Menuju konten utama

Australia Ikut Campur Perang AS-Iran & Akan Kirim Rudal ke UEA

Australia berencana mengirimkan rudal dan pesawat pengintai ke Timur Tengah untuk membantu melindungi wilayah Teluk yang terdampak perang AS vs Iran.

Australia Ikut Campur Perang AS-Iran & Akan Kirim Rudal ke UEA
Peta Australia. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Australia mengumumkan akan ikut mengerahkan unsur militernya di Asia Barat untuk membantu Amerika Serikat (AS) dan sekutunya menghalau serangan Iran. Unsur militer yang akan dikirim Australia termasuk pasokan rudal dan pesawat pengintai.

Keputusan Canberra itu diungkap langsung oleh Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese pada Selasa (10/3/2026). Menukil Al Jazeera, Albanese menyebut pihaknya akan mengirim pesawat pengintai jarak jauh dan rudal udara-ke-udara.

“Konflik Iran di Timur Tengah dimulai lebih dari seminggu yang lalu, dan serangan balasan Iran terus meningkat, sudah pada skala dan kedalaman yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Dua belas negara di seluruh kawasan, dari Siprus hingga Teluk, terus menjadi sasaran,” kata Albanese dalam konferensi pers pada hari Selasa.

Seturut keterangan Albanese, pesawat pengintai yang akan dikirim Australia itu adalah pesawat E7A Wedgetail dan personel pendukungnya. Pesawat ini dijelaskan akan dikirim selama empat minggu dan bertugas untuk "melindungi dan mengamankan wilayah udara di atas Teluk".

Sementara itu, rudal udara-ke-udara yang akan dikirim Australia berjenis rudal jarak menengah canggih. Pasokan rudal ini dijelaskan akan dikirim ke Uni Emirat Arab (UAE). Pengiriman pasokan rudal ini disebut telah melalui kesepakatan Albanese dengan Presiden UAE Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Albanese menjelaskan bahwa bantuan militer ini diberikan Australia demi melindungi warga Australia yang kini tinggal di Asia Barat. Kini, tercatat ada 115.000 warga Australia yang tinggal di sana, 24.000 di antaranya berada di UAE.

"Membantu warga Australia berarti juga membantu Uni Emirat Arab dan negara-negara Teluk lainnya untuk mempertahankan diri dari serangan yang tidak beralasan," kata Albanese.

Akan tetapi, perdana menteri dari Partai Buruh itu menyebut bahwa sifat bantuan Australia hanya akan berkisar pada upaya defensif. Ia menyebut bahwa Australia tidak akan mengerahkan pasukan ke Iran.

"Kami tidak mengambil tindakan ofensif terhadap Iran, dan kami menegaskan bahwa kami tidak mengerahkan pasukan Australia di Iran," katanya.

PM Albanese Dikecam & Dikhawatirkan Australia Terlibat Perang

Keputusan Albanese untuk mengirim bantuan militer ke wilayah Teluk dikecam keras oleh oposisi, Partai Hijau. Pengiriman bantuan ini dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko Australia terlibat "perang abadi" lain yang dipimpin AS.

"Warga Australia tidak ingin terseret ke dalam perang ilegal Trump dan Netanyahu terhadap Iran," kata Senator Partai Hijau Larissa Waters.

Waters menyatakan bahwa ia khawatir pengiriman bantuan justru meningkatkan risiko kepada lebih banyak nyawa warga Australia. Hal ini karena bantuan militer Australia di Teluk melibatkan 85 personel tentara yang ditugaskan.

"Partai Buruh seharusnya tidak mengirim pasukan untuk militer yang telah membunuh 150 anak sekolah dalam pemboman sekolah dasar. Itu hanya akan meningkatkan konflik ilegal yang sudah di luar kendali, dan membuat Australia terjebak dalam perang abadi lainnya," kata Waters.

Jauh sebelum pecah perang AS-Iran, Australia merupakan negara yang ikut terlibat dalam invasi AS ke Irak pada 2003 lalu. Sebanyak 50 tentara Australia jadi korban dari konflik berkepanjangan tersebut.

Selain mengungkapkan kekhawatiran akan keselamatan para personel dan risiko keterlibatan Australia dalam perang, Waters juga menyoroti banyaknya permintaan Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu kepada Australia.

"Setiap hari tuntutan Trump dan Netanyahu terhadap Australia terus meningkat. Kemarin mereka mengisi bahan bakar pesawat mata-mata AS, hari ini jet pengintai dan rudal, dan besok mungkin ada lebih banyak pasukan lagi," ujar Waters.

Di tengah situasi tersebut, menurut Waters, arah politik Albanese justru tampak terlalu mudah menuruti permintaan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu tersebut.

"Partai Buruh tidak memiliki batasan dalam hal menyenangkan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu," katanya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar