tirto.id - Setelah hampir satu bulan perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran, muncul wacana perundingan perdamaian kedua belah pihak. Beberapa negara menawarkan diri untuk menjadi mediator. Siapa saja mereka?
Perang yang terjadi di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 lalu berdampak tidak hanya pada negara-negara yang berseteru, namun juga pada negara-negara lain. Iran memutuskan untuk membatasi bahkan menutup total Selat Hormuz, jalur distribusi minyak yang penting di dunia.
Tak heran ketika muncul upaya mengakhiri perang dengan cara negosiasi damai, banyak negara yang ingin menjadi jembatan untuk Iran, AS, dan Israel.
3 Negara Akan Jadi Mediator AS-Iran
Berikut daftar negara yang disebut akan menjadi mediator untuk perdamaian AS-Iran:
1. Turki
Dikutip dari laman Iran International Senin (23/3/2026), Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa Turki akan menggunakan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk mendorong terciptanya perdamaian di Iran.Perang Iran vs AS-Israel tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, namun juga mengguncang ekonomi global, termasuk ekonomi domestik Turki sendiri.
Lonjakan harga energi akibat konflik menjadi salah satu tekanan utama, mengingat Turki sangat bergantung pada impor energi.
Erdogan secara konsisten mendorong penyelesaian melalui negosiasi dan memperingatkan bahwa konflik ini berisiko meluas menjadi perang regional yang lebih besar jika tidak segera dihentikan.
2. Mesir Sejak awal konflik, Mesir aktif melakukan pendekatan kepada berbagai pihak, termasuk Iran dan AS, dengan tujuan menjembatani perbedaan dan mendorong solusi damai.
Dikutip dari laman resmi Al Hurra Selasa (24/3/2026), strategi Kairo dalam menciptakan perdamaian berjalan dalam dua jalur utama. Pertama adalah dukungan politik kepada negara-negara Teluk yang terdampak konflik, sekaligus memperkuat solidaritas regional.
Kedua adalah peran sebagai mediator aktif yang tidak hanya bertujuan meredakan ketegangan, tetapi benar-benar menghentikan perang secara keseluruhan.
Dorongan Mesir untuk segera mengakhiri konflik juga sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Perang telah menekan sumber pemasukan utama negara, seperti Terusan Suez, pariwisata, remitansi, dan investasi asing.
Gangguan pada jalur pelayaran dan energi global berpotensi memperburuk kondisi ekonomi Mesir, sehingga stabilitas kawasan menjadi kepentingan langsung bagi Kairo.
3. Pakistan
Pakistan mencoba mengambil peran kunci sebagai mediator antara AS dan Iran dengan memanfaatkan posisi strategisnya baik dari sisi hubungan militer maupun politik.Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dilaporkan telah berbicara langsung dengan Presiden AS Donald Trump, sedangkan Perdana Menteri Muhammad Shehbaz Sharif juga menjalin komunikasi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Langkah ini menunjukkan bahwa Pakistan berusaha membuka jalur komunikasi tidak langsung di tengah kebuntuan hubungan resmi antara AS dan Iran.
Pakistan sendiri dianggap memiliki posisi unik sebagai mediator karena beberapa alasan seperti tidak menjadi target serangan Iran, memiliki hubungan baik dengan AS dan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, serta memiliki kedekatan historis dan sosial dengan Iran.
Bahkan, Pakistan disebut-sebut menawarkan ibu kotanya, Istanbul sebagai lokasi pertemuan potensial antara pejabat tinggi AS dan Iran.
“Pakistan menyambut dan sepenuhnya mendukung upaya yang sedang berlangsung untuk mengejar dialog guna mengakhiri perang di Timur Tengah, demi kepentingan perdamaian dan stabilitas di kawasan dan sekitarnya,” tulis PM Shehbaz Sharif di akun X @CMShehbaz.
“Dengan persetujuan AS dan Iran, Pakistan siap dan merasa terhormat menjadi tuan rumah untuk memfasilitasi pembicaraan yang bermakna dan konklusif untuk penyelesaian komprehensif konflik yang sedang berlangsung," lanjutnya.
Namun di balik itu, Pakistan juga memiliki kepentingan besar untuk meredakan konflik, karena sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk dan berisiko terdampak langsung jika perang meluas, seperti dilaporkan NBC News (24/3/2026).
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































