Al-Ilmu Nuurun

Ali Audah: Bintang Terang di Langit Para Penerjemah

Oleh: Irfan Teguh - 18 Mei 2018
Dibaca Normal 4 menit
Ia disiplin dan hati-hati dalam menerjemahkan berbagai karya. Baginya, terjemahan bukanlah karya "kelas dua". Selama hasilnya baik, karya terjemahan setara karya aslinya.
tirto.id - “Saya hanya menerjemahkan karya-karya besar yang saya nilai bermutu dan bermanfaat,” ujar Ali Audah kepada Budiman S. Hartoyo dari majalah Berita Buku.

Sosoknya pendiam. Dalam rubrik “Obituari” di Majalah Tempo edisi 9 Juli 2017, Sapardi Djoko Damono menggambarkan Ali Audah dengan kata-kata "menunjukkan sikap yang tidak pernah berlebihan: cara bicaranya, gerak-geriknya, tatapan matanya, dan pokok pembicaraannya tidak menimbulkan rasa kikuk".

Ali Audah lahir di Bondowoso, Jawa Timur, pada 24 Juli 1924. Ia mengenyam pendidikan formal hanya sampai madrasah ibtidaiyah alias sekolah dasar, itu pun tak selesai. Ia badung dan kerap membolos, sehingga gurunya sempat mengkerangkengnya. Setelah itu, Ali Audah tak lagi bersekolah sampai tua, bahkan sampai hayatnya pungkas.

Baginya, masa bocah adalah surga bermain yang tak boleh diganggu sekolah yang membosankan. Berlama-lama duduk di kelas, membuatnya hampir senewen. Maka ia memilih bermain layang-layang, mandi di kali, atau bermain gundu.

“Saya belajar membaca dan menulis dengan mencoret-coret huruf di tanah sambil main gundu,” kata Ali.

Meski kelakuannya bikin jengkel guru, tapi sesungguhnya ia seorang pembelajar yang keras. Ali Audah adalah bintang berkilauan di langit tinggi para penerjemah Indonesia, yang tertatih-tatih menyelami bahasa asing untuk dialihbahasakan ke dalam bahasa sendiri. Anak drop out itu telah menempa dirinya dengan begitu keras sehingga dari ketekunannya lahir sejumlah karya terjemahan berkualitas yang dibaca orang ramai.

Ali Audah belajar secara otodidak. Ia pembaca buku yang rakus. Sekali waktu ia diberi uang oleh orang tuanya untuk membeli baju karena pakaiannya telah kumal dan sobek-sobek. Namun di pasar, ia tak membeli baju, malah membelanjakannya untuk buku.

Ia menerjemahkan karya Hamid G. Al-Sahar (Suasana Bergema), Mustafa Hallaj (Murka), Yahya Hakki (Lampu Minyak Ibnu Hisyam), Andre Gide (Theseus), Stefan Zweig (Marie Antoinette), dan lain-lain. Salah satu magnum opusnya adalah Qur’an, Terjemahan dan Tafsirnya karya Abdullah Yusuf Ali.

“Karya paling mengesankan adalah terjemahan Abdullah Yusuf Ali, The Holly Quran (1934). Di Indonesia, karya Abdullah diterjemahkan Ali Audah dan diterbitkan oleh Pustaka Firdaus. Laku keras,” tulis Gatra.

Ali Audah terutama dikenal sebagai penerjemah karya-karya berbahasa Arab, seperti biografi Nabi Muhammad SAW karya M. Husain Haekal dan biografi Khulafaur Rasyidin karya penulis yang sama.

Sekali waktu, saudaranya yang banyak membaca sastra Arab berkata pada Ali bahwa khazanah kesusastraan Arab memiliki kisah bagus-bagus. Saat saudaranya tinggal di Arab, ia minta dikirimi buku-buku cerita dari jazirah itu.

Banyak orang bertanya kepadanya tentang bahasa asing terutama bahasa Arab yang ia kuasai, butuh berapa lama ia mempelajari bahasa-bahasa tersebut, sementara ia tak lagi belajar di sekolah. Ali Audah menjawabnya, “Tak bisa dihitung.”

Meski singkat, jawabannya jelas menyuratkan kerja keras yang panjang dan tak main-main. Emha Ainun Nadjib dalam sebuah esainya pernah menulis, “Hari ini kita bersama-sama menundukkan dan membungkukkan badan di hadapan beliau Bapak Ali Audah. Saya pribadi, kalau boleh jujur mempraktikkannya, tidak akan menundukkan wajah, melainkan menutupi wajah, karena rasa malu yang mendalam kepada beliau.”

Meski memang terkesan dilebih-lebihkan, tapi kiranya ungkapan Emha itu sah-sah saja dialamatkan kepada seorang Ali Audah yang sepanjang hayatnya “mengimani” terjemahan sebagai sebuah pokok yang rumit, dan ia mengerjakannya sepenuh dedikasi.

Hal ini sekali lagi disampaikan Ali Audah kepada Sapardi Djoko Damono bahwa kemampuannya menguasai berbagai bahasa asing bukanlah bakat, melainkan hasil usaha yang terus menerus.

“Saya tidak setuju dengan pendapat bahwa untuk menerjemahkan diperlukan bakat. Tidak. Menerjemahkan bisa dilakukan dengan latihan,” ujarnya.


Ali Audah Bicara soal Terjemahan

Bagi Ali Audah, terjemahan yang baik adalah yang tengah-tengah tanpa mengurangi gaya asli pengarang. Artinya tidak verbatim atau harfiah, juga tidak parafrase atau terlalu bebas. Lebih baik lagi jika gaya si pengarang bisa diambil. Namun bagi sebagian orang yang tak paham, pengambilan gaya si pengarang kerap dianggap harfiah alias terjemahan plek.

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa terjemahan verbatim atau harfiah adalah jenis terjemahan yang buruk karena kerap menghamparkan teks yang justru sulit bahkan tidak dapat dimengerti.

Sementara terjemahan parafrase adalah bentuk ketidakberdayaan penerjemah. Karena menurutnya, si penerjemah tidak bisa menangkap pikiran sang pengarang, tidak bisa menangkap bahasanya, sehingga si penerjemah menuliskan pikirannya sendiri.

“Kalau terjemahan itu [kita] cocokkan dengan aslinya, tidak bisa dilacak. Penerjemah bikin kalimat sendiri, paragraf sendiri, dan seterusnya. Ini sangat berbahaya, karena konsep, pikiran dan gaya—bahkan nuansa pikiran pengarang—tidak bisa ditangkap dan diungkapkan,” terangnya.

Kepada para penerjemah yang mengalami kesulitan seperti itu, Ali Audah mewanti-wanti agar tetap bersikap hati-hati dan tidak seenaknya menambal kalimat yang sulit diterjemahkan dengan pikirannya sendiri. Menurutnya, si penerjemah mesti menyertakan catatan kaki, seperti misalnya: “Kalimat atau alinea yang ini sulit diterjemahkan, dan inilah terjemahan yang paling mendekati.”

Ali Audah memang amat disiplin dalam menerjemahkan berbagai karya, baik fiksi maupun non fiksi. Baginya, menerjemahkan karya ilmiah dan agama tidak bisa hanya mengandalkan ensiklopedia atau kamus, melainkan harus didukung buku-buku referensi.

Begitu pula saat menerjemahkan buku sejarah dan biografi. Tak cukup hanya mengacu pada buku yang diterjemahkan saja, tapi mesti didukung buku-buku dari pengarang lain. Sementara untuk menerjemahkan novel, mesti dilihat pula latar belakang budaya yang ada dalam cerita tersebut.

“Kalau tidak, saya khawatir terjemahan itu meleset. Dia [juga] tidak bisa ingin cepat-cepat selesai menerjemahkan hingga terburu-buru,” ujarnya.

Berdasarkan pengalamannya, untuk menerjemahkan satu kata atau satu kalimat, agar terjemahannya cocok dan pas, ia kadang bisa menghabiskan waktu satu sampai dua jam. Ia mesti mencari, mencocokkan dan membandingkannya di berbagai kamus, ensiklopedi, atau buku-buku referensi lain.

“Kalau masih buntu, biasanya saya tinggalkan dulu, lalu saya membaca buku lain,” tambahnya.

Sikap disiplin dan hati-hati itulah yang ia dekap sepanjang hayatnya sebagai seorang penerjemah. Tak heran jika karya-karya terjemahannya bermutu dan memuaskan para pembaca.



Infografik Al Ilmu Ali Audah


Terjemahan Bukan Karya “Kelas Dua”

Sebagian kalangan masih menganggap terjemahan adalah karya minor karena “hanya” mengalihbahasakan sebuah karya ke dalam bahasa yang berbeda dari bahasa sebelumnya. Namun bagi Ali Audah, terjemahan yang baik adalah karya yang setara dengan karya aslinya. Sebuah karya kreatif yang tidak kurang berharga dibanding karya asli.

Ia menambahkan bahwa sikap masyarakat terhadap terjemahan cukup beragam. Ada yang menyukai karya terjemahan yang baik, ada pula yang enggan sama sekali membaca terjemahan, dan lebih memilih serta bangga jika membaca langsung karya asli.

“Ada pula orang yang mau membaca karya terjemahan, tapi kalau menulis dan menyebutnya sebagai referensi—untuk catatan kaki atau bibliografi, misalnya—ia menyebutkan karya aslinya. Padahal yang ia baca terjemahannya,” terang Ali Audah.

Ia sendiri mengambil sikap tegas bahwa jika menulis menggunakan karya terjemahan, karya itulah yang dicantumkan sebagai kredit, bukan karya aslinya. Jika terjemahannya baik, ia merasa tidak perlu melihat karya aslinya, kecuali dalam terjemahan itu ada beberapa kekurangan.

Sebagai sebuah karya yang baik, ia mencontohkan bagaimana warga Mesir lebih mengenal Habib Ibrahim yang menulis Al-Buasa sebagai terjemahan dari Les Miserables daripada Victor Hugo sang pengarang kisah itu.

“Begitu terkenalnya Habib Ibrahim di Mesir sebagai ‘pengarang’ Al-Buasa, hingga orang di sana tidak mengenal siapa itu Victor Hugo,” tuturnya.

Saking pentingnya terjemahan, menurutnya ada satu masa ketika Sutan Takdir Alisjahbana terus-terusan menganjurkan "pengambil-alihan" ilmu pengetahuan melalui terjemahan berbagai buku. Sastrawan angkatan Pujangga Baru itu bahkan sempat mengidamkan penerjemahan Encyclopedia Britannica.


Dalam buku 90 Tahun Ali Audah yang diterbitkan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, sastrawan Remy Sylado mengungkapkan bahwa ia menaruh takzim kepada penerjemah yang wafat pada 20 Juni 2017 ini.

Remy terkesan pada karya Ali Audah yang bertajuk Konkordansi Qur’an, Panduan Kata dalam Mencari Ayat Qur’an. Menurutnya, sebagai seorang Nasrani yang mempelajari Islam, ia tertolong oleh karya tersebut. Bagi Remy, Ali Audah adalah seorang “budayawan tulen yang mengagumkan karena ketekunannya di ladang kitabullah.”

Lebih dari itu, Remy mengungkapkan bahwa terjemahan sangat penting dan dibutuhkan bangsa Indonesia untuk melatih berpikir dan merdeka. Di titik inilah posisi Ali Audah yang cakapnya tertib itu tak bisa dipisahkan dari riwayat penerjemahan karya asing ke dalam bahasa Indonesia.

“Bagi bangsa yang awet hidup dalam tradisi cangkem—bayangkan, di Indonesia berlaku istilah ‘sastra lisan’, padahal yang namanya ‘sastra’ dalam bahasa Kawi, kata Zoetmulder, adalah ‘tulisan’—maka karya-karya luar yang demikian perkasa berdiri di atas tradisi tulis, karuan dirasa wajib untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia,” ujar Remy.

====================

Sepanjang Ramadan hingga lebaran, redaksi menyuguhkan artikel-artikel yang mengetengahkan pemikiran para cendekiawan dan pembaharu Muslim zaman Orde Baru dari berbagai spektrum ideologi. Kami percaya bahwa gagasan mereka bukan hanya mewarnai wacana keislaman, tapi juga memberi kontribusi penting bagi peradaban Islam Indonesia. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Al-Ilmu Nuurun" atau "ilmu adalah cahaya".

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan