Al-Ilmu Nuurun

Sastra Sufi Abdul Hadi W.M.: Kerinduan Laron kepada Cahaya

Oleh: Irfan Teguh - 3 Juni 2018
Dibaca Normal 4 menit
Bagi Abdul Hadi W.M., rentang waktu 1976-1982 adalah periode ketika para sastrawan Indonesia melakukan percobaan baru dalam berkarya dengan menggali tradisi sebagai sumber penciptaan.
tirto.id - Dalam pandangan Abdul Hadi Wiji Muthari, lima belas tahun pertama pemerintahan Orde Baru menghasilkan kebebasan kreatif seniman Indonesia dan mendorong mereka untuk menghasilkan sejumlah eksperimen yang memberi napas baru bagi kehidupan seni modern.

Selain itu, menurutnya, masa setelah periode tersebut juga amat menentukan bagi perkembangan kreativitas periode berikutnya.

“Berbagai gagasan dan wawasan estetik baru, yang masih segar sampai kini, begitu juga penemuan bentuk dan teknik pengucapan baru, telah memberikan sumbangan yang tidak kecil bagi maraknya perkembangan seni modern yang lebih berpijak di bumi Indonesia dan lebih berciri Indonesia,” tulisnya dalam Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Jejak-jejak Pergumulan Kesusastraan Islam di Nusantara (2016).

Perkembangan yang ia maksud adalah ikhtiar untuk memadukan unsur-unsur tradisi dan modernitas dalam berkarya, khususnya karya sastra. Menurutnya, tampak kesadaran baru di kalangan seniman dan sastrawan akan pentingnya tradisi sebagai asas penciptaan karya baru.

Masa lima belas tahun pemerintahan Orde Baru yang ia maksud adalah 1976 sampai 1982. Artinya, dalam rentang waktu ini ada satu angkatan dalam lini masa periodisasi sastra Indonesia yang bergumul dalam percobaan-percobaan baru, yakni angkatan 1970-an.

Sutardji Calzoum Bachri berpendapat bahwa angkatan 1970-an adalah awal munculnya kecenderungan kuat menggali akar tradisi yang merupakan pemisah antara perkembangan seni dan sastra sebelum 1970-an dengan sesudah 1970-an.

“Angkatan 45 terus-menerus meminta warisan dari kebudayaan dunia (Barat), sedangkan Angkatan 70 justru ingin memberikan sumbangan kepada kebudayaan dunia,” ujarnya.

Sementara Danarto melihat hal ini sebagai kecenderungan gerakan sastra yang ingin kembali ke sumber penciptaan dalam arti sebenarnya, yakni akar tradisi.


Bangkitnya Tradisi dan Sastra Sufi

Berbeda dengan para sastrawan tersebut; A. Teeuw, Subagio Sastrowardoyo, dan Ulrich E. Kratz melihat fenomena itu sebagai gejala bangkitnya budaya kedaerahan. Namun, Abdul Hadi melihat bahwa sumber ilham yang dijadikan sebagai karya dari akar kedaerahan itu adalah tradisi-tradisi universal seperti bentuk-bentuk spiritualitas bercorak Hindu dan Islam, yaitu mistisisme dan tasawuf.

Jadi, meski tradisi-tradisi seperti itu memberi bentuk pada corak kedaerahan di Indonesia, tapi posisinya dapat dikatakan berada di luar batas kedaerahan. Ia lalu mengutip Oesman Effendy bahwa fenomena yang berhubungan dengan bentuk-bentuk spiritualitas ini adalah tanda munculnya neo-tradisionalisme dalam perkembangan kesenian Indonesia mutakhir.

Berangkat dari konsepsi inilah kemudian Abdul Hadi, sebagai seorang Muslim, bertungkuslumus dengan menulis sejumlah puisi, esai, dan sejumlah buku bertema tasawuf.

Ia menulis Rumi: Sufi dan Penyair (1985), Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya (1995), Sastra Sufi: Sebuah Antologi (1996), Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-esai Sastra Profetik dan Sufistik (1999), Tasawuf yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri (2001), Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas: Esai-esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa (2004), dan lain-lain.

