Menuju konten utama

Ada Faktor Nataru, Indeks Penjualan Riil Oktober Naik Jadi 4,3%

Dengan capaian indeks penjualan riil Oktober, penjualan eceran diperkirakan kembali meningkat 5,9 persen (yoy) menjadi di level 222,1.

Ada Faktor Nataru, Indeks Penjualan Riil Oktober Naik Jadi 4,3%
Warga membeli beras kemasan di salah satu supermarket Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (11/8/2025). ANTARA FOTO/Aditya Nugroho/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) Oktober 2025 tumbuh sebesar 4,3 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan IPR bulan sebelumnya yang hanya tumbuh 3,7 persen.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan penjualan kelompok barang budaya dan rekreasi serta makanan, minuman, dan tembakau yang masing-masing tumbuh 6,7 persen (yoy) dan 6,4 persen (yoy).

Secara bulanan (month to month/mtm), IPR dilaporkan naik 0,6 persen setelah pada bulan sebelumnya terkontraksi 2,4 persen (mtm) pada September 2025.

“Dipengaruhi oleh permintaan masyarakat menjelang persiapan HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional) Natal didukung oleh kelancaran distribusi,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (11/12/2025).

Kelompok yang tercatat meningkat sehingga menjadi pendorong pertumbuhan IPR Oktober secara bulanan di antaranya barang budaya dan rekreasi (2,4 persen); makanan, minuman, dan tembakau (1,1 persen); serta subkelompok sandang (2,0 persen).

Dengan capaian indeks penjualan riil Oktober tersebut, penjualan eceran diperkirakan kembali meningkat 5,9 persen (yoy) menjadi di level 222,1.

“Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan penjualan mayoritas kelompok, terutama perlengkapan rumah tangga lainnya (4,0 persen), barang budaya dan rekreasi (12,8 persen), suku cadang dan aksesori (15,4 persen), serta makanan, minuman, dan tembakau (8,2 persen),” jelas Ramdan.

Secara bulanan, IPR November diperkirakan mengalami pertumbuhan 1,1 persen. Berdasarkan kelompoknya, peningkatan diperkirakan terjadi pada mayoritas kelompok, terutama bahan bakar kendaraan bermotor yang mencapai 0,4 persen; perlengkapan rumah tangga lainnya meningkat 6,2 persen; dan subkelompok sandang meningkat 3,7 persen.

“Peningkatan tersebut sejalan dengan permintaan masyarakat menjelang persiapan HBKN Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang didukung oleh kelancaran distribusi,” tulis Survei Penjualan Eceran yang dirilis Bank Indonesia tersebut.

Sementara itu, penjualan eceran pada 3–6 bulan ke depan, yakni Januari–April 2026, diperkirakan mengalami penurunan. Hal ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Penjualan Januari dan April yang diperkirakan berada di level 157,2 dan 144,8. Angka tersebut lebih rendah dari periode Januari dan April 2025 yang masing-masing sebesar 167,7 dan 155,7.

“Penurunan IEP Januari 2026 disebabkan oleh permintaan masyarakat yang kembali normal pascaperiode HBKN Natal dan libur akhir tahun. Meski demikian, IEP Januari 2026 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir, dipengaruhi oleh tambahan permintaan untuk persiapan menjelang Ramadan 1447 H,” ungkap hasil survei tersebut.

Baca juga artikel terkait KONSUMSI RUMAH TANGGA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana