tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.105 pada perdagangan Senin (13/4/2026). Rupiah turun tipis 1 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.104.
Sepanjang hari, pergerakan rupiah cenderung fluktuatif di kisaran Rp17.101-Rp17.140 per dolar AS, setelah dibuka di level Rp17.124 pada pagi hari. Secara tahun berjalan (year to date), rupiah tercatat telah melemah sekitar 2,55 persen.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik global serta fluktuasi harga komoditas energi.
Bokade AS terhadap Selat Hormuz, menyusul kegagalan perundingan perdamaian antara AS dan Iran pada akhir pekan, dinilai meningkatkan ketegangan dan mengancam stabilitas kawasan.
Di sisi lain, kebijakan moneter negara maju—terutama Amerika Serikat—yang diperkirakan akan tetap ketat lebih lama (higher for longer) berpotensi memicu volatilitas aliran modal di pasar keuangan negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, salah satu sentimen yang membebani rupiah adalah proyeksi terbaru Asian Development Bank (ADB) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada 2026, lebih rendah dari target pemerintah sebesar 5,4 persen.
"Proyeksi tersebut masih dalam rentang target inflasi Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5±1 persen. Meski prospek perekonomian Indonesia cenderung baik, ADB mewanti-wanti sejumlah risiko yang dapat mengganggu," tutur Ibrahim dalam rilis hariannnya.
ADB juga mendorong pemerintah untuk mempercepat reformasi struktural guna meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional. Langkah ini dinilai penting untuk meredam berbagai risiko yang dapat menekan perekonomian ke depan.
Selain itu, optimalisasi penerimaan negara serta efisiensi belanja menjadi faktor krusial dalam menjaga ruang fiskal agar tetap kuat menghadapi potensi guncangan ekonomi.
"Pertumbuhan lapangan kerja formal yang lebih kuat di sektor manufaktur sangat penting untuk mendukung transformasi struktural yang inklusif. Sementara sektor pertanian masih menyerap porsi besar tenaga kerja, sektor ini tetap ditandai oleh produktivitas yang rendah dan tingkat informalitas yang tinggi," jelas.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































