Al-Ilmu Nuurun

Kuntowijoyo: Pelopor Ilmu Sosial Profetik yang Mahir Menulis Novel

Infografik Al Ilmu Kuntowijoyo
Kuntowijoyo (1943-2005), sastrawan, sejarawan, dan cendekiawan Muslim serba bisa. tirto.id/Quita
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 30 Mei 2018
Dibaca Normal 4 menit
Kuntowijoyo adalah intelektual serba bisa yang menggagas ilmu sosial dan sastra profetik. Karya-karyanya mencakup tema yang sangat luas dan beragam.
tirto.id - Pada awal 1992, sastrawan cum sejarawan Kuntowijoyo dikabarkan sakit akibat virus Meningo encephalitis. Kondisi itu tak memungkinkan dirinya untuk bekerja ataupun menulis. Padahal, kala itu ia termasuk penulis produktif.

Hingga saat itu setidaknya ia telah menerbitkan delapan karya sastra berupa novel, naskah drama, dan antologi puisi. Di antara karya sastranya yang terkenal adalah Suluk Awang-uwung (kumpulan puisi, 1975), Pasar (novel, 1972), Khotbah di Atas Bukit (novel, 1976), dan Topeng Kayu (drama, 1973).

Sebagai akademisi, Kuntowijoyo telah menerbitkan tiga kumpulan esai ilmiah. Umumnya ia menelaah persoalan sosial, budaya, dan tentu saja sejarah. Di antara karyanya itu adalah Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985), Budaya dan Masyarakat (1987), dan Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1991).

Ketika kabar tentang sakitnya Kuntowijoyo yang cukup parah itu tersebar, beberapa koleganya pesimistis. Penyakit itu memang membuatnya tak cekatan bergerak dan kesulitan berbicara. Seorang kawannya di Jurusan Sejarah UGM bahkan menganggap “misi” Kuntowijoyo telah berakhir.

“Dalam kenyataannya, pernyataan itu sama sekali tidak benar, Kuntowijoyo terus menulis fiksi dan buku-buku ilmiah tentang sejarah dan kebudayaan yang sangat banyak diminati oleh para cerdik pandai dari kalangan manapun,” bantah Bakdi Soemanto dalam pengantarnya untuk kumpulan cerpen Kuntowijoyo, Pelajaran Pertama Bagi Calon Politisi (2013: ix).

Kuntowijoyo belum habis. Setelah dua tahun rehat dari dunia intelektual dan sastra, ia kembali dengan karya-karya pilih tanding. Cerpen-cerpennya—“Lelaki yang Kawin dengan Peri”, “Pistol Perdamaian”, dan “Anjing-anjing Menyerbu Kuburan”—terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas pada 1995 hingga 1997. Kompilasi-kompilasi esainya juga terbit setelah itu. Sebut misalnya Demokrasi dan Budaya Birokrasi (1994), Identitas Politik Umat Islam (1997), hingga yang cukup terkenal Muslim Tanpa Masjid (2001).

Ia tak berhenti menulis hingga mangkat pada 22 Februari 2005. Kini, atas tinggalan karya-karyanya, kita mengenal Kuntowijoyo setidaknya dalam tiga predikat: sastrawan, sejarawan, dan intelektual Muslim.

Bermula dari Sebuah Surau

Kuntowijoyo lahir di Bantul, Yogyakarta, pada 18 September 1943. Ia tumbuh dalam keluarga seniman. Ayahnya seorang dalang dan pembaca macapat, sementara kakek buyutnya adalah kaligrafer. Agaknya lingkungan keluarga ini ikut berpengaruh terhadap minatnya dalam sastra.

Kuntowijoyo kecil mulai belajar mendongeng dan mendeklamasikan puisi di sebuah surau di desa Ngawonggo, Klaten. Di sana ia mendapat bimbingan dari M. Saribi Arifin dan Yusmanan, dua sastrawan kondang kala itu. Waktu luang yang ada dimanfaatkannya untuk membaca karya-karya penulis masyhur Indonesia dan dunia.

Wan Anwar dalam Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya (2007) menulis, “Begitu pula ketika memasuki SMP, ia membaca karya Hamka, H.B. Jassin, Pramoedya Ananta Toer, Nugroho Notosusanto, hingga pada masa SMA berkenalan dengan karya dunia, misalnya karya Charles Dickens dan Anton Chekov” (hlm. 3).

Pada 1964, semasa berkuliah di Jurusan Sejarah UGM, ia mulai menulis novel pertamanya. Novel yang ia juduli Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari kemudian diterbitkan sebagai cerita bersambung di harian Djihad pada 1966.

Menurut Mochamad Irfan Hidayatullah dalam tesisnya di UI yang berjudul "Estetika Sastra Profetik: Analisis Struktural-Semiotik Atas Gagasan dan Karya Sastra Kuntowijoyo" (2006), bakat menulis Kuntowijoyo memang semakin kilap saat berkuliah. Tak hanya menulis, putra dalang ini juga sempat mendirikan Lembaga Kebudayaan dan Seniman Islam (Leksi). Ia juga terlibat dalam Studi Grup Mantika bersama Dawam Rahardjo, Sju’bah Asa, Ikranagara, Abdul Hadi W.M., dan Arifin C. Noer (hlm. 36).


Setamat sarjana, Kuntowijo lantas mengajar sejarah di almamaternya sejak 1970. Studi master dan doktoral berturut-turut ditempuhnya di University of Connecticut dan Columbia University, Amerika Serikat. Di luar kegiatan akademik kampus, suami Susilaningsing—yang dinikahinya pada 1969—itu sering mengisi ceramah ilmiah dan menulis.

Karya cerpen Kuntowijoyo turut mengisi halaman majalah sastra seperti Budaya Jaya dan Horison juga rubrik sastra di koran Kompas dan Republika. Sementara karya ilmiahnya—meliputi soal-soal sejarah, budaya, dan keislaman—banyak terbit di jurnal Prisma, Ulumul Quran, dan Keadilan. Serangkaian tulisannya tentang politik Islam juga pernah menjadi pengisi tetap majalah Ummat pada 1996.

“Tidak banyak sastrawan Indonesia yang 'sukses' sebagai sastrawan sekaligus sebagai intelektual dan akademisi. Kualitas dan produktivitas Kuntowijoyo menulis karya sastra sebanding dengan kekuatannya menulis karya ilmiah dalam bidang sejarah atau pemikiran sosial berbasis Islam,” tulis Wan Anwar dalam bukunya (hlm. 4).



Ilmu Sosial dan Sastra Profetik

Dalam berkarya, Kuntowijoyo hampir selalu menjadikan Islam sebagai fundamen gagasannya. Ia cukup konsisten merujuk ajaran-ajaran Islam, terutama Alquran, sebagai dasar analisis terhadap peristiwa sejarah maupun masalah sosial yang diamatinya. Menurut Dawam Rahardjo, apa yang dilakukan Kuntowijoyo itu penting untuk mengimbangi paradigma orientalisme sarjana-sarjana Barat.

Namun begitu, Kuntowijoyo tak lantas memaksakan diri menghindari segala teori dan metodologi konvensional Barat. Perkakas keilmuan Barat ia perlakukan sebagai semacam pengayaan pemikiran. Dari situ ia berupaya melakukan sintesis pemikiran Barat dan Islam. Sebagai misal, tengoklah upayanya menafsir Alquran dengan memakai kerangka keilmuan Barat itu.

“Misalnya saja dia menangkap makna yang terkandung dalam Surah Ali Imran ayat 110, dengan konsep-konsep yang dikenal umum yaitu humanisasi dan emansipasi untuk istilah ‘amr ma’ruf’, liberasi untuk ‘nahiy munkar’, dan transendensi untuk ‘iman kepada Allah’. Di sini dia berupaya memahami Al-Quran dalam kerangka ilmu, terutama teori-teori sosial,” tulis Dawam dalam pengantarnya untuk kompilasi karya Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (2008: 28).

Dari kerangka pikir inilah kemudian lahir gagasannya tentang ilmu sosial dan sastra profetik. Sudah sejak 1982 Kuntowijoyo menengarai perlunya sastra yang melawan arus dehumanisasi sebagai dampak negatif modernisasi. Sastra yang tak hanya melihat manusia sebagai instrumen industri. Sastra yang tak hanya sebatas ekspresi atau laku ibadah penulisnya, tetapi juga punya kekuatan transformatik.

“Dengan kata lain, sastra dihadapkan pada realitas untuk melakukan kritik dan penilaian sosial-budaya yang beradab. Itu sebabnya sastra profetik adalah sastra yang terlibat dengan dan dalam sejarah kemanusiaan/kemasyarakatan,” terang Wan Anwar (hlm. 155).

Sastra profetik yang mengedepankan nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi ini memang tampak dalam karya-karya Kuntowijoyo. Hanya saja ketiga nilai itu tak hadir secara bersamaan dalam satu karya. Menurut Wan Anwar, masing-masing karya memiliki penekanan pada salah satu nilai.

Antologi sajak Suluk Awang-uwung dan novel Khotbah di Atas Bukit, misalnya, lebih menonjolkan nilai transendensi. Novel lainnya, Mantra Penjinak Ular dan Wasripin dan Satinah cenderung menonjolkan aspek liberasi (hlm. 160-161).

Semangat transformatik itu juga yang ia harapkan dimiliki pula oleh ilmu-ilmu sosial. Kuntowijoyo memandang bahwa keterbelakangan umat bermula dari tak sambungnya teori keilmuan dan kenyataan. Ilmu-ilmu Islam dianggapnya gagal memperbaiki kondisi umat. Sementara itu ilmu-ilmu sosial normatif hanyalah cangkokan yang tak berakar pada budaya masyarakat Indonesia.

“Kita malu untuk mengakui keterkaitan ilmu sosial dengan nilai-nilai sosial dan budaya, kita takut dituduh tidak ilmiah, tidak objektif. Di Barat pun orang sudah lama ragu-ragu akan ilmu sosial yang ‘bebas-nilai’,” tulis Kuntowijoyo dalam “Paradigma Baru Ilmu-ilmu Islam: Ilmu Sosial Profetik sebagai Gerakan Intelektual” yang menjadi bagian bunga rampai Muslim Tanpa Masjid (2001: 102).

Menurut Kuntowijoyo, setidaknya ada tiga tradisi keilmuan Islam yang berkembang di Indonesia. Pertama, tradisi normatif di saat Islam didakwahkan agar umat menjalankan agamanya dengan ilmu dan tak sekadar ikut-ikutan. Lalu tradisi ideologis ketika Islam dirumuskan sebagai dasar pergerakan politik, bersaing dengan kapitalisme dan komunisme. Terakhir adalah tradisi ilmiah dengan metode empiris untuk memahami masyarakat sebagaimana diperkenalkan Snouck Hurgronje dan Clifford Geertz.

Bagi Kuntowijoyo, ketiga tradisi itu sudah mentok, tak punya terobosan baru atau paradigma baru. Ilmu-ilmu Islam sejauh itu menjadi normal science belaka. Orang barangkali dapat memahami Islam, tapi tak ada pengaruhnya terhadap kehidupan sosial. Karena itu, harus ada paradigma baru yang dikembangkan dengan mengubah komitmen keilmuan Islam.

“Komitmen tradisi normatif ialah dakwah, komitmen tradisi ideologis ialah politik, dan komitmen tradisi ilmiah ialah ilmu. Paradigma baru itu harus punya komitmen baru, yaitu umat (masyarakat, komunitas, rakyat, kaum, bangsa). Paradigma baru itu akan kita sebut Ilmu Sosial Profetik,” beber Kuntowijoyo (hlm. 106).

Komitmen utama ilmu sosial profetik yang digagas Kuntowijoyo adalah emansipasi umat. Seperti halnya dalam tradisi keilmuan Marxis, ilmu sosial tak hanya dipakai untuk memahami gejala-gejala, tetapi juga harus punya kekuatan mengubah keadaan.

“Demikianlah Ilmu Sosial Profetik harus mempunyai perhatian utama. Perhatian utama itu ialah emansipasi umat, yang kongkret dan historis, dengan menyangkutkannya dengan problem-problem aktual yang dihadapi umat. Problem sekarang ialah bagaimana mengantarkan umat dalam transformasi menuju masyarakat industrial, civil society, ekonomi yang non-eksploitatif, masyarakat demokratis, negara rasional, dan budaya yang manusiawi” (hlm. 108).

====================

Sepanjang Ramadan hingga lebaran, redaksi menyuguhkan artikel-artikel yang mengetengahkan pemikiran para cendekiawan dan pembaharu Muslim zaman Orde Baru dari berbagai spektrum ideologi. Kami percaya bahwa gagasan mereka bukan hanya mewarnai wacana keislaman, tapi juga memberi kontribusi penting bagi peradaban Islam Indonesia. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Al-Ilmu Nuurun" atau "ilmu adalah cahaya".

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight