tirto.id - Dalam situasi normal, nama-nama personel pasukan khusus, utamanya yang terlibat dalam operasi sensitif, bakal dirahasiakan. Akan tetapi, tidak dengan nama Sersan Mayor Gannon Ken Van Dyke.
Van Dyke merupakan salah satu serdadu Amerika Serikat (AS) yang terlibat dalam invasi ke Venezuela sekaligus penangkapan terhadap Presiden Nicolas Maduro. Akan tetapi, jelang operasi berlangsung, dia tidak hanya sibuk mempersiapkan fisik serta mentalnya, tetapi juga sibuk memperkaya diri sendiri dengan cara memasang taruhan senilai 33.934 dolar di platform bernama Polymarket. Taruhan yang dipasang adalah soal keberhasilan operasi AS di Venezuela, termasuk penangkapan Presiden Maduro.
Ia, yang juga terlibat dalam proses perencanaan dan eksekusi Operation Absolute Resolve, berhasil mendapatkan uang senilai 409.881 dolar dari perjudiannya. Meski begitu, sebelum sempat benar-benar menikmati hasil taruhannya, sang sersan mayor ditangkap oleh pihak berwenang AS. Itu sekaligus menjadi kasus insider trading pertama dalam prediction market yang diproses secara hukum di AS.
Kasus Serma Van Dyke pun langsung mengemuka di AS, mengundang banyak tanya mengenai prediction market, terutama soal perbedaannya dari taruhan pada umumnya.
Prediction market adalah platform-platform yang menyediakan wahana perjudian. Berbeda dari judi olahraga, perjudian di prediction market jauh lebih bervariasi, mulai dari skor Rotten Tomatoes film sampai prediksi waktu gencatan senjata sebuah perang. Selain Polymarket, yang jadi tempat Serma Van Dyke "mempertaruhkan" hasil Operation Absolute Resolve, satu platform terbesar lainnya adalah Kalshi. Baik Polymarket maupun Kalshi kini sama-sama punya jutaan pengguna, dengan nilai taruhan mencapai miliaran dolar AS.
Cara kerjanya cukup sederhana. Seorang pengguna bertaruh dengan membeli "kontrak peristiwa" dalam bentuk pilihan ya atau tidak. Harganya antara 0 hingga 1 dolar, mencerminkan probabilitas yang diyakini pasar. Jika kontrak diperdagangkan di harga 70 sen, artinya pasar menilai peluang terjadinya kejadian itu adalah 70 persen. Setelah itu, pengguna bisa memegang kontrak hingga hasilnya diketahui, atau menjualnya lebih awal seiring perubahan peluang.
Para pendukungnya berargumen bahwa prediction market adalah instrumen yang lebih akurat daripada survei atau jajak pendapat biasa. Kalshi bahkan mengklaim memiliki jutaan pengguna mingguan. Di Super Bowl tahun ini saja, mereka memperdagangkan lebih dari 1,2 miliar dolar.
Namanya saja perjudian, sudah pasti akan ada hal-hal kotor yang bermain di dalamnya, termasuk yang dilakukan oleh Serma Van Dyke. Adalah satu hal jika kita menganalisis suatu peristiwa, membuat kesimpulan, lalu bertaruh apakah sesuatu itu akan terjadi atau tidak. Namun, lain cerita apabila operator inti macam Van Dyke sampai bertaruh pada sesuatu yang dikerjakan sendiri. Celakanya, kasus macam itu bukanlah yang pertama terjadi di prediction market.
Sebulan sebelumnya, seorang pedagang di Polymarket dilaporkan meraup hampir 1 juta dolar sejak 2024. Ia memasang taruhan sangat akurat soal kapan AS dan Israel akan melancarkan serangan militer ke Iran sebelum perang dimulai pada Februari. Di Israel, otoritas setempat menangkap dua orang, termasuk seorang anggota militer cadangan yang diduga menggunakan informasi rahasia untuk bertaruh soal Iran.
Peneliti dari Universitas Harvard memperkirakan bahwa setidaknya sebanyak 143 juta dolar keuntungan yang diraup para pedagang di Polymarket kemungkinan berasal dari informasi orang dalam. Perkiraan tersebut dibuat berdasarkan data blockchain publik yang melacak taruhan terhadap berbagai peristiwa, mulai dari pertunangan Taylor Swift hingga Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu.
Selain bertaruh soal sesuatu yang mereka kerjakan sendiri, ada soal politisi yang bertaruh pada diri sendiri. Kalshi mengumumkan minggu lalu bahwa tiga kandidat kongres dihukum atas "political insider trading" karena bertaruh pada pemilihan mereka sendiri. Ketiganya mendapat larangan mengakses platform selama lima tahun serta mendapatkan hukuman denda. Sebelumnya, seorang calon gubernur California yang kurang dikenal juga dikenai sanksi serupa.
Maraknya aksi insider trading dalam prediction market sontak menimbulkan pertanyaan. Siapa yang mengawasi aktivitas di platform-platform tersebut?
Di AS, prediction market berada di wilayah hukum abu-abu. Karena mengklasifikasikan taruhan mereka sebagai "kontrak derivatif", platform-platform prediction market jatuh di bawah pengawasan Commodity Futures Trading Commission (CFTC), alih-alih lembaga perjudian negara bagian. Artinya, mereka bisa beroperasi di 49 negara bagian dan terbuka bagi pengguna berusia 18 tahun ke atas, sementara taruhan olahraga konvensional hanya legal di 39 negara bagian, dengan batas usia minimal 21 tahun di kebanyakan tempat.
