Menuju konten utama

Kurs Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp17.346 per Dolar AS

Tingginya harga minyak diproyeksikan dapat menambah tekanan neraca transaksi berjalan dan menggerus ketahanan fiskal.

Kurs Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp17.346 per Dolar AS
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.346 pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Rupiah melemah 20 poin atau 0,12 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.326.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, berujar melemahnya nilai rupiah disebabkan dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal melemahnya rupiah adalah harga minyak mentah dunia yang terus mengalami kenaikan. Kenaikan ini dinilai membuat kebutuhan dolar AS untuk pembelian minyak nentah sebesar 1,5 juta barel per hari semakin tinggi.

"Tingginya harga minyak diproyeksikan dapat menambah tekanan neraca transaksi berjalan dan menggerus ketahanan fiskal. Beban subsidi akibat kenaikan harga minyak juga diestimasikan bakal menekan anggaran pendapatan dan belanja negara [APBN] 2026," ucapnya dalam keterangan yang diterima Tirto, Kamis.

Kata Ibrahim, dalam asumsi APBN, harga minyak berada di 70 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak saat ini kembali menembus 120 dolar AS per barel. Dengan demikian, setiap kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi senilai Rp10 triliun-Rp13 triliun per tahun.

Selain itu, dampak kebijakan MSCI Inc. yang menahan aliran dana asing membuat mata uang rupiah tertekan di tengah kombinasi sentimen global, tekanan makro, dan dinamika domestik. Keputusan tersebut dinilai membuka potensi keluarnya dana asing atau outflow hingga Rp15 triliun.

Selain itu, Ibrahim menyebutkan Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi secara lengkap, yakni di pasar luar negeri melalui Non-Deliverable Forward (NDF), di pasar domestik melalui pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur, serta menjaga daya tarik instrumen rupiah seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"BI juga perlu menjaga komunikasi agar pasar yakin bahwa pelemahan rupiah tidak akan dibiarkan menjadi tidak teratur. Kenaikan suku bunga acuan sebaiknya menjadi pilihan terakhir, yaitu bila pelemahan rupiah makin cepat, inflasi impor mulai melebar, arus modal keluar membesar, dan instrumen pasar tidak lagi cukup menahan tekanan," urai Ibrahim.

Dia melanjutkan, faktor eksternal melemahnya rupiah adalah Presiden AS Donald Trump bersiap melakukan blokade laut berkepanjangan terhadap Iran.

Kekhawatiran atas skenario tersebut diperparah laporan bahwa beberapa eksekutif minyak AS terkemuka bertemu dengan Trump di Gedung Putih untuk membahas bagaimana membatasi dampak konflik terhadap Amerika.

Blokade laut yang berkepanjangan disebut berpotensi akan membuat Iran terus memblokir Selat Hormuz sebagai pembalasan. Blokade tersebut menunjukkan gangguan pasokan minyak global yang lebih besar.

"Lalu lintas kapal melalui Hormuz telah melambat sejak Iran memblokir jalur tersebut pada akhir Februari, mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Namun, sebuah laporan menunjukkan Trump mencari bantuan dari negara lain untuk membentuk koalisi internasional baru guna membuka kembali jalur air tersebut," tutur Ibrahim.

Dia berujar, Trump telah berulang kali meminta negara lain untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz, tapi sebagian besar negara menolak membantu. Trump disebut terlihat mengecam anggota NATO karena tidak membantu AS dan Israel secara militer selama konflik tersebut.

"Perundingan antara AS dan Iran sebagian besar gagal di tengah ketidaksepakatan mengenai aktivitas nuklir Iran. Meskipun Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, kedua pihak sebagian besar menolak upaya apa pun untuk menengahi pembicaraan," kata Ibrahim.

Sementara, Ketua The Feds Jerome Powell mengucapkan selamat kepada Kevin Warsh karena telah melewati tahap pertama dalam perjalanannya untuk menjadi penggantinya sebagai Ketua Fed.

Baca juga artikel terkait KURS RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi