Menuju konten utama

Harga Minyak Mentah Indonesia Tembus 68,79 Dolar AS per Barel

Harga rata-rata minyak mentah (ICP) 68,79 dolar AS/barel ditetapkan ESDM menyusul ketengangan geopolotik di wilayah Timur Tengah.

Harga Minyak Mentah Indonesia Tembus 68,79 Dolar AS per Barel
Seapup 1 Pertamina Hulu Energi (PHE) Offshore North West Java (ONWJ) saat perawatan salah satu sumur minyak dan gas di lepas pantai utara Indramayu, Laut Jawa, Jawa Barat, Minggu (2/4/2023).ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/rwa.

tirto.id - Ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah membuat pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price, ICP) sebesar 68,79 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.

Harga rata-rata tersebut naik 4,38 dolar AS dibandingkan Januari 2026, yang tercatat 64,41 dolar AS per barel.

Penetapan harga rata-rata ICP itu tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 115.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Bulan Februari 2026.

"Kenaikan ICP pada Februari 2026 dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terjadi di pasar minyak global, antara lain meningkatnya risiko geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia. Ketegangan geopolitik tersebut memicu berbagai respons kebijakan, aktivitas militer di kawasan strategis, termasuk latihan militer di wilayah perairan Timur Tengah yang berpotensi mempengaruhi jalur distribusi energi global," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) ESDM, Laode Sulaiman, dalam keterangan resmi, yang Tirto kutip Rabu (11/3/2026).

Selain itu, serangan terhadap sejumlah fasilitas energi di Rusia juga turut meningkatkan sentimen pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia.

Laode menambahkan, selain faktor geopolitik, pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh kondisi pasokan minyak dunia. Laporan International Energy Agency (IEA) menunjukkan adanya penurunan produksi minyak global pada awal tahun 2026, termasuk penurunan produksi dari negara-negara OPEC+.

"Kondisi tersebut berkontribusi terhadap semakin ketatnya keseimbangan pasokan minyak di pasar global," imbuhnya.

Lebih lanjut, Laode menyebutkan faktor lain yang turut memengaruhi kenaikan harga minyak mentah adalah penurunan stok produk minyak di Amerika Serikat. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya konsumsi energi serta tingginya aktivitas ekonomi.

Di kawasan Asia Pasifik, pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas pengolahan minyak di Singapura. Crude throughput Singapura tercatat naik 1 persen secara bulanan (mom) pada akhir Februari 2026 menjadi 89 persen dari total kapasitas 1,12 juta barel per hari (bph).

Kemudian, Cina juga meningkatkan cadangan minyak strategis hingga 1 juta barel, sehingga turut memperketat fundamental pasar minyak mentah dari sisi pasokan dan permintaan.

Adapun perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama pada Februari 2026 dibandingkan Januari 2026 mengalami peningkatan sebagai berikut:

  • Rata-rata ICP minyak mentah Indonesia naik sebesar USD4,38/bbl dari USD64,41/bbl menjadi USE68,79/bbl
  • Brent (ICE) naik sebesar USD4,64/bbl dari USD64,73/bbl menjadi USD69,37/bbl
  • WTI (Nymex) naik sebesar USD4,26/bbl dari USD60,26/bbl menjadi USD64,52/bbl
  • Dated Brent naik sebesar US$4,35/bbl dari USD66,80/bbl menjadi USD71,15/bbl
  • Basket OPEC naik sebesar USD5,48/bbl dari USS62,31/bbl (per 30 Januari 2026) menjadi USD67,79/bbl (per 26 Februari 2026)

Baca juga artikel terkait MINYAK MENTAH atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Alfons Yoshio Hartanto