tirto.id - 10 Muharram Lebaran Anak Yatim bagi sebagian masyarakat Indonesia identik dengan Hari Raya Anak Yatim. Bagi masyarakat Muslim, Muharram sendiri termasuk salah satu momentum mulia karena menjadi periode bulan pembuka untuk Tahun Baru Islam.
Tanggal 10 Muharram pun menjadi hal yang wajar jika disebutkan sebagai salah satu "Hari Raya Umat Islam”. Tradisi menyantuni anak yatim pada tanggal 10 Muharram ini memang sudah ada sejak dulu.
Para ulama maupun masyarakat umum kerap melaksanakan tradisi amalan santunan anak yatim ini di berbagai tempat, baik itu sekolah, lingkungan, dan di berbagai panti. Berikut penjelasan kenapa 10 Muharram disebut Lebaran Anak Yatim, sejarah, dan maknanya.
Mengapa 10 Muharram Disebut Hari Raya Anak Yatim?
Sebagian masyarakat Indonesia menganggap bahwa tanggal 10 Muharram (Asyura) adalah Hari Raya Anak Yatim. Bahkan, muncul juga istilah Idul Yatama untuk mewakili waktu perayaan tersebut.
Istilah Idul Yatama (Hari Raya Anak Yatim) sebenarnya muncul sebagai ungkapan kegembiraan bagi anak-anak yatim. Pada 10 Muharram, banyak orang yang akan memberikan perhatian dan santunan kepada mereka.
Idul Yatama yang membahagiakan hati anak yatim ini bukan seperti Iduladha dan Idulfitri. Peringatan ini bukan termasuk sebagai hari besar sebagaimana dipantau dari hadis berikut.
Dalam hadis riwayat Abu Dawud RA, Hari Raya umat Islam hanya meliputi Iduladha dan Idulfitri.
عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْأَضْحَى، وَيَوْمَ الْفِطْرِ “
Dari Anas, ia berkata: Rasulullah SAW datang ke Madinah dan mereka (orang Madinah) menjadikan dua hari raya di mana mereka bergembira. Lalu Rasulullah bertanya:
“Apa maksud dua hari ini?”
Mereka menjawab:
“Kami biasa bermain (bergembira) pada dua hari ini sejak zaman Jahiliah.”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan untukmu dengan dua hari raya yang lebih baik dari padanya, yaitu Hari Raya Adha dan Hari Raya Fitri," (HR Abu Daud: 1134).
Sejarah 10 Muharram Lebaran Anak Yatim
Sejarah momentum 10 Muharram Lebaran Anak Yatim alias Idul Yatama menyesuaikan dengan anjuran Nabi Muhammad SAW. Salah satu keterangan ini tertera di dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 220 dengan terjemahan sebagai berikut.
“Mereka menanyakan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, memperbaiki keadaan mereka adalah baik! Dan jika kamu mempergauli mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan.”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa keadaan anak-anak yatim di sekitar umat Islam perlu diperbaiki keadaannya. Bahkan, mereka yang bergaul dekat dengan mereka bisa menjadi saudara.
Selain menyantuni anak-anak yatim pada hari tersebut, ada juga hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat menyayangi anak-anak yatim. Bahkan, lebih lebih menyayangi lagi pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram.
Pada tanggal tersebut, beliau bukan hanya menjamu dan bersedekah kepada anak yatim. Akan tetapi, Nabi Muhammad SAW juga memberikan sedekah serta jamuan kepada keluarga anak itu.
Makna Lebaran Anak Yatim 10 Muharram
10 Muharram Lebaran Anak Yatim tentunya memiliki sejumlah maknanya tersendiri. Mengutip kitab Tanbihul Ghafilin bi-Ahaditsi Sayyidil Anbiyaa-i wal Mursalin, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ ، وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً
“Barang siapa berpuasa para hari Asyura (tanggal 10) Muharram, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 pahala syuhada’. Dan barang siapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya.“
Penjelasan tentang kemuliaan bulan Muharram ini merupakan hasil tulisan KH Sholeh Darat pada bulan Muharram tahun 1317 H silam. Makna dari mengusap rambut anak yatim, umat Islam bisa memperoleh derajat yang lebih tinggi.
Melansir laman Baznas Depok, ada juga makna santunan anak yatim pada bulan Muharram yang bisa menciptakan suasana kebersamaan. Dengan aktivitas tersebut, anak yatim dapat merasa lebih dicintai serta dihargai oleh orang di sekitarnya.
Ingin membaca lebih banyak artikel tentang peristiwa dan ibadah di bulan Muharram? Pastikan juga untuk terus mengikuti informasi terbaru terkait bulan Muharram selengkapnya di sini.
Editor: Addi M Idhom
Penyelaras: Ibnu Azis & Yuda Prinada
Masuk tirto.id



