Ia juga menulis sejumlah buku kumpulan puisi seperti Cermin (1975), Meditasi (1976), Tergantung pada Angin (1977), Pembawa Matahari (2002), Tuhan Kita Begitu Dekat (2012), dan sebagainya.

Menurutnya, seperti dikutip Kompas dalam sebuah acara diskusi di Universitas Paramadina, meski identik dengan Islam, tapi sufisme tidak bisa dipandang sebagai dogma agama saja.

“Setiap orang juga harus melihat sastra sufisme ini sebagai kebudayaan universal dari segi peradaban, kebudayaan, dan estetika,” ujarnya.

Abdul Hadi lahir di Sumenep pada 24 Juni 1946. Ayahnya bernama K. Abu Muthar, seorang saudagar keturunan Tionghoa yang juga guru bahasa Jerman. Sementara ibunya, R.A. Martiya, adalah ningrat keturunan keraton Solo.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama di Sumenep, ia masuk SMA di Surabaya dan kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. Di kampus ini ia mempelajari filologi dan kesusastraan Indonesia. Setelah itu dilanjutkan dengan mempelajari filsafat Barat di kampus yang sama tapi tidak selesai. Ia kemudian pindah ke Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran dan mempelajari Antropologi.

Gelar M.A. dan Ph.D ia peroleh dari Pusat Pengajian Ilmu Kamanusiaan di Universiti Sains Malaysia dengan disertasi bertajuk “Estetika Sastra Sufistik: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-karya Syekh Hamzah Fansuri”.

Selama kuliah di Bandung, ia pernah menjadi editor Mingguan Mahasiswa Indonesia. Ia juga pernah menjadi redaktur majalah Dagang dan Industri dan Staf Ahli Bagian Pernaskahan P.N. Balai Pustaka, serta Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Tahun 1979-1990, ia mengasuh lembaran kebudayaan “Dialog” di harian Berita Buana. Dalam lembaran kebudayaan inilah ia melontarkan istilah "sastra sufi" atau "sastra sufistik".

Menurutnya, sastra sufistik merupakan sastra yang tampil untuk selalu mengingatkan manusia atau pembacanya kepada Sang Pencipta. Lebih lanjut, seperti dilansir Gatra, ia mengatakan bahwa sufisme bukan gerakan menolak dunia, tapi yang ditolak sufisme adalah dunia yang korup dan zalim.

Sufisme menurutnya justru bermula dari kehendak memperbaiki masyarakat, yaitu pada abad ke-8, saat masa pemerintahan Bani Umayah yang sangat hedonistik, ekspansif, dan militeristik.

“Pada masa awal itu, sufisme memang merupakan gerakan moral, akhlak, tapi kemudian menjadi gerakan sosial,” ujarnya.



Infografik Al Ilmu Abdul Hadi Wiji Muthari


Jembatan Tradisi dan Modernitas

Warsa 1980-an, Abdul Hadi secara terbuka menganjurkan tentang sastra bercorak sufi atau transendental. Ia menilai sufi sebagai kekayaan khazanah sastra yang merupakan warisan dalam sastra melayu di zaman Islam. Ia khawatir jika sastra ini tak dipelihara dan dikembangkan maka akan lenyap dari sejarah. Baginya, sastra sufi memiliki peran sebagai jembatan antara tradisi dengan kehidupan masyarakat kosmopolitan.

Dalam Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Jejak-jejak Pergumulan Kesusastraan Islam di Nusantara (2016), Abdul Hadi menjelaskan bahwa estetika sufi berdasarkan cinta (‘isyq), dan cinta adalah tema sentral sastra sufi.

Ia menambahkan bahwa kitab karangan Syekh Hamzah Fansuri diberi judul Syarab al-‘Alyiqin (Minuman Pencinta Yang Berahi), dan minuman pencinta yang berahi ialah “anggur tauhid”, sebab itu kitab yang sama diberi nama lain: Zinat al-Wahidin (Hiasan Ahli Tauhid).

Oleh karena itu, tambahnya, tak mungkin membicarakan karya para penyair sufi tanpa membicarakan ‘isyq dan keindahan tertinggi yang menimbulkannya. ‘Isyq adalah tahapan pengalaman kerohanian puncak dalam pencapaian seorang sufi, sama dengan makrifat, yang membawa seseorang menyadari ketakberartian diri-rendahnya, dan pada saat yang sama membawa kepada perasaan fana’ dan baqa’ di dalam Kekasihnya (mahbub).


“Para sufi merujuk kepada ayat al-Qur’an (Surah 5: 59): ‘Dia mencintai mereka dan mereka mencintai Dia.’ Untuk menghayati ayat inilah para sufi menempuh jalan kerohanian untuk bertemu dengan Kekasihnya.”

Abdul Hadi menambahkan bahwa dalam perjalanan rohani itu bahasa pengalaman berubah menjadi bahasa cinta, dan bahasa cinta tak dapat disembunyikan sehingga akhirnya terucap dalam bentuk puisi-puisi cinta.

“Tapi bagaimana ‘isyq itu bisa timbul tanpa keindahan, sedangkan keindahan menurut Ibnu Arabi merupakan asas utama timbulnya cinta? Ibnu Sina dalam Kitab al-Isyarat wa al-Tambihat mengatakan bahwa keindahan yang dimaksud adalah keindahan Tuhan.”

Dalam ranah sastra Indonesia, selain sejumlah karyanya, Abdul Hadi juga menyebut ada kecenderungan sufistik dari beberapa pengarang Indonesia yang sejalan dengan hidupnya kembali minat para terpelajar Muslim terhadap tasawuf. Sebagai contoh, ia menyebut karya Danarto (Godlob, Adam Makrifat, Berhala); Kuntowijoyo (Khotbah di Atas Bukit); M. Fudoli Zaini (Arafah).

Sejalan dengan penilaian Abdul Hadi, pada 1982 dalam acara Temu Sastra di Taman Ismail Marzuki, Kuntowijoyo mengatakan bahwa dunia sastra memerlukan sebuah sastra transendental.

“Aktualitas tidak dicetak oleh ruh kita, tetapi dikemas oleh pabrik, birokrasi, kelas sosial dan kekuasaan, maka kita tidak menemukan wajah kita yang otentik. Kita terikat pada yang semata-mata konkret dan empiris yang dapat ditangkap oleh indra kita. Kesaksian kita kepada aktualitas dan sastra adalah sebuah kesaksian lahiriah—jadi sangat terbatas. Maka pertama-tama kita harus membebaskan diri dari aktualitas, dan kedua, membebaskan diri dari peralatan indrawi kita,” tuturnya.

Pernyataan Kuntowijoyo itu semakin menguatkan Abdul Hadi yang mengungkapkan bahwa dengan tulisan ia hendak mengajak orang lain untuk mengalami pengalaman religius yang ia rasakan.

“Hidup beragama saya tidak kering, dan saya menemukan diri saya yang hilang,” ujar Abdul Hadi.

Dalam sebuah puisi ia menulis, “Dalam gelap/Kini aku nyala/pada lampu padam-Mu.”

Penyair Jepang Sakutaro Hagiwara pernah menulis dalam sebuah esainya bahwa “Kerinduan seorang penyair kepada rumah spiritual atau metafisiknya hampir sama dengan kerinduan binatang tertentu seperti serangga, laron, rama-rama dan lelatu kepada cahaya.”

Abdul Hadi Wiji Muthari dan puisi-puisi sufistiknya adalah laron yang merindukan cahaya.

====================

Sepanjang Ramadan hingga lebaran, redaksi menyuguhkan artikel-artikel yang mengetengahkan pemikiran para cendekiawan dan pembaharu Muslim zaman Orde Baru dari berbagai spektrum ideologi. Kami percaya bahwa gagasan mereka bukan hanya mewarnai wacana keislaman, tapi juga memberi kontribusi penting bagi peradaban Islam Indonesia. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Al-Ilmu Nuurun" atau "ilmu adalah cahaya".

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan