tirto.id - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (28/8/2026) bergerak relatif datar dengan kecenderungan menguat pada awal perdagangan. Rupiah dibuka pada level Rp17.729 per dolar AS. Tak hanya rupiah, IHSG juga kompak menguat pagi ini.
Rupiah dibuka menguat 0,09 persen atau sekitar 15 poin dibandingkan posisi penutupan perdagangan Kamis yang berada di level Rp17.744 per dolar AS.
Pada perdagangan Kamis, rupiah ditutup melemah 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.744 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.725 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengatakan pelemahan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat.
Indeks harga PCE dan PCE inti pada Juli masing-masing meningkat 0,2 persen secara bulanan, sesuai dengan ekspektasi atau konsensus pasar. Data tersebut menjadi perhatian investor karena PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi pertimbangan penting bagi Federal Reserve atau The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Rilis data PCE tersebut datang setelah Amerika Serikat sebelumnya menerbitkan data Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) untuk Juli yang relatif moderat. Kombinasi berbagai indikator inflasi tersebut membuat pasar terus memperhitungkan kemungkinan arah suku bunga The Fed.
Selain data inflasi, perhatian investor pada Jumat juga tertuju pada data klaim awal tunjangan pengangguran mingguan Amerika Serikat serta pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole.
Data ketenagakerjaan dan pernyataan pejabat The Fed dapat menjadi petunjuk mengenai kondisi perekonomian AS sekaligus arah kebijakan moneter bank sentral tersebut. Bagi pasar valuta asing, perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS sangat penting karena dapat memengaruhi arus modal global.
Pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh perkembangan terkait Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi salah satu jalur utama transportasi minyak dari kawasan Teluk menuju pasar global.
"Iran dan Oman sedang memfinalisasi perincian kesepakatan untuk mengendalikan Selat Hormuz," kata Ibrahim dikutip Antara, Kamis (27/8/2026).
Potensi dibukanya kembali jalur tersebut setelah pembicaraan antara Iran dan Oman dapat mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.
Jika akses Selat Hormuz kembali lebih normal, risiko gangguan pasokan minyak global dapat berkurang dan tekanan terhadap harga energi maupun inflasi global berpotensi mereda.
IHSG Menguat Pagi Ini ke Level 6.535,72
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan cukup signifikan pada perdagangan Kamis (27/8) dan melanjutkan sentimen positif pada pembukaan Jumat (28/8).
Pada Kamis sore, IHSG ditutup naik 116,06 poin atau 1,81 persen ke level 6.521,75. Penguatan juga terjadi pada indeks LQ45 yang naik 8,52 poin atau 1,35 persen ke level 641,07.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menjelaskan bahwa penguatan IHSG turut ditopang oleh aksi beli bersih (net buy) pada saham-saham berkapitalisasi besar. Investor dinilai mulai menganggap sebagian tekanan negatif sebelumnya telah tercermin dalam harga saham atau priced-in.
Dengan demikian, ketika situasi domestik terlihat lebih kondusif, sebagian investor mulai kembali melakukan akumulasi, khususnya terhadap saham-saham yang sebelumnya mengalami koreksi.
Pada perdagangan Jumat pagi, sentimen positif tersebut masih terlihat. IHSG dibuka naik 13,97 poin atau 0,21 persen ke level 6.535,72, indeks LQ45 meningkat 1,99 poin atau 0,31 persen menjadi 643,06.
Pembukaan yang menguat ini menunjukkan bahwa investor masih memiliki keyakinan terhadap pasar setelah kenaikan IHSG pada perdagangan sebelumnya.
Elandry menilai strategi investor saat ini cenderung beralih pada akumulasi selektif, terutama terhadap saham-saham likuid dan blue chip yang sebelumnya terkoreksi. Investor tidak secara sembarangan membeli seluruh saham yang mengalami kenaikan, melainkan memilih emiten yang memiliki fundamental kuat, likuiditas baik, dan masih memiliki katalis pertumbuhan kinerja.
"Jadi, penguatan hari ini lebih mencerminkan perbaikan risk appetite, tetapi tetap disertai pendekatan selektif," ujar Elandry.
Dari sisi prospek jangka pendek, IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan apabila kondisi domestik tetap stabil, nilai tukar rupiah tidak mengalami tekanan berarti, dan sentimen pasar global mendukung.
Namun, kenaikan IHSG yang relatif cepat juga membuka kemungkinan terjadinya profit taking, yaitu aksi investor merealisasikan keuntungan setelah harga saham mengalami kenaikan.
Karena itu, investor disarankan tidak mengejar saham yang sudah naik terlalu tinggi dan lebih memperhatikan emiten dengan fundamental solid, likuiditas yang baik, serta prospek kinerja yang masih terjaga.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id




































