tirto.id - Harga minyak dunia kembali melanjutkan penguatan. Pada penutupan perdagangan Kamis waktu Amerika Serikat (AS) atau Jumat (13/3/2026) waktu Indonesia, minyak mentah acuan global Brent telah menembus level 100,46 dolar AS per barel, menjadi posisi tertingginya sejak Agustus 2022.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dipatok di harga 95,73 dolar AS per barel, tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Mengutip BBC, kenaikan harga minyak mentah dunia ini terjadi setelah tiga kapal kargo kembali dihantam di Teluk dan pimpinan tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, bersumpah untuk terus memblokir jalur pelayaran utama Selat Hormuz.
Padahal, Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) pada Rabu kemarin berkomitmen untuk melepaskan cadangan 400 juta barel minyak untuk menekan dampak kenaikan harga minyak dunia akibat konflik AS-Israel dan Iran.
Alih-alih mereda, para investor semakin khawatir dunia akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih karena terhentinya aktivitas pengiriman minyak di Selat Hormuz.
Selain itu, seorang juru bicara Korps Garda Revolusi Islam pada Rabu kemarin juga mengatakan akan menjadikan setiap kapal AS, Israel, dan sekutu mereka yang melintasi Selat Hormuz sebagai sasaran. Ia pun mengancam, jika serangan dari AS dan Israel terhadap Iran berlanjut, kondisi di mana harga minyak menyentuh 200 dolar AS per barel tidak akan terhindarkan.
“Anda tidak akan bisa menurunkan harga minyak secara artifisial. Perkirakan harga minyak akan berada di angka 200 dolar AS per barel. Harga minyak bergantung pada keamanan regional, dan Anda adalah sumber utama ketidakamanan di kawasan ini,” katanya, dikutip Jumat (13/3/2026).
Di sisi lain, pada Kamis, IEA mengatakan bahwa perang di Timur Tengah akan menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Kondisi ini didorong oleh keputusan Irak, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi untuk memangkas total produksi minyak setidaknya sebesar 10 juta barel per hari.
"Produksi akan membutuhkan waktu berminggu-minggu dan, dalam beberapa kasus, berbulan-bulan untuk kembali ke tingkat sebelum krisis, tergantung pada tingkat kompleksitas lapangan dan waktu kembalinya pekerja, peralatan, dan sumber daya ke wilayah tersebut,” kata IEA.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































