Menuju konten utama

Rupiah Melemah Dinilai Bisa Picu Migrasi Pengangguran ke Desa

Pelemahan rupiah yang terus menerus bisa memicu PHK massal di perkotaan dan para pekerja akan kembali ke desanya.

Rupiah Melemah Dinilai Bisa Picu Migrasi Pengangguran ke Desa
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye

tirto.id - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada inflasi di perkotaan, tetapi juga berpotensi memicu gelombang migrasi pengangguran dari kota ke desa. Kondisi ini dinilai bisa menjadi beban baru bagi kawasan pedesaan.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengingatkan bahwa efek pelemahan rupiah saat ini jauh lebih masif dibandingkan krisis 1998. Pasalnya, ekonomi Indonesia kini semakin terintegrasi dengan sistem global.

"Jangan dikira pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang Rp17.600 itu tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik di level desa," ujar Bhima saat dihubungi Tirto, Minggu (17/6/2026).

Menurutnya, masyarakat desa saat ini juga sangat bergantung pada barang-barang yang mengandung komponen impor. Mulai dari ponsel, kendaraan bermotor, komponen elektronik, hingga pupuk untuk sektor pertanian.

"Semua akan terpengaruh kalau rupiah makin lama makin melemah. Itu tinggal menunggu waktu sampai harga-harganya menekan masyarakat di pedesaan," ucapnya.

Ancaman paling serius, kata Bhima, adalah jika pelemahan rupiah berlanjut dan memicu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di perkotaan.

Para pekerja yang kehilangan mata pencaharian diperkirakan akan kembali ke kampung halaman di desa-desa. Dengan demikian, beban desa akan bertambah dampak ekonomi dan sosial yang muncul pun akan semakin meningkat.

"Desa itu akan dibanjiri oleh mereka yang jadi korban PHK di perkotaan, kembali lagi ke desa tapi dalam posisi tidak bekerja, tidak berpenghasilan. Kan akan jadi beban desa," ujarnya.

Bhima menyayangkan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai meremehkan tekanan rupiah saat ini ke wilayah pedesaan. Padahal, sambungnya, banyak negara lain justru mulai mempersiapkan stimulus dan skenario terburuk untuk melindungi warganya di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

"Sikap-sikap dan cara komunikasi seperti itu sangat-sangat membahayakan," tuturnya.

Sebelumnya, Prabowo sesumbar bahwa melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS yang melebihi Rp17.500, tidak akan berdampak ke masyarakat di desa. Ia bahkan menggampangkan kondisi ekonomi saat ini.

Menurutnya, selama Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, masih mampu tersenyum, kondisi negara akan baik-baik saja.

"Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja. Enggak perlu kalian khawatir. Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar, yang pusing yang itu, yang suka ke luar negeri," kata Prabowo saat peresmian operasionalisasi Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (16/5/2026).

Baca juga artikel terkait PELEMAHAN RUPIAH atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto