Menuju konten utama

Iran Temukan Ladang Gas Baru dengan Cadangan Besar

Iran menemukan ladang gas baru di selatan Fars dengan cadangan lebih dari 200 miliar meter kubik. Temuan ini muncul di tengah konflik dengan AS.

Iran Temukan Ladang Gas Baru dengan Cadangan Besar
Citra satelit menunjukkan terminal minyak di Pulau Kharg, Iran, 25 Februari 2026. 2026 Planet Labs PBC/Handout via REUTERS
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di tengah perang dengan Amerika Serikat (AS), Iran menemukan ladang gas baru dengan cadangan yang besar. Hal ini telah diumumkan oleh Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad pada Minggu (23/8/2026).

Menukil AFP, ladang gas yang baru ditemukan itu menyimpan lebih dari 200 miliar meter kubik gas alam. Paknejad menyebut ladang ini ditemukan pada beberapa bulan pecahnya perang dengan AS dan di tengah kerusakan infrastruktur produksi energi negara itu.

“Cadangan gas baru ditemukan di selatan Provinsi Fars,” turut Paknejad dalam keterangannya, yang disiarkan televisi pemerintah pada Minggu.

Paknejad menyebut bahwa lebih dari 160 miliar meter kubik gas alam dapat diekstraksi dari ladang tersebut. Ia menggambarkan gas tersebut sebagai gas alam manis dengan sedikit kandungan hidrogen sulfida sehingga mampu menekan biaya operasi dan pengembangan produk nantinya.

Meskipun begitu, seturut Bloomberg, produksi komoditas gas alam dari ladang yang baru ditemukan ini diperkirakan baru akan terealisasi dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini seiring Teheran yang telah mengalami kerusakan fasilitas yang masif dalam perang dengan AS dan Israel.

Infrastruktur produksi gas, pabrik petrokimia, depot minyak bumi, hingga jalur transportasi telah menjadi target penyerangan AS dan Israel selama ini. Banyak di antaranya mengalami kerusakan akibat serangan udara.

Meski begitu, Paknejad menyebut bahwa penemuan ladang minyak yang baru ini akan “menjadi fondasi yang sangat kuat untuk masa depan” produksi energi Teheran.

Akan tetapi, masa depan yang cerah seperti digambarkan Paknejad itu belum tampak dalam konflik Iran dengan AS dan Israel. Teheran dan Washington sebelumnya telah menyepakati nota kesepahaman menuju perdamaian pada Juni lalu, namun sebelum sempat diresmikan hubungan kedua negara kembali memanas.

Iran dan AS kembali terlibat pertempuran pada Juli lalu. Korban jiwa akibat serangan pun bertambah.

Teheran bersikeras untuk membentuk otoritas baru terkait jalur pelayaran aman di Selat Hormuz. Perundingan atas hal ini dilaporkan telah terjalin antara Iran dengan Oman selaku negara yang dipisahkan oleh jalur vital perdagangan energi dunia itu.

Jalannya perundingan antara Iran dan Oman disebut berjalan lancar. Kedua negara dilaporkan telah memiliki kesepahaman tentang bagaimana Selat Hormuz akan dibuka kembali.

Akan tetapi, AS belakangan justru menunjukkan ketidakpuasannya terhadap perkembangan di selat tersebut. Presiden AS Donald Trump bahkan telah mengancam Oman yang selama ini jadi sekutu AS jika negara tersebut “menghalangi” kepentingan Washington terkait Hormuz.

Trump juga baru saja mengalihkan fokus konflik dengan Iran ke ranah ekonomi. Pekan lalu, Trump mengumumkan penerapan sanksi terhadap setiap negara yang bekerja sama dengan Iran. Presiden AS itu menyebut hal ini akan menjadi tekanan bagi ekonomi Iran dan berharap hal itu akan jadi pemicu Teheran menuruti keinginan Washington.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dipna Videlia Putsanra