tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp17.333 pada perdagangan hari ini, Kamis (7/5/2026). Rupiah menguat 54 poin atau 0,31 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.387.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan, menguatnya rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal.
Faktor internal menguatnya rupiah, potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) disebut kian terbuka seiring tekanan fiskal yang meningkat akibat lonjakan harga energi global. Di satu sisi, beban subsidi yang berpotensi melampaui asumsi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Ibrahim menuturkan, kondisi geopolitik global yang memanas membuat harga energi bertahan di level tinggi dalam waktu yang tidak singkat. Situasi itu dinilai mendorong kenaikan komponen crack spread, yakni selisih harga minyak mentah dan produk turunannya seperti BBM.
"Dengan crack yang masih tinggi, biaya subsidi bisa jadi lebih besar dari perhitungan pemerintah di APBN. Ini membuat kapasitas fiskal menjadi terkonstrain," katanya dalam keterangan yang diterima, Kamis (7/5/2026).
"Apabila harga minyak dunia, yang tercermin dari harga acuan seperti Brent, bertahan di level US$120 per barel dalam beberapa bulan, maka penyesuaian harga BBM menjadi sesuatu yang sulit dihindari," lanjut dia.
Ibrahim mengatakan, dalam kondisi tersebut, pemerintah sebenarnya memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi. Namun, opsi tersebut dinilai akan menjadi langkah terakhir mengingat dampaknya terhadap daya beli masyarakat.
Kata Ibrahim, dengan keterbatasan fiskal itu, langkah yang paling masuk akal dilakukan pemerintah adalah menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum tuntas, yakni deregulasi.
Selain itu, pemerintah juga dinilai tengah berupaya menjaga napas industri, terutama dalam meningkatkan produksi dalam negeri melalui hilirisasi. Jika bahan baku berbasis energi bisa diproduksi lokal, industri di Tanah Air bisa mengurangi ketergantungan importasi.
"Situasi yang terjadi saat ini menjadi waktu yang tepat untuk semua pihak berbenah. Termasuk menghadirkan energi yang lebih ramah lingkungan untuk digunakan masyarakat maupun sektor industri," urainya.
Ibrahim melanjutkan, faktor eksternal menguatnya rupiah, terdapar optimisme atas kemungkinan berakhirnya perang di Timur Tengah. Namun, Presiden AS, Donald Trump, mengatakan terlalu dini untuk pembicaraan tatap muka dengan Teheran.
Di satu sisi, seorang anggota parlemen senior Iran mengatakan, proposal AS lebih merupakan daftar keinginan daripada kenyataan.
Sementara itu, Iran sedang meninjau proposal perdamaian AS yang akan secara resmi mengakhiri perang.
Di satu sisi, Ibrahim berujar, fokus pasar bakal tertuju pada Klaim Pengangguran Awal dan pidato-pidato dari para pejabat Federal Reserve.
"Para pedagang juga bersiap untuk data laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan April, karena hal itu dapat menentukan langkah Fed selanjutnya terkait kebijakan suku bunga," ucap Ibrahim.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id




































