tirto.id - Indonesia Investment Authority (INA) meraih skor 92 persen atau 23 dari 25 elemen penilaian dalam Global SWF Governance, Sustainability and Resilience (GSR) Scoreboard 2026. Capaian tersebut menempatkan sovereign wealth fund (SWF) Indonesia itu sebagai peringkat kedua di Asia, meningkat dari skor 68 persen pada 2025, setelah Temasek Singapura.
Chief Legal Counsel INA, Arisia Pusponegoro, mengatakan skor GSR menjadi salah satu indikator yang turut diperhatikan investor global ketika menilai calon mitra investasi.
“Kalau investor global itu menyaring bagaimana sih cara melihat mitra investasi, mereka akan melihat di sini juga (GSR Score),” kata Arisia dalam diskusi media INA Investment Insights Series for GSR Scoreboard 2026 di kantor INA, Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Menurut Arisia, sebagian besar mitra investasi INA merupakan investor jangka panjang. Karena itu, mereka tidak hanya mempertimbangkan kondisi makro suatu negara, tetapi juga menilai fundamental proyek yang ditawarkan serta kredibilitas lembaga yang menjadi mitra investasi.
“Yang mereka lihat tentu spesifik project-nya. Mereka melihat secara fundamental satu project itu memang commercially viable. Yang kedua mereka melihat kita sebagai mitra investasi ini memang a credible partner yang bisa untuk jangka panjang,” ujarnya.
Dalam GSR Scoreboard 2026, INA memperoleh nilai 9 dari 10 pada aspek governance, 9 dari 10 pada sustainability, serta nilai sempurna 5 dari 5 pada aspek resilience. Penilaian tersebut dilakukan Global SWF terhadap 200 state-owned investors yang terdiri atas 100 sovereign wealth funds dan 100 public pension funds berdasarkan informasi yang tersedia untuk publik.
Meski demikian, Arisia menegaskan capaian skor 92 persen bukan menjadi tujuan akhir bagi INA. Menurutnya, GSR merupakan tolok ukur perkembangan institusi sekaligus indikator untuk terus memperkuat tata kelola.
“GSR score ini buat kami is a good indication ya, tapi is not, bukan tujuan utama,” ucapnya.
Ia mengatakan fokus INA saat ini bukan mengejar skor sempurna, melainkan mempertahankan tata kelola yang telah berjalan baik dan terus melakukan penyempurnaan pada aspek yang masih perlu ditingkatkan.
“Goalnya bukan sekedar memenuhi 2 area for improvement ini, dan akhirnya bisa dapet 100 bukan begitu ya. Goal kita adalah pertama tentu mempertahankan governance yang saat ini kita sudah ada, dan mengimprove yang memang bisa kita improve,” tutur Arisia.
Penulis: Nanda Surya
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































