tirto.id - Jemaah haji Indonesia gelombang pertama terus berdatangan di Madinah sejak 22 April lalu. Banyak cerita unik hingga momen haru yang muncul sejak jemaah menginjakkan kaki di Bandara Internasional Mohammad bin Abdulaziz (AMAA).
Salah satunya cerita petis. Petis adalah komponen dalam masakan Indonesia yang dibuat dari produk sampingan pengolahan makanan berkuah. Petis biasanya dibuat dari ikan atau udang.
Gara-gara membawa bumbu dapur tradisional tersebut, sebuah koper milik jemaah terpaksa dibongkar oleh petugas otoritas bandara karena terdeteksi membawa barang yang dianggap mencurigakan melalui sistem pemindaian X-ray.
Setelah diperiksa secara manual, barang yang memicu kecurigaan tersebut ternyata adalah petis. Namun, jemaah tersebut membawanya dalam jumlah yang cukup banyak.
Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara PPIH Arab Saudi 2026, Abdul Basir, menjelaskan, tindakan pembongkaran koper tersebut bukan semata-mata karena jenis barangnya. Melainkan, karena cara pengemasannya yang tidak lazim di mata petugas keamanan bandara Arab Saudi.
"Ada satu jemaah yang kopernya terpaksa dibongkar oleh petugas X-ray karena kedapatan membawa petis dalam jumlah yang banyak. Dikemas dalam kemasan yang menurut mereka [petugas] mungkin terlalu mencurigakan," kata Basir di Bandara Madinah, Senin (27/4/2026).
Menurut dia, kepadatan dan bentuk bahan organik seperti petis jika dibungkus secara berlapis-lapis dapat memberikan citra yang ambigu pada mesin X-ray, sehingga memicu protokol pemeriksaan manual guna memastikan keamanan.
Meski sempat tertahan, Basir memastikan bahwa barang tersebut tidak disita. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik dan diberikan penjelasan oleh petugas haji Indonesia, pihak bandara akhirnya mengizinkan jemaah tersebut membawa kembali bumbu penyedapnya.
"Karena petis itu memang kategori makanan biasa, kategori makanan tradisional, oleh petugas X-ray diberikan [dikembalikan] setelah ada penjelasan dari kita," kata.
Saat ditegaskan apakah pembongkaran tersebut dipicu oleh jumlah atau kemasan, Basir menegaskan bahwa faktor kemasan adalah alasan utamanya.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyampaikan sebanyak 88 kelompok terbang (kloter) dengan total 34.657 jemaah telah diberangkatkan dari berbagai embarkasi di Indonesia. Data tersebut didasarkan pada data yang dihimpun hingga Minggu (26/4/2026) pukul 24.00 WIB.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaf, mengatakan, proses penyelenggaraan haji berjalan tertib, lancar, dan terus dioptimalkan. Proses pemberangkatan berlangsung sesuai jadwal dengan dukungan koordinasi lintas instansi.
“Alhamdulillah, hingga hari ketujuh operasional haji, seluruh proses berjalan dengan tertib dan lancar. Kami memastikan jemaah mendapatkan layanan terbaik sejak keberangkatan hingga di Tanah Suci,” ujar Maria.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































