africa's Women of God (2016) menelusuri evolusi tradisi kenabian ini dan mencatat bahwa krisis kolonial membuka ruang bagi munculnya nabi perempuan.
Baum mencatat, sebelum Aline ada figur seperti Ratu Sibeth dari Siganar dan pejuang Jiïnaabo. Ratu Sibeth dikenal karena perannya mempertahankan tradisi dan menolak perubahan.
Pesan Kenabian dan Strategi Perlawanan
Aline Sitoé Diatta lahir sekitar 1920 di Kabrousse, desa di ujung barat daya Basse Casamance yang berbatasan dengan Guinea-Bissau. Ia menjadi yatim piatu dan dibesarkan pamannya, yang kemudian ditangkap otoritas Prancis karena pajak atau perselisihan administratif.
Kabrousse saat itu dikenal sebagai pusat perlawanan pasif, masyarakatnya teguh memegang tradisi Awasena. Namun tekanan ekonomi memaksa banyak pemuda merantau. Aline, yang mengalami cacat fisik berupa kepincangan, memilih meninggalkan desa.
Ia sempat bekerja di Ziguinchor sebagai buruh pelabuhan pengangkut karung kacang tanah. Ironis mengingat kelak ia menentang tanaman itu, sebelum melanjutkan perjalanan ke Dakar, pusat administrasi kolonial.
Di Dakar, ia tinggal di Médina, distrik pribumi yang padat dan miskin, terpisah dari kawasan Eropa di Plateau. Ia kemudian menikah dengan Alou Gaye Diatta dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga bagi keluarga Prancis, posisi yang membuatnya melihat langsung kelimpahan penjajah sementara rakyatnya menderita.
Tahun-tahun di Dakar, antara 1935–1941, Aline menyaksikan erosi budaya Afrika, dominasi Islam dan Kristen, serta penderitaan pribumi yang semakin parah dengan pecahnya Perang Dunia II. Dakar menjadi target strategis, sementara penduduk lokal diperas untuk mendukung Prancis.
Warsa 1941, Aline mulai mendengar suara-suara, entah saat menuju pasar atau dalam mimpi berulang. Suara itu mengidentifikasi diri sebagai Emitai dan memerintah agar kembali ke Casamance untuk menyelamatkan rakyat, menghentikan kekeringan dengan memulihkan jalan leluhur.
Meskipun awalnya ragu, Aline akhirnya menerima panggilan itu. Ia kembali ke Kabrousse dan mulai menyebarkan pesan Ilahi. Ia mengaitkan penderitaan masyarakat dengan kebijakan kolonial Prancis yang merampas padi, mengenakan pajak tinggi, memperkenalkan agama asing, dan memaksakan budidaya kacang tanah demi kepentingan ekonomi penjajah.
Aline menyerukan warga untuk menolak membayar pajak, menolak menanam kacang, serta tidak membantu administrasi kolonial lainnya. Ia mendirikan kuil dan memerintahkan desa-desa harus mengorbankan sapi hitam, lalu mengadakan perjamuan bersama.
Berita tentang keberhasilan ritual menyebar cepat. Hujan dilaporkan turun di wilayah yang mengikuti ajarannya, sementara daerah yang menolak tetap kering. Karisma Aline pun meluas, ribuan peziarah datang ke Kabrousse membawa persembahan dan mencari petunjuk. Ia menyebut dirinya sebagai “utusan” yang menyampaikan orakel Tuhan.
Salah satu bentuk perlawanan paling halus adalah reformasi kalender kerja. Aline menghidupkan kembali enam hari tradisional Jola, dengan hari ketujuh sebagai hari istirahat suci. Pada hari itu tidak ada aktivitas pertanian.
Bagi kolonial, pengurangan hari kerja berarti pengurangan hasil panen. Sedangkan bagi pengikut Aline, istirahat adalah kesalehan, dan pelanggarannya dianggap dosa besar yang mendatangkan murka Emitai.
Konsekuensi logis dari ajaran Aline adalah pembangkangan sipil. Ia melarang pembayaran pajak kepala dengan alasan tanah adalah milik Emitai dan orang kulit putih tidak berhak memajakinya. Ia juga menentang wajib militer dan kerja paksa.
Lebih jauh, ia memberdayakan perempuan pasar untuk memboikot penjualan hasil bumi kepada agen kolonial jika harga tidak adil atau barang akan disita. Gerakan ini efektif karena melibatkan perempuan yang memegang kendali atas distribusi pangan dan lumbung padi.
