Al-Ilmu Nuurun

Gus Dur: Presiden yang Bersiasat dengan Kelakar

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (1940-2009). tirto.id/Quita
Oleh: Fariz Alniezar - 28 Mei 2018
Dibaca Normal 3 menit
Di mana-mana Gus Dur selalu dinanti banyak orang untuk menunjukkan kemampuannya yang menyenangkan: lelucon.
Patung bocah kanak yang menunduk membaca buku itu berdiri tegak di tengah-tengah Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat. Ia seolah-olah tak menghiraukan hiruk-pikuk sekitarnya. Apapun yang terjadi, ia tetap asyik membaca. Itulah yang tergambar dari patung Abdurrahman Wahid atau yang karib disapa Gus Dur. Ia adalah presiden, ulama, seniman, politikus, dan, yang kerap dilupakan orang, pengamat sepakbola ulung.

Sebagai seorang tokoh, Gus Dur adalah sosok yang gagal teringkus dalam sebuah definisi baku. Ia melintasi dan menabrak batas kebakuan definisi-definisi apapun. Ia seakan-akan selalu bisa lolos mengatasi dan berdiri di atas serangkaian istilah yang disematkan orang padanya.

Kutu Buku, Gandrung Bola

Dari sebuah riwayat yang bisa dipercaya, diceritakan Gus Dur kecil memang sudah sangat karib dengan buku. Pemandangan bocah yang membawa buku kemana-mana, duduk berjam-jam, bahkan sampai ketiduran dengan posisi tangan menggamit buku adalah pemandangan rutin bagi santri-santri lawas Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang.

“Gus Dur membaca. Dan banyak. Matanya saja sampai rusak. Mungkin lebih banyak membaca daripada Bung Karno. Apalagi dibanding Pak Harto. Habibie juga membaca, saya kira. Tapi, saya yakin dengan bahan yang lebih terbatas. Dalam buku otobiografi Deliar Noer dituliskan, waktu Pak Deliar me­wawancarai Kiai Wahid, ayah Gus Dur, untuk keperluan disertasinya, ia melihat anak kecil pakai kacamata asyik membaca di lantai. Mungkin, kata Deliar, itu Abdurrahman Wahid,” demikian tulis esais Syu’bah Asya dalam pengantar untuk buku Melawan Melalui Lelucon (2007).


Gus Dur memang pernah, di puncak karier politiknya, menjadi presiden. Tapi itu pun sesungguhnya bukan atas kemauan sendiri. Di balik puncak kariernya itu, yang jarang diketahui khalayak adalah Gus Dur sangat menggandrungi sepakbola. Bagi Gus Dur, olahraga itu adalah miniatur kehidupan nyata yang sekaligus kelak mendasari strategi serta dalam menjalankan roda kepemimpinannya.

Sindhunata dalam kolomnya di Kompas bertajuk Total Football Bersama Gus Dur” (20/12/2000) memberi pengakuan secara terang-terangan bahwa Gus Dur memang pemerhati sepakbola yang unik. Menurut Sindhunata, Gus Dur kerap menggunakan strategi serta filosofi permainan sepakbola dalam menjalankan roda pemerintahannya, termasuk strategi catenaccio yang dipopulerkan tim nasional Italia itu. Gus Dur terlampau defensif dan “menunggu” kegaduhan tukang kritik dan lawan politiknya. Strategi cattenacio ini membuat rakyat menjadi tidak sabar dan menganggap Gus Dur “tak bekerja”.

Terlepas dari itu, Gus Dur memang memahami filosofi sepakbola dengan tangkas. Ia tahu bagaimana menjalankan strategi dan di saat bersamaan mengerti kondisi, sehingga dua komponen itu dijadikannya racikan untuk menentukan langkah apa yang pas bagi bangsa Indonesia. Gus Dur adalah allenatore yang susah ditebak langkah-langkahnya, karena itu sering bikin bingung rival-rivalnya.

Lihat saja buah kepemimpinannya semasa menjadi presiden: polisi dipisahkan dengan tentara, agama dan kepercayaan Cina dihidupkan lagi, membentuk kementerian kelautan, dan menyulap istana kepresidenan menjadi istana rakyat. Lebih dari itu, sosok Gus Dur tentu saja merupakan pembela gigih kaum minoritas yang tertindas. Ia pelindung kebebasan berekspresi, pengusung ide pluralisme, dan penentang paling vokal gerakan-gerakan bercorak kekerasan. Saking sibuknya dengan agenda-agenda besar itu, ia sampai lupa pada dirinya dan barangkali juga kesehatannya.

Semar Karikatural, Lincah Berkelakar

Bagi dalang Sujiwo Tedjo, sosok Gus Dur tak ubahnya semar. Gus Dur adalah pengayom yang bisa mengobati dahaga kemanusiaan. Atau dalam bahasa yang lebih sastrawi: Gus Dur adalah oase keteladanan bagi kemaraunya sikap kemanusiaan.

Semar adalah raja. Namun di saat yang lain ia juga rakyat biasa yang bisa berbaur dengan sesama jelata. Ia dengan seenaknya ceplas-ceplos membincang apa saja. Ia tinggi, tapi di saat yang bersamaan ia juga rendah.

Maka tidak mengherankan jika Gus Dur menjadi sosok yang sangat longgar dan non-protokoler. Meminjam kata-kata Franz Magnis-Suseno, Gus Dur memiliki kelapangan psikologis, bahkan teologis. Sekali tempo di tengah perjalanan dinas dengan iring-iringan ketat, tiba-tiba mobilnya belok seenaknya sendiri menghampiri penjual durian di tepi jalan.



Kelonggaran itu barangkali merupakan anak sah dari selera humor yang tinggi. Gus Dur memang biangnya humor. Ia sumber kelakar. Sejarawan Hermawan Sulistyo suatu ketika bercerita, “ketika kami masih muda, di benak kami beliau ilmuwan kelas dunia yang penuh humor. Pernah Bersama Fachry Ali, kami mendengarkan lelucon Gus Dur sampai menjelang pagi hari. Itu tidak ada habisnya.”

Letupan humor Gus Dur tidak mengenal ruang dan waktu. Gus Dur bisa berkelakar di mana saja, dengan siapa saja, tentang apa saja, termasuk di forum pertemuan resmi. Sekali waktu, Abdul Munir Mulkhan berbicara satu forum dengan Gus Dur soal Pancasila di Bandung. Di tengah-tengah forum tersebut, Gus Dur mendaku dirinya termasuk salah satu keturunan raja-raja Pasundan.

Komentar itu sontak menggelitik dan membuat penasaran seorang ahli sejarah Pasundan dan yang bersangkutan mengkonfirmasi langsung kepada Gus Dur. Ketika ditanya kebenaran informasi dan referensi penyataannya itu, dengan enteng Gus Dur menjawab bahwa sumbernya adalah cerita dari Ki Juru Kunci makam.

Lik Wilardjo, seorang fisikawan beken yang mengagumi Gus Dur, dalam tulisannya bertajuk "Feyerabend Von Jombang" menyamakan sosok Gus Dur dengan Paul Feyerabend, filsuf nyeleneh cum pembangkang kelahiran Vienna, Austria. Feyerabend masyhur dengan gagasan anything goes (apa saja boleh) untuk menentang pemaksaan metode dalam penelitian. Pandangan yang demikian ini muradif dengan sikap Gus Dur yang teringkus dalam “gitu saja kok repot”.

Wilardjo juga menulis, “Gus Dur adalah pejuang pro-demokrasi yang memperjuangkan keberagaman pandangan. Begitu pula Feyerabend yang mendambakan masyarakat yang bebas, tempat setiap tradisi mempunyai hak dan akses yang sama untuk berkembang dan memeroleh kedudukan dalam masyarakat.”

Dalam konteks sama-sama memiliki nyali, keberanian, dan otonomi moral dalam berpihak pada apa yang diyakini sebagai kebenaran, kelirumolog Jaya Suprana malah mengatakan bahwa Gus Dur sama belaka dengan Sokrates. Keduanya sama-sama berani dan bermoral. Bedanya, Socrates kalah lucu. Kritik Gus Dur yang menyamakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dengan siswa taman kanak-kanak barangkali bisa menjadi contoh paling fasih untuk menggambarkan prinsip yang dimilikinya: kritik dan siasat berbalut humor.

Siasat seperti ini bukan tanpa risiko sama sekali. Humor kerap disalahpahami, bahkan pada tingkat tertentu tidak bisa dimengerti jika yang bersangkutan berada tidak pada satu frekuensi. Sebab, menurut Jaya Suprana, “semerdu apa pun sebuah lagu yang disiarkan pemancar lewat frekwensi gelombang FM, apabila ditangkap lewat pesawat radio berkondisi frekuensi gelombang AM, maka yang terdengar cuma desis berisik menjengkelkan belaka.”

Gus Dur mustahil tidak memahami risiko itu.

====================

Sepanjang Ramadan hingga lebaran, redaksi menyuguhkan artikel-artikel yang mengetengahkan pemikiran para cendekiawan dan pembaharu Muslim zaman Orde Baru dari berbagai spektrum ideologi. Kami percaya bahwa gagasan mereka bukan hanya mewarnai wacana keislaman, tapi juga memberi kontribusi penting bagi peradaban Islam Indonesia. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Al-Ilmu Nuurun" atau "ilmu adalah cahaya".

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Fariz Alniezar
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Fariz Alniezar
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight