Menuju konten utama

Apakah Selat Hormuz Masih Ditutup & Kapal Tak Bisa Lewat?

Simak informasi terbaru soal Selat Hormuz dan kondisinya terkini. Benarkah Selat Hormuz ditutup dan bagaimana lalu lintas kapal?

Apakah Selat Hormuz Masih Ditutup & Kapal Tak Bisa Lewat?
Ilustrasi peta Selat Hormuz. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejak perang Iran melawan pasukan Amerika Serikat dan Israel pecah, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan mereka akan mengontrol jalur pelayaran di Selat Hormuz. Baru-baru ini IRGC menjelaskan jika Selat Hormuz hanya ditutup untuk kapal dari AS, Israel, dan Eropa.

Dalam pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) pada 5 Maret, IRGC mengatakan bahwa pembatasan pelayaran akan berlaku khususnya bagi kapal yang berasal dari Amerika Serikat, Israel, negara-negara Eropa, dan pihak yang mereka anggap sebagai pendukungnya.

IRGC menegaskan bahwa berdasarkan hukum internasional dan resolusi yang mereka rujuk, sebuah negara yang sedang berperang memiliki hak untuk mengontrol jalur laut strategis di wilayahnya.

Mereka bahkan memperingatkan bahwa jika kapal dari negara-negara tersebut terdeteksi melintas di Selat Hormuz, maka kapal tersebut berpotensi menjadi sasaran serangan militer.

"Kami sebelumnya telah mengatakan bahwa, berdasarkan hukum dan resolusi internasional, pada masa perang, Republik Islam Iran akan memiliki hak untuk mengontrol jalur melalui Selat Hormuz," bunyi pengumuman tersebut, seperti dilaporkan TBS News, Kamis (5/3/2026).

“[Jika kapal-kapal milik AS, Israel, Eropa dan para pendukungnya terdeteksi] mereka pasti akan diserang," tegas IRGC lagi.

Apakah Selat Hormuz Ditutup?

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran yang sangat penting bagi dunia, karena menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak serta gas alam cair (LNG). Sebagian besar ekspor energi dari negara-negara Teluk melewati jalur sempit ini.

Sejak konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkat setelah operasi militer gabungan pada hari Sabtu (28/2), aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menurun drastis.

Banyak kapal tanker minyak dan kapal kargo memilih menghindari wilayah tersebut karena risiko serangan militer. Kondisi ini membuat jalur tersebut secara praktis hampir tidak digunakan, meskipun secara resmi belum ditutup sepenuhnya. Situasi ini juga menyebabkan harga minyak dunia naik dan memicu kekhawatiran akan gangguan ekonomi global.

Namun, pemerintah Iran memberikan klarifikasi bahwa Selat Hormuz sebenarnya belum ditutup secara resmi. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menyatakan pada 6 Maret bahwa Iran tidak memiliki rencana langsung untuk menutup selat tersebut.

Ia mengatakan bahwa jika Iran benar-benar memutuskan untuk menutup jalur itu, pemerintah akan mengumumkannya secara resmi kepada dunia internasional.

“Kami belum menutup Selat Hormuz. Jika kami akan menutupnya, kami akan mengumumkannya… Selat itu belum ditutup oleh kami. Kami tidak berniat melakukannya sampai pemberitahuan lebih lanjut,” kata Khatibzadeh dikutip Business Today, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, sampai saat ini Iran hanya menegaskan bahwa mereka memiliki hak untuk mengontrol jalur tersebut selama masa perang, tetapi belum mengambil langkah penutupan penuh.

“Pada masa perang, jalur melalui Selat Hormuz akan berada di bawah kendali Republik Islam Iran,” terangnya.

Dalam berbagai pernyataannya, Khatibzadeh juga menuduh Amerika Serikat dan Israel melakukan agresi terhadap Iran berdasarkan tuduhan yang tidak benar, seperti klaim bahwa Iran merupakan ancaman keamanan.

Ia menyatakan bahwa alasan yang diberikan oleh Amerika Serikat untuk menyerang Iran sering berubah-ubah tergantung kepada siapa mereka berbicara.

Ia juga menuduh adanya ambisi geopolitik yang lebih besar di balik konflik ini, termasuk apa yang ia sebut sebagai “ilusi Israel Raya (Greater Israel)”, yang menurutnya menjadi salah satu motivasi Israel dalam konflik tersebut.

Khatibzadeh menegaskan bahwa Iran sedang melakukan perang nasional untuk mempertahankan diri dari agresi luar dan bertekad untuk mengakhiri kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia.

“Negara saya diserang berdasarkan kebohongan belaka bahwa Iran menimbulkan ancaman,” ucapnya lagi.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra