Menuju konten utama

Riset: Masyarakat Menengah-Atas Mulai Ramai Beralih ke EV

Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pengeluaran bulanan berpengaruh terhadap preferensi konsumen dalam memilih jenis kendaraan listrik.

Riset: Masyarakat Menengah-Atas Mulai Ramai Beralih ke EV
Pengunjung melihat kendaraan listrik dalam pameran otomotif Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (29/4/2025). ANTARA FOTO/Fauzan/rwa.

tirto.id - Kelompok masyarakat menengah atas di Indonesia tercatat mulai banyak beralih dari kendaraan bensin ke listrik. Hal ini tercermin dari riset bertajuk Kajian Perilaku Konsumen untuk Percepatan Adopsi Kendaraan Listrik: Analisis Atribut Kendaraan, Kebijakan Pemerintah, dan Faktor Psikologis Konsumen yang dirilis pada Desember 2025.

Laporan yang disusun oleh Indef GTI bersama Drive Electric Campaign dan ViriyaENB tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengeluaran bulanan berpengaruh signifikan terhadap preferensi jenis kendaraan yang dipilih konsumen.

Pada kelompok dengan pengeluaran Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan, responden mulai meninggalkan kendaraan berbahan bakar bensin. Preferensi terhadap MPV, SUV, dan sedan bensin tercatat negatif signifikan.

Sebaliknya, minat terhadap SUV berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) justru menunjukkan tren positif, menandakan mulai tumbuhnya ketertarikan terhadap kendaraan listrik berukuran besar di segmen ini.

Sementara itu, pada kelompok pengeluaran Rp10 juta hingga Rp15 juta per bulan—yang merepresentasikan kelas menengah atas—terjadi pergeseran yang lebih jelas. Riset mencatat adanya preferensi positif signifikan terhadap MPV BEV dan SUV BEV, sementara minat terhadap MPV dan SUV berbahan bakar bensin menurun

Meski demikian, mereka masih mempertahankan penggunaan kendaraan bensin berukuran kecil seperti hatchback karena faktor kepraktisan.

"Artinya, kelompok ekonomi menengah-atas ini mulai melakukan pergeseran bertahap dari kendaraan bensin ke listrik, terutama di segmen keluarga (MPV) dan kendaraan premium (SUV)," demikian tulis laporan tersebut, dikutip Senin (27/4/2026).

Tren adopsi kendaraan listrik semakin menguat pada kelompok dengan pengeluaran Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan. SUV BEV menjadi pilihan dengan pengaruh positif signifikan, sementara MPV bensin terus ditinggalkan. Hal ini mengindikasikan bahwa kelompok berpenghasilan tinggi semakin condong pada kendaraan listrik, khususnya di segmen kendaraan besar dengan teknologi lebih canggih.

Namun, pola berbeda terlihat pada kelompok dengan pengeluaran di atas Rp20 juta per bulan. Pada segmen ini, hampir seluruh jenis kendaraan, baik listrik maupun bensin, menunjukkan koefisien negatif signifikan.

Riset tersebut menilai kondisi ini sebagai indikasi saturasi preferensi, di mana keputusan pembelian kendaraan tidak lagi didorong oleh faktor efisiensi energi atau harga.

"Dengan kata lain, segmen ini menunjukkan saturasi preferensi, di mana keputusan membeli kendaraan tidak lagi didorong oleh efisiensi energi atau harga, tetapi oleh faktor lain seperti gaya hidup dan simbol status," terang laporan tersebut.

Baca juga artikel terkait PAJAK KENDARAAN LISTRIK atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana