Menuju konten utama

Bank Baroda di India Diretas, Data Nasabah 1TB Bocor di Dark Web

Bank Baroda mengalami peretasan yang berawal disusupinya surel karyawan. Data terkait nasabah berukuran hampir 1TB ditawarkan ke pasar gelap.

Bank Baroda di India Diretas, Data Nasabah 1TB Bocor di Dark Web
Bank Baroda di india. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bank Baroda yang dikelola oleh Pemerintah India dilaporkan telah diretas pada akhir pekan lalu. Akibatnya, hampir 1 terabyte data pribadi nasabah bocor di dark web.

Seturut Reuters, Bank Baroda membuat pernyataan pada Senin (27/7/2026) bahwa mereka telah memulai penyelidikan forensik untuk merespons peretasan. Dalam keterangannya, pihak bank menyebut telah bekerja sama dengan otoritas terkait untuk menangani masalah ini.

Pendiri Cashless Consumer dan peneliti keamanan siber, Srikanth L., menyebut data para nasabah Bank Baroda telah dipasarkan di dark web. Data tersebut diiklankan sebagai cache dan berisi lebih dari 700 gigabyte data.

Data yang bocor itu terdiri dari berbagai jenis data pribadi para nasabah. Beberapa di antaranya adalah rincian nasabah, dokumen identifikasi, surat pinjaman, hingga catatan audit internal.

Menukil The Economic Times, dokumen nasabah yang diretas itu telah beredar di dark web sejak Jumat (24/7). Kelompok peretas bernama TripleX dilaporkan menjadi pihak yang telah mengklaim bertanggung jawab atas penyebaran data tersebut, kendati belum ada verifikasi independen atas klaim tersebut.

Belum jelas berapa banyak pelanggan yang terkena dampak peretasan ini. Bank Baroda sendiri tercatat memiliki lebih dari 100 juta nasabah secara global.

Berawal dari Email Karyawan yang Diretas

Dalam keterangannya pada Senin, pihak Bank Baroda menyebut kebocoran data ini dipicu oleh peretasan satu surel (email) milik karyawan. Peretasan ini kemudian berkembang menjadi “akses tidak sah ke data tertentu”.

Akan tetapi, pihak bank memastikan peretasan tidak berdampak pada sistem perbankan utama mereka. Oleh karenanya, kata mereka, hal ini tidak berdampak pada uang nasabah yang tersimpan.

“Sistem perbankan utama tidak diakses dan tetap aman,” tulis pihak Bank Baroda.

Pihak bank juga menyebut berhasil mendeteksi upaya peretasan dengan cepat. Oleh karenanya, peretasan itu telah diatasi dan kini menjadi subjek penyelidikan forensik bersama otoritas keamanan siber Pemerintah India.

Bank Baroda merupakan bank sektor publik terbesar kedua di India setelah State Bank of India (SBI). Berbasis di Gujarat, Bank Baroda semula merupakan bank swasta yang didirikan oleh Maharaja Baroda Sayajirao Gaekwad III pada 1908. Bank ini kemudian dinasionalisasi oleh Pemerintah India pada 1969.

Dalam perkembangannya, bank ini berkembang mendunia. Cabang dari Bank Baroda tersebar di berbagai negara, termasuk Afrika Selatan, Hong Kong, Botswana hingga Malaysia dan Singapura.

Sementara itu, peretasan terhadap Bank Baroda terjadi di tengah meningkatnya risiko keamanan siber bagi perusahaan-perusahaan besar dan lembaga keuangan di dunia.

Pada bulan Juni lalu, data desain dan komponen yang terkait dengan merek Apple dan Tesla bocor di dark web. India juga baru saja mengalami peretasan pada awal Juli, ketika kelompok ransomware bernama World Leaks mengunggah dokumen terkait pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di negara itu.

Baca juga artikel terkait KASUS PERETASAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar