tirto.id - Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tidak akan mengizinkan ekspor minyak melewati Selat Hormuz jika konflik terus berlanjut.
Menanggapi ancaman tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menyerang Iran dengan serangan militer yang “dua puluh kali lebih keras” dari serangan sebelumnya jika hal itu benar terjadi.
Trump memberikan tanggapan atas pernyataan IRGC tersebut melalui unggahan di akun Truth Social miliknya @realDonaldTrump. Ia mengancam akan menghancurkan target strategis yang akan membuat Iran lumpuh.
“Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat DUA PULUH KALI LEBIH KERAS daripada yang telah mereka alami sejauh ini. Selain itu, kami akan menghancurkan target-target yang mudah dihancurkan yang akan membuat Iran hampir tidak mungkin untuk dibangun kembali sebagai sebuah negara — Kematian, Api, dan Amukan akan berkuasa atas mereka —,” tulis Trump.
Meski merasa mampu, Trump berharap Iran tidak akan menutup Selat Hormuz yang hanya akan mengganggu distribusi minyak dunia.
“Tetapi saya berharap, dan berdoa, agar hal itu tidak terjadi! Ini adalah hadiah dari Amerika Serikat kepada Tiongkok, dan semua negara yang banyak menggunakan Selat Hormuz. Semoga, ini adalah isyarat yang akan sangat dihargai. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!,” tambahnya.
IRGC Klaim Kuasai Selat Hormuz dan Update Harga Minyak Dunia
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim bahwa mereka memiliki kontrol militer penuh atas Selat Hormuz dan mampu mengganggu atau bahkan menghentikan pengiriman minyak internasional jika diperlukan.
Pernyataan ini muncul setelah meningkatnya ketegangan militer di kawasan. Iran mengklaim bahwa dalam situasi perang saat ini tidak mungkin kapal bebas melintas karena pengawasan ketat oleh militer Iran. Bahkan disebutkan bahwa lebih dari 10 kapal tanker minyak telah menjadi target dalam operasi militer Iran di sekitar selat tersebut.
“Saat ini, Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh Angkatan Laut Republik Islam Iran,” kata pejabat Angkatan Laut IRGC Mohammad Akbarzadeh dikutip Al Jazeera.

Konflik yang sedang berlangsung juga berdampak besar pada rantai pasokan global. Selain kapal tanker yang kesulitan melintas di Selat Hormuz, banyak jalur penerbangan di Timur Tengah juga ditutup karena risiko keamanan, sehingga pesawat kargo tidak dapat terbang di wilayah tersebut.
Data dari perusahaan analisis pelayaran Clarksons Research menunjukkan bahwa sekitar 3.200 kapal atau sekitar 4 persen dari total tonase kapal dunia kini berada dalam kondisi tidak beroperasi di kawasan Teluk.
Dari jumlah itu, sekitar 1.230 kapal biasanya hanya beroperasi di dalam wilayah Teluk, sehingga mereka tidak dapat keluar akibat situasi keamanan yang tidak stabil.
Selain itu, sekitar 500 kapal lain saat ini menunggu di luar Teluk, terutama di pelabuhan yang berada di wilayah pantai Uni Emirat Arab dan Oman, sambil menunggu situasi membaik.
Harga minyak dunia saat ini berada di kisaran di bawah 90 dolar AS per barel, setelah sebelumnya sempat melonjak sangat tinggi.
Puncaknya pada Senin, 9 Maret, harga minyak patokan internasional Brent crude sempat mencapai sekitar 119,50 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) juga hampir menyentuh 119,48 dolar per barel.
Namun beberapa jam kemudian harga tersebut turun tajam dan kembali berada di kisaran kurang dari 90 dolar per barel. Penurunan harga terutama dipicu oleh pernyataan Trump yang mengatakan bahwa konflik dengan Iran kemungkinan “hampir selesai” atau segera berakhir.
Ketika pasar mendengar kemungkinan perang akan mereda, kekhawatiran tentang gangguan pasokan minyak langsung berkurang.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































