Menuju konten utama

Konflik Iran Bisa Guncang Pasar Minyak, Sawit Jadi Makin Relevan

Dalam dunia yang semakin tidak pasti, memiliki “miracle crop” sendiri adalah sebuah keuntungan yang tidak semua negara miliki.

Konflik Iran Bisa Guncang Pasar Minyak, Sawit Jadi Makin Relevan
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di tengah eskalasi konflik global yang kembali memanas, dari Timur Tengah hingga ketegangan blok besar dunia, Indonesia justru sering disebut sebagai salah satu negara yang relatif aman dan stabil. Pernyataan ini bukan retorika nasionalisme berlebihan. Ia dapat dijelaskan secara rasional melalui dua fondasi utama: netralitas geopolitik dan ketahanan sumber daya domestik.

Dalam konteks geopolitik, Indonesia bukan bagian dari aliansi militer mana pun. Tradisi politik luar negeri bebas aktif yang diwariskan sejak awal kemerdekaan bukan sekadar doktrin diplomatik, tetapi juga instrumen perlindungan nasional. Ketika konflik Iran dan ketegangan di Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan energi dunia—yang sekitar 20 persen jalur minyak global melewati kawasan tersebut—negara-negara importir murni berada dalam posisi paling rentan. Indonesia berbeda.

Mengapa? Karena kita tidak hanya mengandalkan pasar global. Kita sedang membangun bantalan domestik.

Banyak yang mengira percepatan biodiesel B50 adalah kebijakan populis atau sekadar keberpihakan pada energi bersih dan petani sawit. Pandangan itu terlalu dangkal.

Program pencampuran 50 persen biodiesel berbasis FAME (Fatty, Acid, Methyl, Ester) ke dalam solar bukan sekadar kebijakan energi. Ia adalah strategi geopolitik. Dengan meningkatkan bauran energi domestik, Indonesia secara signifikan mengurangi ketergantungan terhadap impor solar. Artinya, ketika harga minyak dunia melonjak akibat konflik, tekanan terhadap APBN dan neraca perdagangan bisa lebih terkendali.

Di sisi lain, proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) yang meningkatkan kapasitas dan kualitas kilang nasional memperkuat fleksibilitas pasokan. Modernisasi kilang seperti di Balikpapan bukan hanya proyek infrastruktur, melainkan investasi ketahanan nasional jangka panjang.

Ketahanan energi bukan hanya soal cadangan, tetapi soal kemampuan mengolah, mendistribusikan, dan mengendalikan risiko eksternal.

Ketegasan Presiden Prabowo dalam kebijakan sawit memberikan dampak positif terhadap ketahanan pangan dan energi di dalam negeri, bahkan dapat mengurangi ketergantungan global di tengah situasi yang tidak kondusif, setidaknya untuk jangka empat tahun ke depan karena dipastikan peperangan Iran dengan Israel-AS dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah diperkirakan akan berlangsung relatif lama mengingat gugurnya pemimpin spiritual Iran hari Sabtu kemarin.

Untuk itu ke depan pemerintah perlu menggenjot industri sawit guna memenuhi permintaan global yang terus meningkat, apalagi kesepakatan Indonesia dan Amerika terkait tarif resiprokal di mana komoditi sawit merupakan produk unggulan yang bebas masuk ke Amerika Serikat. Penguatan industri sawit menjadi kunci strategis bagi ekspor produk sawit yang mendorong peningkatan pertumbuhan perekonomian dan sekaligus memberikan kesempatan lapangan pekerjaan.

Pemerintah daerah perlu menyiapkan berbagai kebijakan terkait kebutuhan infrastruktur untuk perluasan penanaman sawit dan perkebunan sawit guna memenuhi pasok ekspor yang dipastikan meningkat signifikan.

Ketahanan Pangan: Fondasi Stabilitas Sosial

Sejarah menunjukkan, banyak negara runtuh bukan karena perang, tetapi karena krisis pangan. Ketika negara-negara produsen menahan ekspor beras atau gandum akibat konflik global, harga melonjak dan inflasi sosial terjadi.

