Menuju konten utama

Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Mentah Naik 2% Lebih

Sekutu AS menolak kawal tanker di Selat Hormuz dampak memanasnya eskalasi di Timur Tengah.

Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Mentah Naik 2% Lebih
selat hormuz. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak mentah dunia naik lebih dari 2 persen pada awal perdagangan Selasa (17/3/2026). Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran semakin tipisnya pasokan karena tertutupnya sebagian besar Selat Hormuz dan sekutu Amerika Serikat yang menolak permintaan untuk mengirim kapal perang guna mengawal kapal tanker melewati jalur perairan vital tersebut.

Mengutip Reuters, kontrak berjangka Brent melonjak 2,48 dolar AS atau 2,5 persen menjadi 102,69 dolar AS per barel pada pukul 00.58 GMT. Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,42, atau 2,6 persen menjadi 95,92 dolar AS per barel.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah dunia juga dipengaruhi oleh eskalasi yang masih panas di Timur Tengah.

“Pesan yang saling bertentangan datang dari pemerintahan Trump mengenai durasi perang, sementara pasar lebih fokus pada perkembangan di lapangan yang masih menunjukkan eskalasi,” kata kepala riset energi di MST Marquee, Saul Kavonic, dikutip dari CNBC.

Sementara itu, sebelumnya Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan bahwa AS mengizinkan kapal tanker minyak Iran melewati Selat Hormuz. The Wall Street Journal juga melaporkan, AS akan segera mengumumkan koalisi negara-negara yang akan mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz.

Meski begitu, kemarin Presiden Donald Trump mengisyaratkan bahwa koalisi tersebut belum sepenuhnya terbentuk, sembari mendesak negara-negara lain untuk ikut terlibat. Trump bahkan mengatakan, ia merasa frustasi karena sejumlah negara enggan berpartisipasi.

“Sebagian sangat antusias, dan sebagian lainnya kurang antusias,” ujar Trump kepada para wartawan dalam sebuah konferensi pers.

“Dan saya kira ada juga yang tidak akan melakukannya. Saya pikir ada satu atau dua negara yang tidak akan ikut, padahal selama sekitar 40 tahun kami telah melindungi mereka dengan biaya puluhan miliar dolar," tambahnya.

Sebelumnya, Amerika Serikat telah mendesak sekutunya untuk mengirimkan kekuatan militer guna melindungi lalu lintas kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Pergerakan kapal melalui jalur pelayaran vital ini telah merosot tajam setelah serangan Iran, yang memicu salah satu gangguan terbesar terhadap pasokan minyak global dalam sejarah.

“Skala gangguan pasokan minyak yang begitu besar membuat pasar sulit menemukan solusi yang memadai,” kata kepala strategi komoditas di ING, Warren Patterson.

“Meski pemerintahan AS telah menggaungkan ide jaminan asuransi dan pengawalan angkatan laut, keduanya belum juga terealisasi,” tambah Patterson.

Katanya, pengawalan kapal-kapal komersial melalui Selat Hormuz akan membuat kapal angkatan laut rentan terhadap serangan. Oleh karena itu, Amerika Serikat kemungkinan akan menunda langkah tersebut hingga merasa kemampuan Iran untuk melancarkan serangan terhadap kapal telah melemah.

Baca juga artikel terkait TELUK HORMUZ atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah