tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp17.475 pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (13/5/2026). Rupiah terapresiasi 53 poin atau 0,3 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.528.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan rupiah tidak lepas dari intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar offshore melalui instrumen Non Deliverable Forward (NDF). Operasi moneter yang dilakukan secara berkesinambungan di pasar New York, Asia, dan Eropa itu juga diiringi intervensi agresif di pasar valas domestik serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Di sisi lain, investor masih mencermati rencana pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada 14-15 Mei di Beijing.
Menurut Ibrahim, meski Trump menyatakan tidak membutuhkan bantuan China untuk mengakhiri perang dengan Iran, konflik di Timur Tengah tetap memberi dampak pada perekonomian AS.
Situasi tersebut, kata dia, berpotensi menekan posisi politik Trump di dalam negeri, seiring dampak penutupan Selat Hormuz yang telah mendorong kenaikan harga bahan bakar dan inflasi di Amerika Serikat.
Hal itu tercermin dari kenaikan harga konsumen AS sebesar 0,6 persen pada April 2026. Sementara itu, inflasi tahunan (CPI) naik menjadi 3,8 persen, tertinggi sejak pertengahan 2023, dengan inflasi inti juga berada di atas ekspektasi.
"Pasar kini menantikan data indeks harga produsen AS yang akan dirilis Rabu nanti untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai tekanan inflasi dan arah kebijakan Federal Reserve. Para pedagang telah mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga tahun ini," ucap Ibrahim.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id



































