tirto.id - Harga minyak turun sekitar 4 persen pada Rabu (25/3/2026) seiring potensi gencatan senjata perang Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel. Gencatan senjata itu berpotensi meredakan gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah sebagai wilayah produsen utama.
Muncul laporan bahwa AS mengirimkan rencana 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri perang di antara mereka.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 4,89 dolar AS per barel atau 4,7 persen menjadi 99,60 dolar AS per barel pada pukul 03.35 GMT, setelah sempat menyentuh level terendah 97,57 per barel.
Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 3,54 dolar AS per barel atau 3,8 persen menjadi 88,81 dolar AS per barel, setelah sebelumnya jatuh hingga 86,72 dolar AS per barel.
Kedua acuan tersebut sebelumnya sempat naik hampir 5 persen pada Selasa (24/3/2026).
“Ekspektasi gencatan senjata sedikit meningkat dan aksi ambil untung mendorong pasar,” kata Kepala Atrategi Nissan Securities Investment Hiroyuki Kikukawa, dikutip dari Reuters, Rabu.
“Namun, prospek tetap tidak pasti terkait keberhasilan negosiasi, sehingga membatasi tekanan jual," imbuhnya.
Presiden AS Donald Trump mengatakan, negaranya membuat kemajuan dalam negosiasi untuk mengakhiri perang dengan Iran. Sementara itu, sebuah sumber mengonfirmasi bahwa Washington telah mengirim proposal penyelesaian 15 poin kepada Iran.
Channel 2 Israel melaporkan, AS mengupayakan gencatan senjata selama satu bulan untuk membahas rencana tersebut, yang mencakup pembongkaran program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun, sejumlah analis tetap skeptis terhadap kemajuan pembicaraan tersebut dan memperkirakan pasar akan tetap bergejolak. Analis pasar senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, mengatakan perkembangan di Timur Tengah akan tetap menjadi penggerak utama harga yang membuat harga minyak bergerak dalam rentang lebar dalam waktu dekat.
Perang tersebut hampir sepenuhnya menghentikan pengiriman minyak dan gas alam cair melalui selat tersebut yang biasanya mengalirkan sekitar seperlima pasokan gas dan minyak mentah dunia sehingga memicu gangguan pasokan terbesar yang pernah terjadi.
“Prospek pasar tetap ketat meskipun ada peluang jalan keluar dari perang,” kata Kepala Eiset Energi di MST Marquee Saul Kavonic.
“Bahkan jika gencatan senjata diterapkan minggu ini dan arus melalui Selat Hormuz kembali normal, belum jelas apakah seluruh produksi yang terhenti akan pulih sampai ada kejelasan lebih lanjut mengenai keberlanjutan gencatan senjata," sambungnya.
Pada Selasa, Perdana Menteri Pakistan Shenbaz Sharif mengatakan bersedia menjadi tuan rumah pembicaraan antara AS dan Iran. Iran juga memberi tahu Dewan Keamanan PBB dan Organisasi Maritim Internasional bahwa kapal “non-hostil” dapat melintasi Selat Hormuz jika berkoordinasi dengan otoritas Iran.
Meski demikian, serangan antara AS, Israel, dan Iran masih berlanjut. Sumber menyebut, Washington sedang bersiap mengirim lebih banyak pasukan ke kawasan tersebut.
Untuk mengimbangi gangguan di Selat Hormuz, ekspor minyak dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah milik Arab Saudi meningkat menjadi hampir 4 juta barel per hari pekan lalu, naik tajam dibanding sebelum perang, berdasarkan data pengapalan.
Di AS, persediaan minyak mentah, bensin, dan produk sulingan meningkat pekan lalu, menurut sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute.
Persediaan minyak mentah naik 2,35 juta barel pada pekan yang berakhir 20 Maret, persediaan bensin naik 528.000 barel, dan persediaan produk sulingan naik 1,39 juta barel dibandingkan pekan sebelumnya, kata sumber tersebut.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































