Menuju konten utama

Selain Pahala, Apakah Dosa di Bulan Ramadhan Dilipatgandakan?

Selain pahala, apakah dosa di bulan Ramadhan dilipatgandakan? Simak penjelasannya di artikel ini.

Selain Pahala, Apakah Dosa di Bulan Ramadhan Dilipatgandakan?
Ilustrasi berdoa. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Builan Ramadhan merupakan bulan mulia yang penuh berkah dan kebaikan. Pintu kebaikan terbuka lebar sepanjang bulan Ramadhan sehingga umat Islam lebih termotivasi untuk melakukan berbagai kebaikan.

Bahkan amalan baik selama bulan Ramadhan akan turut serta dilipatgandakan. Tak heran jika bulan Ramadhan memiliki berbagai keutamaan dan kerap disebut dengan bulan mulia, penuh berkah dan kebaikan.

Selama bulan Ramadhan, umat Islam akan melaksanakan puasa Ramadhan dari fajar hingga azan Magrib berkumandang. Umat Islam tak hanya menahan lapar dan haus semata, tetapi juga menjauhi seluruh larangan puasa.

Momentum bulan Ramadhan menjadi kesempatan besar untuk berlomba-lomba mendekatkan diri pada Allah Swt. dan beramal salih dengan tulus ikhlas mengharap rida Allah Swt. Setiap amalan baik selama bulan Ramadhan akan menjadi catatan pahala yang nilainya berlipat ganda di sisi Allah Swt.

Lantas, bagaimana dengan dosa yang dilakukan pada bulan Ramadhan? Apakah juga dilipatgandakan sebagaimana amal kebaikan juga dilipatgandakan? Simak penjelasannya di artikel ini.

Apakah Dosa di Bulan Ramadhan Dilipatgandakan?

Ilustrasi Ramadhan

Hagia Sophia di Istanbul, Turki. FOTO/iStockphoto

Amal kebaikan akan dilipatgandakan selama bulan Ramadhan berlangsung. Kebaikan sekecil apa pun bernilai pahala yang melimpah dan berlipat ganda di sisi Allah Swt.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah dosa di bulan Ramadhan dilipatgandakan? Jawaban dari pertanyaan ini perlu dipahami terlebih dahulu melalui hadis terkait.

Pintu kebaikan selama bulan Ramadhan terbuka lebar bagi umat Islam. Kesempatan untuk berbuat baik menjadi amalan penting yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan oleh umat Islam satu sama lain.

Selama bulan Ramadhan, umat Islam kembali menata dan membangun hubungan dengan Allah Swt. Selain itu, umat Islam juga diperintahkan untuk memperbanyak amal salih selama bulan Ramadhan.

Berbagai amal kebaikan selama bulan Ramadhan tersebut akan bernilai pahala berlipat ganda di sisi Allah Swt. Terlebih lagi, setan akan dibelenggu, pintu neraka ditutup, dan pintu Surga akan dibuka lebar-lebar.

Jangan sampai umat Islam luput dari kesempatan besar untuk mencapai keberkahan dan kebaikan di sisi Allah Swt. Tentu ini perlu diperhatikan oleh umat Islam supaya dapat memaksimalkan diri dalam menjalani Ramadhan umtuk mengisi hari dengan amalan salih.

Di sisi lain, umat Islam harus menjauhi setiap larangan yang Allah Swt. tegaskan dalam perintah beragama. Jangan sampai bulan Ramadhan justru tak menjadi alasan seseorang untuk berupaya lebih baik dalam pemahaman agama, kedekatan diri dengan Allah Swt., dan sebagainya.

Namun, jika sampai terjadi dosa pada bulan Ramadhan apakah dosa tersebut juga akan dilipatgandakan? Sejatinya orang yang berbuat dosa pada bulan Ramadhan, mereka sedang merusak puasanya sendiri.

Tak ada hal yang mereka peroleh dari puasa tersebut, kecuali hanya lapar dan haus semata. Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadis:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إلَّا السَّهَرُ

Artinya, "Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan hausnya saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malamnya saja.”

Hadis tersebut menegaskan betapa dalam keadaan rugi seseorang yang brepuasa tetapi melakukan perbuatan dosa. Mereka hanya akan mendapatkan rasa lapar dan haus, sedangkan pahala puasa tak mereka dapatkan.