Para kritikus melihat celah tersebut sebagai masalah besar. David Wallace-Wells, lewat opininya di New York Times, menyebut situasi itu sebagai perluasan logika kasino yang kini menjangkau setiap sudut kehidupan. Mario H. Lopez dari Hispanic Leadership Fund menilai, platform-platform tersebut membungkus aktivitas judi dalam terminologi investasi dan menyesatkan warga Amerika, terutama yang literasi finansialnya lebih rendah.
Nevin Burmeister mengunduh Kalshi hanya dua hari setelah ulang tahunnya yang ke-18. Di negara bagian Indiana, usia minimum untuk bertaruh olahraga adalah 21 tahun, tetapi di Kalshi ia bisa mulai dari usia 18. Dalam enam bulan, ia kehilangan lebih dari 2.000 dolar dalam berbagai taruhan bisbol. "Kalshi adalah pintu masuk saya ke perjudian," kata Burmeister yang belakangan didiagnosis kecanduan judi.
Sementara itu, Samuel Sharkey (21 tahun) pertama mendengar tentang Kalshi lewat iklan di Instagram. Ia mulai bertaruh pada pemilihan presiden AS 2024, lalu mencoba menutupi kerugiannya dengan bertaruh pada cuaca dan harga Bitcoin per jam. Dalam lima bulan, ia kehilangan sekitar 10.000 dolar dari tabungannya.
Dua kisah tersebut jadi gambaran lonjakan kecanduan judi yang mengkhawatirkan di AS. Harry Levant, direktur kebijakan perjudian di Public Health Advocacy Institute, menyebut situasinya sudah di luar kendali. Ia pun menyerukan agar perjudian diregulasi, sebagaimana alkohol dan tembakau.

Di tengah semua kontroversi, ada dimensi politik yang tak bisa diabaikan. Donald Trump Jr., putra presiden AS saat ini, adalah investor di Polymarket sekaligus penasihat strategis untuk Kalshi. Trump Media juga mengumumkan rencana membangun prediction market bernama Truth Predict melalui Truth Social.
Meski rezim Trump mulai menunjukkan keberpihakan pada prediction market, beberapa negara bagian di AS justru bertindak sebaliknya. Arizona dan Washington, misalnya, mengajukan tuntutan pidana terhadap Kalshi. Nevada telah memberlakukan larangan sementara. Illinois, di sisi lain, melarang para pegawai negerinya melakukan aktivitas apa pun di platform seperti Kalshi.
Di Kongres AS, para anggota Partai Republik maupun Demokrat telah mendorong pemberlakuan undang-undang lebih ketat, termasuk larangan pada taruhan yang berkaitan dengan perang, pembunuhan, dan serangan teroris. Senator Adam Schiff menegaskan, "Tidak ada pembenaran untuk bertaruh atas nyawa manusia".
Entah ada kaitannya dengan kiprah Trump Jr. atau tidak, yang jelas pemerintah federal AS sampai sekarang belum melakukan tindakan tegas terhadap platform prediction market. Itu sangat berbeda dari kebijakan di Brasil. Sebanyak 27 platform prediction market, termasuk Kalshi dan Polymarket, dilarang beroperasi.
Prediction market sebenarnya dibangun di atas gagasan the wisdom of crowds, atau kebijaksanaan massa. Idenya, ketika ribuan orang mempertaruhkan uang sungguhan pada sebuah prediksi, rata-rata dari semua tebakan itu akan lebih akurat dari terkaan pakar mana pun. Gagasan tersebut pertama kali dipopulerkan James Surowiecki dalam bukunya The Wisdom of Crowds (2005), dan memang ada riset yang mendukungnya dalam kondisi tertentu.
Tapi kondisi itu ada syaratnya. Studi dari Swiss Federal Institute of Technology menemukan, ketika peserta mengetahui tebakan satu sama lain, rentang tebakan mereka justru menyempit dan bergeser menjauh dari nilai benar. Mereka cenderung ikut-ikutan, bukan berpikir mandiri. Itulah yang disebut oleh para peneliti sebagai herding, musuh utama kebijaksanaan kolektif.
Di prediction market, syarat tersebut bahkan lebih berat untuk dipenuhi. Setiap harga kontrak yang ditampilkan di platform, angka 70 sen di atas misalnya, sudah merupakan "konsensus" yang dilihat oleh pengguna baru sebelum membuat keputusannya sendiri. Kondisi itu persis seperti yang disebut peneliti ETH Zurich sebagai pemicu herding. Ketika tahu ke mana arah massa, orang cenderung ikut arus.
Belum lagi, ketika sebagian pesertanya adalah tentara yang andil dalam sebuah operasi militer, atau politisi yang bertaruh pada kemenangannya sendiri, pasar itu tentu tidak lagi mencerminkan kebijaksanaan kolektif. Ia mencerminkan keunggulan informasi segelintir orang atas jutaan pengguna lain yang tidak punya akses informasi internal dan sensitif.
Oleh karena itu, sah bila melabeli prediction market sebagai judi terselubung. Tapi, judi, mau terselubung ataupun tidak, tetaplah sesuatu yang, entah perlu diregulasi dengan sangat ketat, atau diberantas sekalian.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































