tirto.id - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC)mengatakan bahwa negara Arab atau negara Eropa yang mengusir duta besar Israel dan Amerika Serikat dari wilayah mereka akan diberi kebebasan penuh untuk melewati Selat Hormuz.
Selat Hormuz adalah jalur laut yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia karena sekitar seperlima pasokan minyak global melewati wilayah ini setiap hari.
Artinya, Iran secara tidak langsung menggunakan kendali militernya di selat tersebut sebagai alat tekanan politik. Negara yang dianggap tidak mendukung Israel dan Amerika Serikat akan diberikan akses yang aman untuk mengirim kapal tanker minyak dan barang melalui jalur tersebut.
Pernyataan IRGC tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan aliansi yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Israel. IRGC juga menegaskan dalam pernyataan terpisah bahwa mereka yang akan menentukan kapan perang berakhir, bukan Amerika Serikat.
Pernyataan ini merupakan tanggapan langsung terhadap komentar Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya mengatakan bahwa konflik tersebut mungkin akan segera berakhir.
Menurut IRGC, situasi militer di kawasan Timur Tengah, sekarang berada di tangan angkatan bersenjata Iran. Mereka menyatakan bahwa kekuatan militer Amerika tidak akan menentukan hasil akhir perang dan bahwa masa depan kawasan tersebut akan diputuskan oleh perlawanan yang dipimpin Iran.
"Kamilah yang akan menentukan akhir perang. Persamaan dan status masa depan kawasan ini sekarang berada di tangan angkatan bersenjata kami; pasukan Amerika tidak akan mengakhiri perang," kata IRGC dikutip dari laman Azerbaijani Press Agency.

Update Situasi di Selat Hormuz
Konflik Iran vs Amerika Serikat dan Israel menunjukkan dampak yang semakin besar terhadap ekonomi global, terutama pasar energi. Salah satu kekhawatiran terbesar saat ini adalah kemungkinan penutupan atau gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz.
Kepala perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, yaitu Amin Nasser, memperingatkan bahwa jika jalur ini tetap terganggu, dampaknya bisa menjadi “katastrofik” atau sangat merusak bagi pasar minyak dunia.
"Meskipun kita telah menghadapi gangguan di masa lalu, ini adalah krisis terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas di kawasan ini," katanya dilansir Al Jazeera.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa serangan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai wilayah Timur Tengah dilakukan sebagai tindakan membela diri.
Menurutnya, Iran telah memperingatkan negara-negara di Timur Tengah bahwa jika Amerika menyerang wilayah Iran, maka Iran akan menyerang balik pangkalan militer Amerika yang berada di kawasan tersebut.
Ia menegaskan bahwa Iran tidak dapat menyerang wilayah Amerika langsung karena jaraknya sangat jauh, sehingga target yang diserang adalah pangkalan militer, fasilitas, dan aset Amerika di Timur Tengah.
“Kami telah memperingatkan semua orang di kawasan ini bahwa jika AS menyerang kami, karena kami tidak dapat mencapai wilayah Amerika, kami harus menyerang pangkalan mereka di kawasan ini, fasilitas mereka, instalasi mereka, aset mereka. Apa yang kami lakukan hanyalah membela diri. Kami menghadapi tindakan agresi, yang sama sekali ilegal,” kata Araghchi.
Ketakutan akan krisis minyak dunia ini membuat Pemerintah Hungaria mengambil langkah darurat dengan melarang ekspor bahan bakar seperti minyak mentah, solar, dan bensin beroktan 95.
Kebijakan ini diumumkan oleh Menteri Ekonomi Marton Nagy sebagai upaya untuk menjaga pasokan energi di dalam negeri karena harga bahan bakar dunia melonjak akibat perang.
Selain itu, pemerintah Hungaria juga memutuskan untuk melepaskan cadangan bahan bakar negara yang cukup untuk sekitar 45 hari guna menstabilkan pasar dalam negeri.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