Padahal puasa merupakan ibadah yang ditujukan langsung pada Allah Swt. Puasa itu untuk-Ku, begitulah dijelaskan dalam sebuah hadis. Berikut lafal hadis terkait:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ

Artinya, "Semua amal perbuatan anak Adam -yakni manusia- itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya.”

Kandungan hadis ini menjelaskan bahwa ibadah berpuasa mempunyai kedudukan mulia di sisi Allah Swt. Bahkan dijelaskan dalam hadis tersebut dengan redaksi “Puasa itu untuk-ku”.

Penekanan ini menunjukkan bahwa puasa merupakan ibadah mulia yang punya kedudukan lebih dibandingkan ibadah lainnya. Kedudukan mulia amalan puasa ini juga menunjukkan betapa seriusnya konsekuensi atas ibadah puasa.

Selama berpuasa, umat Islam tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari berbagai larangan saat berpuasa dan menahan dari perbuatan dosa serta perbuatan sia-sia. Kandungan hadis di atas menunjukkan bahwa ibadah puasa harus dilandasi pula oleh kesadaran untuk melaksanakan puasa sebagai perintah Allah Swt. dan menjauhi semua larangan -Nya.

Dalil Dosa di Bulan Ramadhan Dilipatgandakan

ILUSTRASI TOBAT

Ilustrasi. Tobat. Foto/iStock

Dalil terkait dosa di bulan Ramadhan yang dilipatgandakan terdapat dalam beberapa hadis. Melansir laman NU Online, At-Thabarani dalam kitab Al-Mu'jamus Shaghir dan Al-Ausath meriwayatkan hadis terkait dosa yang dilipatgandakan.

Berikut sabda Rasulullah saw. terkait dosa yang dilipatgandakan:

اتَّقُوا شَهْرَ رَمَضَانَ فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيهِ وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ

Artinya, "Berhati-hatilah di bulan Ramadhan, karena sesungguhnya pahala dilipatgandakan di bulan tersebut, begitu juga dosa." (HR. At-Thabarani). (Abul Qasim Sulaiman At-Thabarani, Al-Mu’jamul Ausath, [Kairo: Darul Haramain: 1995], juz IV, halaman 90).

Terkait derajat validitas hadis di atas, belum ditemukan adanya penilaian dari para ulama. Ada dua ulama yang memberi penjelasan terkait status hadis tersebut, yaitu Ibnu Rajab dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam dan Badruddin Al-'Aini dalam 'Umdatul Qari.

Dijelaskan oleh Ibnu Rajab bahwa:

وقد روي في حديثين مرفوعين أنَّ السيِّئاتِ تُضاعَفُ في رمضان، ولكن إسنادهما لا يصحُّ

Artinya, "Ada dua hadits tentang pelipatgandaan dosa di bulan Ramadhan, tetapi sanadnya tidak shahih."

Dr. Mahir Yasin sebagai editor atau muhaqiq menyatakan dalam catatan kaki bahwa salah satu hadis yang dimaksud Ibnu Rajab adalah hadits riwayat At-Thabarani di atas. Sementara itu, satu hadis yang lain tidak disebutkan. (Ibnu Rajab, Jami'ul 'Ulum wal Hikam, [Damaskus, Dar Ibnu Katsir: 2008], halaman 759).

Al-'Aini dalam 'Umdatul Qari memberi penjelasan lebih spesifik:

وَفِي إِسْنَاده عِيسَى بن سُلَيْمَان أَبُو طيبَة الْجِرْجَانِيّ، ذكره ابْن حبَان فِي الثِّقَات، وَضَعفه ابْن معِين

Artinya, "Dalam sanadnya ada Isa bin Sulaiman, Ibnu Hibban menyebutnya dalam deretan rawi yang kredibel, sedangkan Ibnu Ma'in menilainya lemah."

(Badruddin Al-'Aini, 'Umdatul Qari, [Beirut, Darul Fikr], juz X, halaman 270).

Hadis di atas masih diperdebatkan terkait kesahihannya. Namun, ada satu hal yang pasti dan disepakati bahwa hadis di atas bukan hadis palsu sebab kandungannya bukan tentang halal-haram sehingga tetap dapat digunakan.

Terkait makna hadis, dijelaskan bahwa hadis hadis ini masih sangat jarang dijelaskan. Memang benar bahwa hadis tersebut banyak dikutip oleh ulama. Namun, baru Ibnu Hajar Al-Haitami yang memberi penjelasan (syarah) secara langsung.

Dalam Ithafu Ahlil Islam ia menjelaskan:

ينبغي حمل مضاعفة السيئات على عظم مقابلها دون الزيادة على كميتها، لقوله تعالى: فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا. وكذا يقال بمثل ذلك في السيئات في حرم مكة. وقول مجاهد وغيره رحمهم الله تعالى بمضاعفتها فيه، إن أرادوا به ما ذكرته كان قريبًا، أو زيادة كميتها على مائة ألف في مقابلة السيئة الواحدة كالحسنة، كان بعيدًا من ظواهر نصوص الكتاب والسُّنَّة

Artinya, "Pelipatgandaan dosa dalam hadits tersebut mestinya dipahami sebagai besarnya konsekuensi yang didapat, bukan berlipatgandanya jumlah dosa. Karena firman Allah swt: "Dia tidak dibalas kecuali seimbang dengan amal buruknya." (QS Ghafir: 40).

Pemahaman yang sama juga berlaku dalam hadis ini terkait dosa yang dilakukan di Makkah. Menurut pendapat Mujahid dan ulama lain, mengatakan dosa dapat berlipat ganda, jika yang dimaksud adalah seperti yang dijelaskan, maka benar.

Akan tetapi, jika yang dimaksud berlipatganda adalah jumlah dosa berlipat ganda hingga mencapai 100.000 kali lipat untuk satu perbuatan dosa sebagaimana berlipatgandanya pahala, maka pemahaman ini jauh dari kebenaran. Berdasarkan dzahirnya dalil Al-Quran dan hadits". (Ahmad Ibnu Hajar, Ithafu Ahlil Islam, [Beirut, Mu'assasatul Kutubits Tsaqafiyyah: 1990], halaman 52).

Pandangan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa maksud dari satu dosa yang dilakukan di bulan Ramadhan tetap terhitung satu, tidak berlipat ganda sebagaimana pahala. Namun, konsekuensi atau kualitas dosa yang didapat lebih besar.

Terkait konsekuensi ini sendiri ada yang sifatnya duniawi dan ukhrawi. Konsekuensi yang sifatnya duniawi, seperti berhubungan badan pada siang hari bulan Ramadhan yang berkonsekuensi membayar kafarah.

Konsekuensi yang sifatnya ukhrawi. Misalnya, dosa kecil yang dilakukan pada bulan Ramadhan terhitung sebagai dosa besar sehingga di akhirat kelak akan dibalas dengan balasan dosa besar.

Beberapa ulama, seperti Ar-Rahibani dalam Mathalib Ulin Nuha, Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad memang membahas tentang pelipatgandaan dosa. Namun, penjelasannya hanya secara umum, tidak spesifik menyebut Ramadhan.

Di sisi lain, ada juga yang menjelaskan sama seperti Ibnu Hajar sebagaimana dikutip Ar-Rahibani dalam Mathalib-nya. Namun, dalam konteks pelipatgandaan dosa yang dilakukan di Makkah.

Hadis riwayat At-Thabarani di atas dalam bab Mudha'afatul Hasanat was Sayyi'at fi Ramadhan (Pelipatgandaan Pahala dan Dosa di Bulan Ramadhan) juga dikutip oleh Sayyid Abdullah Al-Ghumari dalam Ghayatul Ihsan. Namun, tidak menjelaskan lebih lanjut maksud dari pelipatgandaan tersebut sebagaimana yang dilakukan Ibnu Hajar.

Dengan demikian, hanya Ibnu Hajar Al-Haitami yang menjelaskan maksud dari pelipatgandaan dosa pada bulan Ramadhan secara spesifik. Berdasarkan pendapatnya, pelipatgandaan dosa bukanlah berarti bertambah jumlah dosanya, melainkan kadar besar dan kecilnya dosa.

Baca informasi lain tentang Ramadhan:

Kumpulan Artikel Ramadhan

Baca juga artikel terkait PUASA RAMADHAN atau tulisan lainnya dari Nurul Azizah

tirto.id - Edusains
Kontributor: Nurul Azizah
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Nurul Azizah & Iswara N Raditya