Indonesia saat ini berada dalam posisi lebih siap dibanding beberapa tahun lalu. Produksi beras meningkat, cadangan Bulog relatif terjaga, dan intervensi pemerintah dalam stabilisasi harga lebih terstruktur. Ini bukan berarti tanpa tantangan, tetapi arah kebijakannya jelas: mengurangi ketergantungan ekstrem pada impor.

Dalam situasi global yang tidak pasti, ketersediaan pangan domestik menjadi penyangga stabilitas politik dan sosial.

Di sinilah kita perlu jujur. Sawit sering menjadi sasaran kritik—baik dari luar negeri dengan alasan lingkungan, maupun dari dalam negeri dengan alasan politik.

Presiden Prabowo beberapa kali secara terbuka membela sawit. Sebagian orang menertawakannya. Namun jika kita melihat dari perspektif kebijakan publik dan ekonomi strategis, sawit adalah apa yang oleh banyak ekonom disebut sebagai “miracle crop”.

Mengapa? Pertama, produktivitasnya jauh lebih tinggi dibanding tanaman minyak nabati lain. Kedua, ia menyerap jutaan tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Ketiga, ia menjadi bahan baku utama biodiesel yang memperkuat ketahanan energi nasional.

Tanpa sawit, program B50 tidak mungkin berjalan. Tanpa sawit, kita lebih rentan terhadap gejolak harga minyak dunia. Tanpa sawit, devisa negara dari ekspor akan berkurang signifikan.

Tentu tata kelola dan aspek keberlanjutan harus diperbaiki. Kritik lingkungan harus dijawab dengan standar produksi yang lebih baik. Tetapi membenci sawit secara ideologis justru merugikan kepentingan nasional.

Dalam ekonomi global yang keras, negara tidak bisa memilih sumber daya ideal; negara harus mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki.

Fundamental Ekonomi sebagai Penyangga

Di luar energi dan pangan, Indonesia memiliki indikator makro yang relatif stabil: pertumbuhan ekonomi terjaga, inflasi dalam rentang terkendali, rasio utang terhadap PDB masih moderat dibanding banyak negara besar, serta sektor perbankan yang cukup kuat.

Fundamental ini penting karena krisis global sering kali memicu tekanan simultan pada nilai tukar, inflasi, dan defisit fiskal. Tanpa fondasi makro yang kuat, gejolak eksternal bisa berubah menjadi krisis domestik.

Indonesia tidak kebal terhadap risiko global. Namun ia memiliki bantalan.

Adapun satu faktor lain yang sering luput dari pembahasan teknokratik: posisi Indonesia yang relatif netral dalam konflik global. Ketika dunia terbelah dalam blok-blok kepentingan, Indonesia masih mampu berbicara dengan berbagai pihak.

Netralitas ini mengurangi risiko sanksi, embargo, maupun tekanan politik yang dapat berdampak pada perdagangan dan energi. Dalam konteks ketidakpastian global, netralitas bukan sikap pasif, melainkan aset strategis.

Menyebut Indonesia sebagai salah satu negara paling aman di dunia bukan klaim semata melainkan kombinasi kebijakan energi berbasis biodiesel, modernisasi kilang, penguatan ketahanan pangan, fundamental ekonomi yang relatif solid, serta posisi geopolitik yang netral.

Tantangan tetap ada. Risiko global tidak bisa diabaikan. Namun arah kebijakan menunjukkan bahwa ketahanan nasional dibangun secara bertahap, bukan reaktif.

Dalam konteks inilah sawit, yang sering diperdebatkan, justru menjadi simbol ironi. Tanaman yang kerap dikritik itu kini menjadi salah satu penopang utama ketahanan energi dan devisa Indonesia.

Kadang, yang kita anggap biasa ternyata adalah kekuatan strategis yang luar biasa.

Dan dalam dunia yang semakin tidak pasti, memiliki “miracle crop” sendiri adalah sebuah keuntungan yang tidak semua negara miliki.

Baca juga artikel terkait OPINI atau tulisan lainnya dari Trubus Rahardiansah

tirto.id - Kolumnis
Penulis: Trubus Rahardiansah
Editor: Trubus Rahardiansah