tirto.id - Penutupan Selat Hormuz imbas konflik Amerika Serikat–Israel versus Iran memicu kekhawatiran terhadap distribusi minyak dunia.
Merespon itu, Pemerintah Indonesia mulai mengalihkan strategi pasokan energi dengan mencari sumber minyak dari luar kawasan konflik.
Komisaris PT Pertamina, Hasan Nasbi, memastikan pemerintah telah mengantisipasi dampak konflik geopolitik tersebut, terutama terhadap pasokan energi nasional.
Menurutnya, salah satu langkah utama yang dilakukan adalah mengalihkan sumber impor minyak ke wilayah yang tidak terdampak penutupan Selat Hormuz.
“Kami mencari sebanyak mungkin sumber pasokan yang tidak tertahan di Selat Hormuz, seperti dari Afrika dan Amerika. Ini untuk memastikan distribusi energi ke Indonesia tetap berjalan lancar,” ujar Hasan saat ditemui di Surakarta, Rabu (25/3/2026).
Langkah diversifikasi ini menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional di tengah tekanan global. Pasalnya, Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak dunia, termasuk bagi negara-negara di Asia.
Meski situasi global memanas dan harga minyak dunia mengalami kenaikan, pemerintah memastikan kondisi dalam negeri masih terkendali.
“Dari sisi stok, kita aman. Cadangan BBM terus diperbarui setiap hari, sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” jelasnya.
Hasan menyebutkan, sistem distribusi yang berjalan secara berkelanjutan membuat stok BBM nasional tetap stabil di kisaran 20 hari, meski pasokan global mengalami gangguan.
Ia juga menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kebijakan untuk menaikkan harga BBM di dalam negeri.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
“Tidak perlu panic buying. Pemerintah sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi, termasuk pengelolaan konsumsi energi agar tetap efisien,” pungkasnya.
Penulis: Romensy Augustino
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































