Menuju konten utama

Saat PLN & ESDM Selisih dalam Proyeksi Subsidi Listrik 2026

Akibat selisih perhitungan PLN dan Kementerian ESDM akan melakukan sinkronisasi data, termasuk proyeksi subsidi listrik 2026 untuk menemukan angka yang pas.

Saat PLN & ESDM Selisih dalam Proyeksi Subsidi Listrik 2026
Warga mengecek meteran listrik di Rusun tanah tinggi, Jakarta Pusat, Jum'at (16/12). Pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral pada tahun 2017 akan mencabut subsidi listrik untuk 18,7 juta pengguna listrik 900 Volt Ampere dikarenakan subsidi yang tidak tepat sasaran. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/pras/16

tirto.id - PT PLN (persero) mengakui bahwa ada perbedaan proyeksi subsidi listrik 2026 antara perseroan dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Retail dan Niaga PLN, ⁠Adi Priyanto, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, yang juga dihadiri Kementerian ESDM, Senin (30/6/2025).

Adi menjelaskan, PLN memproyeksikan subsidi listrik 2026 adalah sebesar Rp100,7 triliun dengan volume 81,561 TWh.

“Ini yang tadi agak beda dengan Pak Jisman, yaitu terkait proyeksi 2026. Ini kita akan menyesuaikan sesuai dengan forecast, kami merencanakan sebesar Rp100,7 triliun untuk 2026, sedangkan untuk volumenya adalah 81,561 TWh,” katanya.

Namun, dia mengungkapkan bahwa pihaknya dan Kementerian ESDM akan melakukan sinkronisasi data, termasuk proyeksi subsidi listrik 2026 untuk menemukan angka yang pas.

“Nah ini mungkin perlu kita sinkronkan bersama karena tadi Pak Jisman kan range gitu, mudah-mudahan nanti mendekati tepat lah gitu apabila kami merencanakan 100,7 triliun ini,” sambungnya.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jisman Hutajulu, mengungkapkan proyeksi subsidi listrik 2026 adalah sebesar Rp97,37 triliun hingga Rp104,97 triliun tergantung kondisi makroekonomi.

Jisman menerangkan, jika asumsi yang digunakan mengacu pada skenario bawah, yakni inflasi 1,5 persen, ICP 60 dolar AS per barel, dan kurs Rp16.500 per dolar AS, maka subsidi listrik diperkirakan sebesar Rp97,37 triliun.

Akan tetapi, jika skenario makro mencapai batas atas, dengan inflasi 3,5 persen, ICP 80 dolar AS per barel, dan nilai tukar rupiah Rp16.900 per dolar AS, maka subsidi bisa meningkat menjadi Rp104,97 triliun.

Subsidi listrik pada 2026 akan diberikan kepada sekitar 44,88 juta pelanggan, terutama pelanggan rumah tangga dengan daya 450 VA dan 900 VA. Subsidi juga akan diberikan kepada sektor bisnis kecil, industri kecil, dan fasilitas sosial.

"Subsidi listrik itu subsidi listrik untuk rumah tangga diberikan kepada rumah tangga miskin dan rentan," ucapnya.

Sementara itu, untuk outlook subsidi listrik tahun 2025 berpotensi menembus Rp90,32 triliun, atau lebih tinggi Rp2,6 triliun dari alokasi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp87,72 triliun.

Menurut Jisman, lonjakan subsidi ini tidak lepas dari volatilitas nilai tukar rupiah dan harga ICP.

"Kurs dan ICP ini sangat volatile yang tidak bisa kita kendalikan. Bapak-Ibu bisa melihat dari Rp 14.000 kemudian di Rp15.000, Rp16.000 dan seperti itu," ucapnya.

Sedangkan, realisasi penyerapan subsidi listrik hingga Mei 2025 sudah mencapai Rp35 triliun. Volume penjualan listrik juga meningkat, dari 71 TWh pada 2024 menjadi proyeksi 76,63 TWh tahun ini.

Baca juga artikel terkait SUBSIDI LISTRIK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra