Menuju konten utama
Mozaik

Sejarah Berdirinya Radio Gaya Hidup, Hard Rock FM

Hard Rock berpindah dari analog ke digital. Radio ini mencoba beradaptasi dan berkolaborasi dengan perkembangan teknologi agar tetap relevan dengan zaman. 

Sejarah Berdirinya Radio Gaya Hidup, Hard Rock FM
Header Mozaik Sejarah Hard Rock FM. tirto.id/Tino

tirto.id - Semua kru, penyiar hingga produser berkumpul di studio siaran The Rockin' Life Bandung atau Hard Rock FM Bandung. Dari balik mikrofon, Dody Tridy menyampaikan pesan perpisahan kepada para Hard Rockers--sebutan bagi pendengar setia Hard Rock FM.

"Tepat jam tujuh tanggal 29 Mei 2026, 25 tahun mengakhiri seluruh perjalanan. Dari mulai di Diponegoro, Sulanjana, kemudian Supratman Bandung," ucapnya dengan suara bergetar.

Rock your day with the rockin’ life menjadi kalimat penutup siaran Hard Rock FM Bandung sekaligus menandai berakhirnya salah satu era penting dalam sejarah penyiaran melalui frekuensi analog di kota itu. Meski tak lagi mengudara di frekuensi FM, pihak radio menyebutkan bahwa Hard Rockers dan Rockstar masih bisa mengakses mereka di platform digital.

Hard Rock FM Bandung menambah deretan media penyiaran legendaris yang akhirnya meninggalkan frekuensi analog. Sebelumnya siaran luar negeri BBC Indonesia pamit pada Desember 2022 setelah mengudara 73 tahun di Tanah Air. Kini mereka sepenuhnya fokus ke digital.

Perjalanan Hard Rock Masuk Indonesia

Jenama Hard Rock milik dua pengusaha Amerika Serikat, Peter Morton dan Isaac Tigrett. Mereka membangun lini usaha pertama di London tahun 1971 berupa Hard Rock Cafe yang kemudian merambah berbagai lini bisnis gaya hidup dan hiburan.

Hard Rock masuk ke Indonesia melalui Mugi Rekso Abadi atau MRA, perusahaan yang didirikan oleh Soetikno Soedarjo dan Adiguna Sutowo pada tahun 1993. Awalnya, Soetikno dan Adiguna menggeluti bidang food and beverages dengan membeli lisensi Hard Rock Cafe.

Mereka menginvestasikan sekitar Rp8 miliar untuk tahapan awal bisnis waralaba Hard Rock Cafe. Untuk saat ini sekitar 2,9 juta dolar AS (Rp54 miliar) hingga 4,9 juta dolar (Rp88 miliar) agar dapat mengantongi merek Hard Rock. MRA langsung membangun dua Hard Rock Cafe masing-masing di Jakarta dan Bali.

Merasa sukses dengan cafe yang menjadi tujuan para penikmat kuliner sekaligus musik rock, Soetikno dan Adiguna melebarkan sayap bisnis MRA ke industri media.

Bisnis media bukan hal baru bagi Soetikno. Ia lahir dari keluarga yang menggeluti sektor media. Sang ayah, Soedarjo, salah satu tokoh di balik koran Sinar Harapan yang diberedel pemerintah Orde Baru tahun 1986. Namun, Soedarjo tetap bertahan di industri itu dengan menerbitkan harian umum Suara Pembaruan pada 1987.

Bisnis pers dan penerbitan sang ayah dilanjutkan oleh saudaranya, Sasongko Soedarjo. Soetikno bersama koleganya, Adiguna, memilih dunia radio yang saat itu sedang hits dengan menggandeng penyiar senior, Meuthia Kasim.

Radio di dekade 1980-90an populer sebagai media hiburan bagi masyarakat. Data Biro Statistik tahun 1995 menunjukkan 94 persen penduduk Indonesia mendengarkan radio, dan 69,4 persen dari total penduduk di Indonesia memiliki pesawat radio sendiri (Masduki, 2001).

Sementara di Ibu Kota, radio-radio seperti Prambors, Mustang, hingga Delta sudah menjadi bagian dari keseharian warga. Konsep radio saat itu lebih banyak menghadirkan hiburan seperti suguhan top hits untuk kawula muda, berita aktual atau edukasi.

Hard Rock FM hadir mengisi segmen lain dan dan menjadi radio gaya hidup pertama di Indonesia.

Peran Meuthia Kasim di Balik Hard Rock FM

Di tangan Meuthia Kasim, Hard Rock FM pertama kali mengudara di Jakarta pada 20 April 1996 melalui gelombang 87,6 FM. Mengusung slogan "Your Lifestyle & Entertainment Station", pendengar diajak mendengarkan tren fashion, budaya urban, tempat nongkrong, film dan lagu terbaru, karier, serta berbagai fenomena budaya populer.

Hard Rock FM cukup berani dengan menetapkan target pendengar berusia 20-30 tahun dari kelas menengah ke atas di saat sejumlah radio pada saat itu menargetkan khalayak umum. Pop-cross over yang menggabungkan pop, jazz, alternative, techno, dan berbagai genre yang tengah populer menjadi format musik radio ini.

Soal penyiar, Mukas (sapaan Meuthia Kasim) terjun langsung untuk menentukan penyiar Hard Rock FM. Ia terkenal tegas dan disiplin. Para penyiar didorong untuk selalu membaca setiap hari agar menambah wawasan dan meng-update isu terkini hingga melatih vokal.

Sebagai penyiar senior, Mukas juga membekali para penyiar dengan teknis siaran dan presenting, hingga bagaimana cara mem-branding diri. Bagi Mukas, setiap penyiar adalah brand ambassador sebuah radio.

Tidak hanya itu, urusan nama penyiar juga tak lepas dari perhatian Mukas. Salah satunya Indy Barends yang bergabung di Hard Rock FM Jakarta pada 1997. Dalam sebuah wawancara, Indy Barends mengaku bawah Barends merupakan nama yang diberikan Mukas, lantaran ia hanya menggunakan nama Indy.

"Kayaknya kurang sedap nama lo Indy aja," cerita Indy Barends.

Mukas memperhatikan betul setiap detail di Hard Rock FM. Tak heran radio ini berhasil membangun identitas yang kuat di kalangan pendengarnya. Pada 1999, Hard Rock FM memperluas siarannya dengan mengudara di Bali, menyusul Bandung pada 2001 dan Surabaya mulai 2002.

Namun, perjalanan di Bandung tidak begitu mulus di tahun pertama. Mukas sampai turun tangan mengecek kendala yang dihadapi Hard Rock FM di kota tersebut.

"Bandung mungkin waktu itu dilihat setahun jalan nggak works kali ya menurut Mbak Meuthia... Datanglah dia ke Bandung... Apaan nih Hard Rock FM kayak gini. Gue mau bukti siar dikumpulin," kenang Iwet Ramadhan, Salah satu penyiar Hard Rock FM.

Saat bukti siar dikumpulkan, Mukas mendengar satu per satu rekaman siaran. Kebetulan punya Iwet berada paling pertama. Setelah didengar Mukas, menurut Iwet "aku sempat sebulan di-grounded [dibebastugaskan] disuruh benerin suara, humming, latihan teknik vokal."

Semua penyiar dipastikan selaras dengan nilai yang diusung Hard Rock FM. Begitupun dengan berbagai program yang dikemas agar sesuai dengan kebutuhan pendengar, seperti "Good Morning Hard Rockers" dan "Drive n' Jive".

Berkat tangan dingin Mukas, MRA menjadi salah satu perusahaan penyiaran swasta terbesar di Indonesia. Selain Hard Rock FM, Mukas juga membangun MTV on Sky yang diubah menjadi Trax FM, I-Radio, dan Cosmopolitan FM di bawah payung MRA.

Bertahan dengan Bertransformasi

Menginjak usia 28 tahun, Hard Rock FM bertransformasi ke dunia digital dengan mengubah nama menjadi The Rockin’ Life. Tujuannya, ingin tetap terhubung dengan generasi muda yang dinamis dan terus berkembang.

Pada 30 September hingga 1 Oktober 2024, Hard Rock FM memulai perjalanan transformasi ini dengan mengadakan program "Good Morning Hard Rockers Show (GMHR)" 40 Jam. Program ini disiarkan langsung melalui TikTok LIVE The Rockin’ Life dan jaringan radio Hard Rock FM di Jakarta, Bandung, Surabaya, serta Bali.

Siaran nonstop ini pernah dilakukan di era Indy Barends dan Farhan yang berhasil mengudara selama 32 jam tanpa henti. Rekor tersebut kemudian dipecahkan pada masa Gofar Hilman dengan durasi siaran 34 jam. Melalui GMHR 40 Jam, Hard Rock FM membawa format tersebut ke ruang digital yang lebih luas.

Hasilnya, GMHR 40 Jam menjadi salah satu event digital terbesar tahun itu, dengan 200.000 pendengar on air di Hard Rock FM Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali, serta lebih dari 300.000 penonton live streaming.

Memang sudah saatnya radio menjajal dunia digital. Mau tak mau, radio harus mampu beradaptasi dan berkolaborasi dengan perkembangan teknologi agar tetap relevan dengan zaman.

Laporan Digital Radio and Audio Review mencatat bahwa keberlangsungan radio bergantung pada kemampuannya bertransformasi menjadi media digital dan multiplatform.

Radio tidak bisa lagi mengandalkan siaran FM semata. Apalagi wacana siaran radio analog (AM/FM) yang migrasi ke sistem digital masuk dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran. Dalam RUU tersebut, target penghentian siaran analog maksimal pada November 2028.

Meski jumlah pengguna internet Indonesia yang memanfaatkan internet untuk mendengarkan radio masih memiliki persentase yang relatif kecil, dibandingkan konsumsi konten lainnya di internet, radio telah berkembang menjadi media yang lebih personal bagi konsumennya (Innayah, 2017).

Baca juga artikel terkait HARD ROCK atau tulisan lainnya dari Yantina Debora

tirto.id - Mozaik
Penulis: Yantina Debora
Editor: Irfan Teguh Pribadi