Karena karisma dan pengaruhnya, gerakan boikot ini semakin besar dan ditakuti oleh Pemerintah Prancis.
Antara Pahlawan Nasional dan Ikon Separatis
Pada 1942 hingga awal 1943, Casamance menjadi wilayah yang sulit dikendalikan oleh Prancis. Mereka melihat gerakan Aline sebagai ancaman politik yang dapat memengaruhi etnis lain dan mengganggu suplai beras yang krusial bagi Dakar dan Saint-Louis.
Kekerasan sporadis pun muncul, beberapa desa menyerang pos pajak atau menolak perekrutan tentara. Menurut Wilmetta Jesvalynn Toliver dalam buku AlineSitoe Diatta: Addressing Historical Silences Through Senegalese Culture (1999:207), walau Aline memberontak secara damai, administrator kolonial yang dipimpin Kolonel Sajous menuduhnya sebagai dalang.
Pada 8 Mei 1943, pasukan kolonial menyerbu Kabrousse dan mengepung rumah Aline. Ia keluar dengan tenang, sesuai ramalan yang sebelumnya ia sampaikan kepada pengikutnya, lalu ditangkap bersama suami dan para pembantunya.
Dalam interogasi, ia tetap berpegang pada narasi teologis. Ketika dituduh sebagai revolusioner, ia menjawab: “Saya hanyalah utusan Tuhan yang menampakkan diri kepada saya berkali-kali. Saya hanya menyampaikan orakel Tuhan.”
Ia menolak mengakui otoritas sekuler Prancis atas mandat spiritual yang ia terima. Setelah itu, ia dideportasi. Dari Casamance ia dibawa ke Gambia, lalu Kayes, dan akhirnya ke Timbuktu di tepi Sahara.
Di Timbuktu, kondisi penahanannya sangat buruk. Perubahan iklim dari hutan tropis ke gurun kering, isolasi budaya, serta diet penjara yang minim menghancurkan fisiknya. Ia menderita skorbut akibat kekurangan vitamin C dan malnutrisi parah.
Pada 22 Mei 1944, setahun setelah penangkapannya, Aline meninggal dunia. Kematiannya dirahasiakan, ia dikuburkan di makam tak bertanda, barang-barangnya disita, dan siapa pun dilarang menziarahinya.
Setelah kematiannya, Aline Sitoé Diatta memasuki “kehidupan kedua” dalam memori kolektif, menjadi sosok yang terus diperebutkan oleh berbagai kepentingan politik. Selama beberapa dekade setelah kemerdekaan Senegal pada 1960, namanya nyaris tak terdengar di luar Casamance.
Elite Wolof-Muslim di Dakar kurang tertarik pada figur nabi perempuan animis dari selatan. Namun, ketika konflik separatis meletus di Casamance pada 1980-an, negara mulai mengangkat Aline sebagai simbol persatuan.
Di bawah Presiden Abdou Diouf dan kemudian Abdoulaye Wade, ia dipromosikan sebagai “Pahlawan Nasional Senegal,” bahkan dijuluki “Joan of Arc dari Senegal”—pejuang anti-kolonial yang melawan Prancis demi kemerdekaan bangsa.
Langkah simbolis pun diambil. Feri utama yang menghubungkan Dakar dan Ziguinchor dinamai Aline Sitoé Diatta pada 2008, sebuah asrama putri di Universitas Cheikh Anta Diop dan stadion di Ziguinchor juga diberi namanya. Jasad dan makamnya sendiri tidak pernah ditemukan hingga kini.
“Para penjajah mengambil segalanya. Namun kami tetap menyimpan ingatannya dan keyakinan yang diwariskan kepada kami,” ungkap keponakannya, Mathurin Senghor Diatta, dikutip portal Modern Ghana.
Di sisi lain, Gerakan Kekuatan Demokratik Casamance (MFDC) mengklaim Aline sebagai ikon eksklusif mereka. Bagi ideolog seperti Pendeta Diamacoune Senghor, Aline adalah bukti bahwa orang Jola tidak pernah tunduk pada otoritas asing, baik Prancis maupun Senegal “Utara.”
Dalam narasi mereka, perlawanan Aline ditujukan untuk memulihkan kerajaan dan tradisi Jola. Dakar digambarkan sebagai penjajah baru yang menggantikan Prancis.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































